
"Kalian lagi ngapain?" Raf yang baru selesai mandi sore kemudian duduk di depan TV sambil menyaksikan Menta dan Runi yang sedang sibuk menulis rincian anggaran untuk acara pertunangan kedua teman mereka itu.
"Ini lo pa, kita lagi mendata para pedagang keliling yang nanti dagangannya akan dipesan buat jadi menu konsumsi diacara pertunangan" jawab Menta dengan tetap fokus merinci biaya pengeluaran mereka.
"Loh mama gak pesen catering saja biar lebih simple? kalo pesan satu persatu gini kan jadi ribet ma!" Raf terkejut.
"Enggak pa, kita memang sengaja pesan dari warga desa yang biasa berjualan makanan, selain rasanya lebih merakyat karena familiar dengan lidah warga desa, kita juga sengaja pesan dari mereka untuk membantu melariskan dagangannya, ya itung-itung bagi-bagi rejeki lah!" kata sang istri menjelaskan.
"Memang apa saja menunya?" pria tampan itu penasaran dengan konsep sang istri.
"Ada bakso, mie ayam, soto, somay, batagor, cilok, bubur ayam, es buah, es dawet, es cincau, bajigur, sama bandrek" Runi yang memegang list menunya menjabarkan satu-persatu.
"Mama juga sudah telpon Sera untuk mengirimkan beberapa gaun dari butiknya untuk dipakai oleh Karina dan Rini. Katanya besok dua orang stafnya dari butik akan tiba disini untuk membantu fitting" jelas ibu hamil itu lagi.
"Istriku ini memang paling the best deh" memuji sambil memeluk istrinya dari belakang.
"Ehemmmm" Runi yang seperti obat nyamuk berdeham.
"Kau kenapa?" Raf yang paham kode dari Runi bertanya dengan wajah usil.
__ADS_1
"Tidak, sepertinya disini banyak nyamuk ya" gadis itu menepuk-nepuk tangannya seperti sedang membunuh nyamuk.
"Ohhhhh, aku kira kau iri, kalau iri biar aku panggilkan Rich ya?" suami dari Menta itu semakin menggoda Runi.
"Sudah ah aku lelah, mau rebahan dulu sebelum makan malam nanti" mendengar nama Rich disebut membuatnya malas melanjutkan kegiatannya bersama Menta.
"Loh kok pergi? kalau kau pergi, lalu ini bagaimana?" Menta protes kepada sahabatnya.
"Kan ada suamimu, suruh saja dia yang bantu!" jawab gadis cantik itu sambil berlalu begitu saja.
"Runi, heyyy, ini tanggung tau!" ibu hamil itu berteriak, namun tidak digubris oleh yang diteriaki.
"Ihhh papa sih, Runi jadi ngambek tuh!" Menta memukul lengan suaminya karena kesal ditinggal oleh Runi saat pekerjaan mereka masih belum selesai.
"Iyalah papa salah, udah tau Runi belum nikah, papa malah sok-sokan romantis di depan dia, pake acara nyebut nama kak Rich pula!" gerutu sang ibu hamil.
"Ya mana papa tau kalau Runi sensitif begitu!" hanya mengangkat bahu sambil nyengir kuda.
"Ck, tau ah sebel!" dengan terpaksa Menta melanjutkan persiapannya seorang diri.
__ADS_1
..........
"Bagaimana dengan yang ini?" Runi memilih gaun untuk Karina dan Rini.
"Sepertinya bagus ya?" Menta memegang gaun berwarna peach.
"Ini bahkan terlalu bagus, akan sangat mencolok kalau aku yang pakai, apalagi kita ini ada di desa yang hidupnya serba sederhana!" Karina menolak pilihan Runi.
"Iya benar, kan kita hanya tamu undangan saja, masa harus pakai baju yang mewah begini sih? nanti calon pengantinnya bisa kalah eksis!" Rini juga menolak.
"Ih apa sih, ini sederhana kok, kalian saja yang kurang update!" Runi berusaha meyakinkan keduanya.
"Pokoknya kalian cocok pakai ini, sudah ya aku pilihkan yang ini saja!" sang ibu hamil kemudian memberi kode kepada dua staf butik milik Sera untuk memisahkan dua gaun itu untuk Karina dan Runi.
"Lalu kalian sendiri pakai apa?" Karina merasa aneh dengan kedua temannya.
"Iya, masa hanya kami yang pilih?" Rini mengangguk.
"Aku ini sering pesta, gaunku sudah banyak menumpuk di lemari, jadi tidak perlu beli lagi, tinggal minta dibawakan saja dari rumah!" alasan Runi masuk akal.
__ADS_1
"Kalau aku masih diproses, kau tau kan sekarang perutku sudah buncit? jadi tidak ada yang muat, harus pesan dulu!" Menta juga memberi alasan yang cukup meyakinkan.
Dengan mudahnya Karina dan Rini pun percaya pada alasan keduanya, padahal faktanya memang hanya mereka berdua saja yang nantinya memakai gaun mewah itu, sementara Menta dan Runi hanya akan memakai gaun pesta biasa saja.