
Setelah beberapa hari di rumah sakit, Menta pun kemudian diijinkan untuk pulang ke rumah.
"Selamat datang di rumah ya sayang" Menta mengucapkan selamat datang kepada putranya saat mereka tiba di rumah dengan selamat.
"Anak papa yang ganteng, mulai saat ini kita bertiga akan hidup bahagia bersama selamanya ya di rumah ini" Raf mengecup pipi Raguel yang masih merah dengan gemas.
"Iya papa" Menta menirukan suara anak kecil untuk menjawab Raf mewakili Raguel.
"Nah berhubung sudah sampai di rumah, sepertinya sudah waktunya nih kita kasih hadiah untuk papa" Ron menyeringai jahil.
"Hadiah? untukku?" Raf bingung.
"Iya, kami punya hadiah spesial untukmu dalam rangka menyambut kelahiran Raguel" Mike juga tersenyum dengan misterius.
"Ini terimalah, ini semua sengaja kami pilihkan untukmu" George memberikan satu buah kardus besar yang dibungkus dengan kertas kado dengan rapi.
"Ayo Raf dibuka" Doni menginstruksikan untuk membuka kadonya.
"Mie instan, permen susu, coklat, kue kering?" pria itu heran dengan isi kado yang diterimanya.
__ADS_1
"Ini dari Ayah Mike, Daddy Ron, Papa George, Om Surya, Om Hendro, Om Adhi, Om Doni, Dimas, Gamal dan aku" kata Gide.
"Bekal untuk menemanimu selama puasa nanti bro" bisik Gamal.
"Puasa? memang siapa yang mau puasa?" Papa dari Junior dan Raguel kebingungan.
"Ini baca dulu, mungkin kau akan paham" Dimas menyodorkan sebuah artikel dari ponselnya.
"Masa nifas setelah melahirkan? empat puluh hari tidak bisa berhubungan? what!?" wajah tampan Raf seketika berubah menjadi pias.
"Yang sabar ya, semua suami pasti mengalami ini setiap kali istri mereka melahirkan" Surya menepuk bahu sang menantu.
"Makanya kami bekalkan ini untukmu" kata Hendro dengan senyum usil.
"Mama!?" Raf menatap Menta untuk minta penjelasan.
"iya pa, mama lupa bilang hehehehe" sang istri hanya mengangkat bahu sambil terkekeh.
"Bunda!?" kini menatap Ananda dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Sabar ya Raf" Ananda hanya bisa tersenyum geli melihat kekecewaan diwajah putranya yang sudah bucin akut terhadap sang istri.
"Ini bro untuk bermain solo, aku sudah siapkan alternatifnya" Rich memberikan sabun cair kepada kakak sepupunya.
"Ck, tetap tidak samalah!" menggerutu kesal, membuat yang lainnya tergelak.
"Sudah-sudah, dari pada stress, mending sekarang kita makan saja, mama sudah siapkan makanannya loh" Tata menetralisir suasana.
"Iya, kau tenang saja Raf, kalau kau butuh teman, nanti mereka semua bisa kok berpuasa juga untuk menemanimu!" Ayu menunjuk kesepuluh pria beristri itu.
"Benar, kan puasa atau tidaknya mereka tergantung kami, jadi kau jangan sedih ya" Maya yang sudah menganggap Raf seperti anaknya sendiri memberikan dukungan.
"Lagi pula kami kan pasti akan sering menginap di sini untuk menemani Raguel, jadi pastinya mereka juga akan banyak puasanya!" Dini merasa kasihan melihat Raf.
"Betul, sudah jangan sedih lagi ya, hanya sebentar kok" Sekar kemudian memberikan penguatan juga.
"Nanti kalau kau butuh teman begadang tiap malam, biar mereka bikin piket saja" Gaby menunjuk Dimas, Gamal, Gide dan Rich.
"Tidak perlu jadwal piket, tiap malam juga tidak masalah" Sera tidak keberatan.
__ADS_1
"Iya, toh camilannya sudah disediakan oleh mereka sendiri" Rach menunjuk kardus kado itu.
Sementara para istri membela Raf, suami-suami mereka hanya bisa diam dan menelan saliva saja, karena jika sudah begini dan mereka tetap melawan, maka nasib mereka sudah pasti akan merana seperti Raf juga.