Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin

Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin
Hukuman Untuk Paula


__ADS_3

"Ma" Raf meraih pinggang sang istri saat wanita cantik itu merapikan pakaiannya sebelum berangkat bekerja.


"Hemmmm" Menta menjawab sambil tetap sibuk menyimpulkan dasi suaminya.


"Nanti papa ijin ya mau ikut persidangan Paula" kata Raf sambil mengelus pipi mama Raguel.


"Papa mau kesana?" tatapnya kearah sang suami.


"Iya, papa ingin memastikan bahwa dia mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatan yang sudah dilakukannya" pria itu berkata dengan sungguh-sungguh.


"Ya sudah terserah papa saja, bagaimana baiknya" kata Menta kemudian.


"Mama gak cemburu kan?" bertanya sambil menarik dagu Menta dan kemudian mengecupnya dengan lembut.


"Enggak, lagian kalo papa masih mau sama dia ya kebangetan, berarti papa lupa sama anak istri di rumah!" Menta memang sudah yakin seratus persen kepada cinta suaminya.


"Makasih ya ma, sudah mau percaya sama papa, papa janji akan menjaga kepercayaan mama dengan baik" kemudian mengecup bibir lagi, namun kali ini lebih dalam dan menuntut.


"Udah ah, udah siang, nanti papa terlambat loh ke kantornya!" Menta sudah melihat gelagat tidak baik dari sang suami.


"Tapi papa masih kangen sama mama" rajuk pria tampan itu sambil mengendusi leher.


"Ihhh kebiasaan dehhh, nanti aja pulang kerja!" kemudian menepuk dada sang suami dengan manja.


"Tapi janji ya nanti!?" sambil menyodorkan jari kelingking.


"Iya, sudah sana berangkat, nanti telat!" menjawab sambil mengaitkan jarinya dengan jari sang suami.


"Oke, i love you mama sayang" ia kembali memberikan kecupan dikening.


"I love you too papa sayang" balas Menta.

__ADS_1


..........


"Apa kau yakin akan pergi ke persidangan itu?" Rich memicingkan matanya saat melihat Raf bersiap-siap.


"Tentu saja, aku ingin melihat gadis itu membusuk dipenjara!" Raf sudah sangat geram dengan semua ulah mantan kekasihnya itu.


"Kalau begitu biar aku temani" Rich yang khawatir Raf berbuat nekad kepada Paula, kemudian menyodorkan dirinya untuk menemani.


"Terima kasih ya" suami Menta itu sangat bersyukur karena memiliki adik sepupu yang juga merangkap sahabatnya.


"Jangan lupa traktirannya, tidak ada yang gratis di dunia ini!" kata Rich sambil tersenyum jahil.


"Hissss dasar kau ini matre sekali!" mencibir namun dengan senyuman terkembang.


"Ya sudah ayo kita jalan, aku sudah tidak sabar ingin melihat reaksi wanita gila itu saat mendengarkan vonisnya nanti" kata Rich.


"Iya, ayo!" Raf kemudian merangkul bahu Rich dan berjalan bersama menuju lift.


..........


"Raf aku mohon bantu aku" gadis itu berteriak memanggil nama mantan kekasihnya yang duduk dibangku saksi.


"Itu hukuman yang setimpal untukmu Paula, sejak awal kau memang tidak pernah berubah, hanya ini satu-satunya cara agar kau jera!" Raf tidak ingin lagi terlibat terlalu jauh dengan wanita itu.


"Raf aku janji akan berubah, aku tidak akan mengganggu kau dan istrimu lagi, tapi aku mohon lepaskan aku!" ratapannya sangat menyedihkan.


"Sudah terlambat Paula, ini adalah akibat yang harus kau tuai setelah kau menabur kejahatanmu!" Raf benar-benar tidak mau memberi celah lagi kepadanya.


"Brengsek kau Raf!" pada akhirnya hanya makian yang keluar mulut wanita itu setelah permohonannya tidak dihiraukan oleh Raf.


"Selamat tinggal Paula, nikmatilah hidupmu!" kemudian Raf bersiap berdiri.

__ADS_1


"Ayo Rich!" ia mengajak adik sepupunya keluar dari ruang persidangan.


"Bye Paula!" Rich dengan gaya usilnya sengaja mengejek Paula sebelum keluar menyusul sang kakak.


"Brengsek kalian Anderson!" teriakan Paula membahana memenuhi ruang persidangan. Ia yang sudah sangat murka tidak lagi peduli dengan semua orang yang menatapnya dengan tatapan jengah.


..........


"Apa kau lihat tadi bagaimana reaksi gadis itu!?" Rich benar-benar senang melihat tontonan seru secara langsung.


"Tentu saja, dia memang berhak mendapatkan ganjaran yang setimpal!" Raf tersenyum puas.


"Gila benar dia, padahal hidupnya sudah sangat mapan, aku rasa kalau saja dia tidak gegabah, hidupnya jauh akan lebih baik dari sekarang!" Rich tidak habis pikir.


"Itulah buah dari ketamakan, dia tidak pernah puas dengan apa yang sudah dimilikinya. Andaikan dulu dia tidak menghianatiku dengan banyak pria, mungkin aku masih bisa memaafkannya dan menerimanya, namun dia memang serakah dan tidak pernah puas hanya dengan satu laki-laki saja, makanya dia selalu mencari yang lebih!" Raf mengingat masa lalu.


"Apa kau menyesalinya?" Rich bertanya dengan serius.


"Tentu saja tidak, buat apa aku menyesal? aku sudah bahagia dengan istri dan anakku sekarang. Bagiku dia tidak lebih dari sekedar hama pengganggu saja!" jawab Raf dengan sangat yakin.


"Ohhhh aku kira kau menyesal berpisah dengannya" kata mantan casanova itu sambil mencebikan bibirnya.


"Ck, jangan berasumsi yang aneh-aneh ya kau!" kata Raf dengan tatapan menyalak.


"Kenapa? kau takut aku adukan sama kakak ipar ya!?" wajah jahil tersungging.


"Tidak, enak saja!" tapi kecemasan jelas terpancar dari wajah Raf. Ia sangat takut jika Menta merasa cemburu lagi dengan kisah masa lalunya bersama Paula.


"Ahahahahaha, dasar kau pengecut ahahahahaha" tertawa puas.


"Diam kau brengsek, menyetir saja yang benar!" Raf menghardik sang adik sepupu.

__ADS_1


"Hahahahahahah" sementara yang dihardik tidak peduli dan tetap saja menggoda sampai puas.


__ADS_2