
"Tolonggggg,,, tolonggggggg" suara teriakan terdengar dari dalam kamar Clara.
"Nona Clara ada apa?" Raf yang sedang berada di kamarnya langsung reflek menghampiri gadis itu.
"Tuan Raf tolong aku, itu ada kecoa di kolong tempat tidur" Clara yang melihat Raf masuk ke dalam kamar tiba-tiba saja lompat ketubuh pria itu dan meminta gendong dengan posisi seperti anak koala kepada induknya.
"Eh nona!" Raf yang diserang secara tiba-tiba pun menjadi terkejut.
"Ada apa?" sepersekian detik kemudian, Menta dan Runi yang baru selesai mencuci piring bekas makan malam pun menghampiri sumber suara ribut itu dan menyaksikan dua manusia yang sedang saling menempel satu sama lain dengan erat.
"Sayang" Raf yang melihat Menta muncul, seketika itu juga langsung melepaskan Clara begitu saja karena panik.
"Awwww" teriak gadis itu saat terhempas ke lantai.
"Nona Clara, apa anda baik-baik saja? ada apa sebenarnya?" Runi yang melihat raut wajah Menta langsung berubah dan membaca situasinya tidak kondusif pun kemudian mencoba mencari tau faktanya.
"Itu ada kecoa di kolong tempat tidurnya, tadi saat aku masuk tiba-tiba nona Clara melompat ke gendonganku karena ketakutan!" Raf mencoba menjelaskan duduk persoalannya kepada sang istri.
"Kalau begitu biar aku ambilkan pembasmi serangga" Runi sudah paham.
"Kalian kembalilah ke dalam kamar, biar aku yang menangani ini" Runi memberi kode kepada Raf untuk membawa Menta yang sudah berwajah masam ke dalam kamar mereka agar situasinya tidak semakin rumit.
"Iya baiklah, terima kasih ya Runi, ayo sayang" Raf kemudian menuntun Menta yang masih diam seribu bahasa.
..........
"Sayang, kau kenapa sih dari tadi diam saja?" Raf memeluk istrinya yang tidur memunggunginya.
"Ck jangan peluk-peluk!" ibu hamil itu menepis tangan suaminya yang berada di pinggang.
"Kok gitu sih sayang" Raf berusaha membujuk.
__ADS_1
"Sana peluk saja tuh nona Clara, gendong sekalian kalau perlu!" mode ngambeknya terlihat jelas.
"Kenapa harus peluk dan gendong dia?" Raf tau kalau istrinya sedang cemburu.
"Gak usah sok nanya, buktinya tadi aja kalian gitu, kalau aku sama Runi gak dateng pasti tadi lama-lama bisa lebih dari itu kan!?" omelnya.
"Jadi ceritanya nyonya Rafael Anderson lagi cemburu nih?" Raf berbisik ditelinga sang istri.
"Tau ah!" sambil menarik selimut menutupi wajah.
"Hey sayang, jangan marah dong, aku minta maaf ya kalau membuatmu kecewa, sungguh tadi itu diluar kendaliku, saat aku masuk untuk melihat kondisinya, dia tiba-tiba saja lompat kearahku dan bergelayut seperti itu, sungguh aku tidak bermaksud membuatmu sedih dan marah!" meskipun akan sulit membujuk Menta yang sedang marah, namun hati kecil Raf sesungguhnya cukup senang karena melihat sang istri cemburu kepadanya, yang artinya Menta sangat mencintainya.
"Maaaa,,, mama sayanggggg" Raf berusaha tidak mau menyerah meskipun Menta sudah tidak meresponnya lagi.
"I love you Mentari Putri Angkasa Anderson" pada akhirnya Raf hanya bisa mengucapkan kata cinta saja karena Menta benar-benar sudah diam seribu bahasa.
..........
"Menta ngambek" jawabnya dengan lesu.
"Apa karena semalam?" Runi bertanya.
"Iya" angguk Raf saat mereka sedang berada di ruang kerja para pemimpin proyek Anderson dan Putra Angkasa. Karena tempat yang terbatas, maka mereka berlima pun terpaksa harus bekerja di dalam satu ruangan yang sama setiap harinya.
"Kenapa lagi dengan kakak ipar?" Rich yang sudah berkali-kali melihat Menta ngambek selama ngidam jadi seperti sudah terbiasa.
"Semua gara-gara kecoa" kata Raf.
"Hah kecoa!?" Rich tidak paham.
"Iya kecoa" kemudian Raf menceritakan kronologi kejadian yang dialaminya semalam.
__ADS_1
"Hemmmm, jadi dugaanku benar ya" Rich manggut-manggut.
"Dugaan? dugaan apa?" Raf masih belum paham.
"Aku kan sudah pernah bilang kalau Clara itu suka padamu, dia itu seperti sedang mengincarmu!" Rich mengingatkan kakak sepupunya.
"Ck, yang benar saja, aku ini sudah menikah, istriku pun sedang hamil besar, masa iya dia seperti itu!?" Raf masih tidak mau berburuk sangka.
"Dengar ya, aku ini sudah paham akan wanita, aku tau mana wanita yang mendekati kita dengan niat baik atau memang karena ada maunya, jadi dengan melihat gelagatnya saja aku sudah tau kalau dia itu ada maksud tertentu denganmu!" kata Rich sok profesional.
"Cih, dasar playboy!" Runi malah mengejek Rich.
"Sayang jangan gitu dongggg" omongan Rich seperti senjata makan tuan.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Raf.
"Menghidarlah darinya, kalau memang tidak penting lebih baik tidak usah berinteraksi dengannya!" Rich yang sudah tobat dari sifat casanovanya memberi nasehat kepada sang kakak.
"Tapi kan tetap saja akan sering berinteraksi, apa kau lupa kalau kita satu proyek dan satu rumah dengannya?" Raf mengingatkan.
"Iya memang benar, tapi coba deh kau lebih jaga jarak, misalnya jika ada pekerjaan biar aku, Runi, Haris atau Burhan saja yang kerjakan bila memang harus bersinggungan dengannya" Rich seperti konsultan cinta.
"Benar tuan, biar kami saja yang kerjakan, anda jangan bikin nyonya ngambek lagi" Burhan mengangguk setuju dengan usul Rich.
"Iya, anda lebih baik kerjakan tugas internal saja, bagian lapangan bersama tim mereka biar kami saja yang tangani" Haris pun merasa kasihan dengan Raf.
"Kalau aku boleh usul, lebih baik kakak dan Menta mengungsi tinggal di rumah dinas saja dulu untuk sementara waktu, biar mereka aku yang urus di paviliun desa" Runi memberi solusi.
"Ide yang bagus, aku rasa itu cukup bisa membuatmu menjauh darinya" Rich setuju dengan usul Runi.
"Begitu ya, baiklah nanti aku bilang sama Menta deh, terima kasih ya karena kalian sudah mau membantuku" Raf pun merasa sedikit lega karena memiliki saudara dan rekan kerja yang sangat mendukungnya.
__ADS_1