Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin

Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin
Sikap Raf


__ADS_3

"Sayang kau ini kenapa sih? tiba-tiba mendorong aku sampai jatuh ke lantai hanya karena Menta datang!?" Paula protes saat Raf kembali Masuk ke ruangannya.


"Sayang, kenapa diam saja? kau ini benar-benar sudah berubah ya sekarang!?" katanya lagi sambil berkacak pinggang.


"Sudah tidak pernah menghubungi aku lagi, tidak datang ke apartemenku kalau tidak aku yang memaksa, dan malah tadi kau menolak ciumanku lalu mendorongku sampai jatuh ke lanntai!" wanita itu terus saja mengomel kepada kekasihnya.


"Paula maaf, sepertinya kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi, lebih baik kita sudahi semuanya!" Raf tiba-tiba saja berkata seperti itu kepada Paula.


"No way, tidak mungkin, kenapa kau bicara seperti itu? bukankah kita saling mencintai satu sama lain?" gelengnya dengan keras.


"Paula, kau tau kan kalau keluargaku tidak menerimamu menjadi pendampingku?" Raf menatap tajam mata Paula.


"Raf ada apa denganmu, bukankah selama ini kita sudah berjanji akan memperjuangkan cinta kita!?" wanita itu tetap tidak mau menerima kenyataan untuk putus dari Raf.


"Aku tidak bisa lagi Paula, karena aku sudah dijodohkan dan sudah menikah!" Raf akhirnya berkata jujur.


"Apa maksudnya? aku tidak mengerti!" wanita itu benar-benar terkejut dengan pernyataan Raf, selama ini Paula menganggap Raf adalah pria bodoh yang bisa ia kendalikan seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Bahkan Raf rela bertengkar dengan keluarga besarnya hanya demi dirinya.


"Menta adalah istriku, dia bukan adik angkatku!" dengan sangat yakin Raf memberitahukan statusnya dengan Menta.

__ADS_1


"Tidak, tidak mungkin!" masih dengan perasaan syok.


"Kami sudah menikah hampir dua bulan, meskipun dijodohkan namun saat ini aku dan Menta sedang sama-sama belajar saling menerima satu sama lain, jadi aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan kita!" Raf membayangkan wajah imut sang istri yang kini sudah memenuhi hati dan pikirannya.


"Tapi Raf, kita sudah sejauh ini, kau sudah mengambil segala yang ada di dalam diriku, lalu kau ingin mencampakkan aku begitu saja!?" Paula berakting menangis menjadi korban.


"Paula sudahlah, aku sudah tau siapa kau yang sesungguhnya sejak lama, jangan berpura-pura seolah-olah kau adalah gadis lugu yang menyerahkan segalanya hanya untukku, aku tau sepakterjangmu selama ini dengan pria-pria itu!" Raf membuka kartu Paula.


"Jaga ucapanmu Raf, aku bisa menuntutmu karena melakukan pencemaran nama baik dan perilaku tidak menyenngkan!" sifat asli gadis itu mulai muncul.


"Benarkah, lalu bagaimana dengan ini semua!?" Raf menunjukkan foto-foto Paula saat sedang di atas ranjang bersama beberapa laki-laki yang berbeda.


"Jangan kau pikir aku pria bodoh yang bisa kau perdaya Paula, apa kau lupa aku adalah Rafael Anderson, aku bisa melakukan apapun dengan hanya menjentikkan jariku, sudah lama aku mengetahui semua ini, aku diam bukan berarti aku bodoh, aku hanya ingin kau bertobat dengan sendirinya setelah bersamaku, namun Paula tetaplah Paula yang tidak pernah puas dengan satu pria saja!" Raf akhirnya mengungkapkan kekesalannya terhadap Paula.


"Raf ini semua sudah masa lalu, aku sudah tidak bersama mereka lagi, saat ini hanya ada satu pria dihatiku, yaitu kau seorang" karena sudah ketahuan, ia pun merubah strateginya untuk berpura-pura bertobat.


"Sudahlah Paula, semua sudah berakhir, aku kini sudah hidup bahagia dengan istriku, anggap saja kita hanya masa lalu yang tak perlu diingat-ingat lagi!" Raf menepis tangan Paula yang hendak merangkulnya.


"Raf aku mohon beri aku satu kesempatan lagi, aku akan buktikan kalau aku bisa menjadi pendampingmu yang setia!" Paula sangat talut kehilangan tambang emasnya.

__ADS_1


"Aku sibuk, jadi sekarang pergilah!" ia mengusir wanita itu.


"Tidak mau!" tetap bersikeras.


"Maaf kalau kau tidak mau pergi baik-baik, maka aku akan meminta security menyeretmu keluar!" ucap pria itu denga tegas.


"Kau jahat Raf!" melihat dirinya sudah tidak punya peluang lagi, maka dengan berat hati dan terpaksa ia pergi dari ruangan mantan kekasihnya itu.


Setelah kepergian Paula, Raf terus berusaha menghubungi Menta melalui telpon. Ia yang merasa bersalah ingin segera mengklarifikasi situasinya. Hati pria itu begitu kacau membayangkan kalau Menta kecewa dan marah padanya.


"Sayang, ayo angkat telponnya!" Raf yang berulang kali menelpon Menta merasa frustasi.


"Sayang, aku mohon maafkan aku!" ia seolah-olah sedang berbicara dengan Menta di telpon, padahal panggilannya belum diterima.


"Arrrgggghhhhh!" Raf berteriak dengan histeris karena Menta tidak juga mengangkat telponnya.


Ingin sekali rasanya Raf pulang ke rumah sang mertua sekarang juga untuk bersimpuh di kaki sang istri, namun mengingat sebentar lagi akan ada meeting penting yang tidak bisa ia tinggalkan, membuatnya jadi sangat galau. Kini ia hanya bisa pasrah saja, karena biar bagaimana pun ia sadar bahwa semua ini memang murni kesalahannya. Sejak awal ia tidak pernah memperlakukan Menta dengan baik, ia memaksa gadis itu menyetujui dan menandatangani surat perjanjian menikah dengan syarat yang membuatnya terpojok. Setelah itu beberapa kali Raf juga membuat Menta sedih karena ulahnya dengan Paula. Tidak sampai disitu, ia juga sudah merenggut mahkota sang istri sebelum statusnya dengan Paula berakhir, yang tentu saja sangat merugikan Menta.


"Maafkn aku sayang, aku harap kau mau menerimaku yang begitu jahat kepadamu!" batin Raf sesaat sebelum akhirnya ia memulai rapatnya.

__ADS_1


__ADS_2