
Lima bulan telah berlalu, setelah drama ngidam usai. Kini Menta sudah kembali seperti sedia kala. Ia sudah mulai aktif bekerja seperti biasa lagi di puskesmas desa. Hanya tinggal kebiasaan malasnya saja yang belum banyak berubah yaitu ia masih jarang merias dirinya dengan make up. Bahkan para sesepuh desa yang cukup dekat dengan Menta jadi banyak yang menebak-nebak jika bayinya berjenis kelamin laki-laki karena sang ibu sangat malas berdandan.
"Menta ayo kita makan malam" Runi yang baru selesai memasak bersama dengan Karina dan Rini di dapur paviliun desa, memanggil ibu hamil itu yang sejak pulang dari puskesmas tidak keluar kamar sama sekali.
"Iya baiklah" jawab Menta dari dalam kamar.
"Ayo" Karina menggandeng tangan dokter cantik itu.
"Mana Rini?" tanya Menta sambil mencari sang perawat.
"Lagi di kamar mandi sebentar" jawab Runi.
"Ohhhh" ibu hamil itu ber oh ria.
Selama beberapa bulan belakangan ini, tepatnya sejak kepulangan keluarga besar Anderson dan Putra Angkasa, baik Karina maupun Rini memang lebih sering tinggal di paviliun desa ketimbang di rumah dinas mereka untuk menemani Menta agar tidak kesepian. Biasanya mereka berdua akan tidur bersama di kamar Runi untuk sekedar bergosip atau bercanda hingga kantuk tiba. Menta yang kamarnya bersebelahan dengan kamar Runi pun biasanya akan ikut berkumpul hingga Raf memanggilnya untuk kembali ke kamar mereka.
..........
__ADS_1
"Apa besok tim dari perusahaan entertain jadi datang untuk mulai bekerja?" Raf bertanya saat mereka sedang makan malam bersama.
"Iya tuan, besok nona Clara dan juga timnya akan tiba sekitar pukul sebelas siang" angguk Burhan.
"Besok aku yang akan menyambut nona Clara dan menjadi tour guidenya" kata Runi yang memang menjadi satu-satunya pemimpin perempuan di proyek itu.
"Mereka akan mulai memetakan areanya sesuai dengan kebutuhan unit usaha setelah makan siang" Haris menambahkan.
"Bagus, kalau begitu tolong besok kalian berdua bantu mereka untuk melakukannya" kata Raf kepada Haris dan Burhan yang bersemangat menjalankan proyek ini.
"Ngomong-ngomong, bukankah Clara itu gadis yang dari dulu selalu mengincarmu ya Raf?" tanya Rich kepada kakak sepupunya.
"Dasar pria tidak peka, jelas-jelas dari proyek yang sebelum ini dia selalu mendekati dan mencoba menarik perhatianmu!" Rich mencemooh kakak sepupunya yang memang selalu bersikap dingin pada semua orang selama lima tahun belakangan saat berpisah dari Menta.
"Mana aku peduli, bagiku satu-satunya wanita yang aku pedulikan adalah ratuku tercinta ini" Raf yang sudah tergila-gila setengah mati kepada sang istri tidak sungkan-sungkan mengumbar rasa cintanya itu di depan semua orang.
"Ck dasar pria aneh!" Rich mencibir Raf.
__ADS_1
"Menurutku kak Raf itu bukan pria aneh, tapi justru dia itu pria sejati yang selalu berkomitmen hanya pada satu wanita saja. Bahkan ketika di depannya disuguhi oleh ribuan wanita cantik sekali pun, hatinya tidak akan goyah sama sekali!" Runi memuji Raf.
"Aku juga begitu kok, dihati dan pikiranku hanya ada kau seorang saja, sungguh!" Rich yang merasa tersindir oleh ucapan Runi membela diri.
"Cih!" bukannya tersanjung, Runi malah berdecih dan mencibir Rich.
"Kalau kau tidak percaya belah saja dadaku!" Rich membusungkan dada ke arah Runi untuk berusaha membuktikan perkataannya.
"Oya, ngomong-ngomong selama mereka di sini nanti mereka akan tinggal bersama dengan kita ya" Runi yang tidak peduli dengan gombalan Rich kemudian mengembalikan pembicaraan mereka ketopik semula.
"Oke, ada berapa orang jumlahnya?" tanya Raf yang berusaha tetap fokus pada topik pembicaraan, meskipun sesungguhnya ia kasihan melihat adik sepupunya diacuhkan oleh Runi.
"Perempuan satu, laki-laki dua" jawab Haris.
"Berarti kamarnya tidak kurang ya?" Raf menghitung jumlah kamar yang akan dipakai oleh tamu mereka.
"Iya tuan, nanti yang dua orang laki-laki akan berada di area kamar khusus laki-laki. Kebetulan kan masih ada kosong dua kamar lagi, karena yang tiga kamar lainnya sudah dipakai tuan Rich, Haris dan saya. Lalu yang perempuan akan berada di area kamar perempuan bersama anda, nyonya Menta, nona Runi, serta Karina dan Rini" kata Burhan.
__ADS_1
"Oke" angguk Raf lagi.
Suasana makan malam pun diselingi oleh obrolan seputar proyek dua kerajaan bisnis itu. Sementara Menta, Karina dan Rini yang tidak paham hanya diam menyimak saja.