
"Tante Dini dan Tante Sekar ada apa tiba-tiba datang ke sekolah?" Menta yang melihat dua sahabat sang mama berada di ruang guru untuk menjemputnya dan juga Runi merasa heran.
"Kami punya berita baik untukmu sayang" mata Dini berkaca-kaca saat menatap wajah Menta yang sangat mirip dengan sang mama saat ia masih seusianya.
"Berita apa?" gadis itu penasaran.
"Nanti kau akan tau setelah kita tiba di tempat yang dituju sayang" kini Sekar yang tersenyum penuh arti.
"Ada apa sih ma?" Runi yang ikut penasaran bertanya kepada Dini.
"Sekarang lebih baik kalian berdua ikut kami ya" Sekar mengelus kepala keponakannya.
"Ayo kemasi barang-barang kalian" Dini meminta dua gadis belia itu untuk berkemas.
"Iya" keduanya menjawab serentak dan segera kembali ke dalam kelas mereka untuk merapikan tas mereka.
..........
"Mama?" Menta seperti tersambar petir di siang bolong ketika dirinya memasuki sebuah ruang rawat inap kelas VVIP di rumah sakit milik keluarga Anderson yang dijaga dengan sangat ketat oleh banyak bodyguard.
"Sayang" Tata yang sedang duduk di brankar rumah sakit merentangkan kedua tangannya menyambut sang putri.
__ADS_1
"Maaaaa, apa ini mimpi?" Menta meraba pipi sang mama yang terlihat sangat tirus dari saat terakhir kali ia melihatnya hampir dua bulan yang lalu.
"Ini mama sayang" Tata mengecup kening sang putri yang sangat ia rindukan.
"Maaaa hiks hiks hiks" Menta langsung menangis histeris saat menyadari bahwa mamanya masih hidup.
"Mama sangat rindu padamu sayang" kecupan bertubi-tubi meluncur di wajah Menta dari sang mama.
"Aku lebih-lebih rindu lagi ma" tiba-tiba sekelebatan memori Menta tentang perjalanan hidupnya selama dua bulan belakangan ini tanpa kehadiran kedua orang tuanya muncul di kepalanya.
"Dimana papa ma?" Menta mencari sosok pria yang juga tidak kalah ia rindukan seperti sang mama.
"Disini sayang" suara khas sang papa sontak membuat mata Menta membulat.
"Anak papa" Surya tidak kuasa menahan tangis harunya, ia tidak menyangka kalau akan bisa kembali bertemu dengan putri sulungnya setelah sekian lama berpisah.
"Dimana grandma?" ia tersadar bahwa grandmanya tidak ada bersama mereka.
"Grandma telah pergi sayang" Tata menangis membayangkan bagaimana tragisnya sang ibu mertua menghembuskan nafas terakhirnya.
"Ini sebenarnya ada apa sih pa, ma?" Menta penasaran kenapa tiba-tiba papa dan mama yang dikiranya sudah meninggal muncul dihadapannya.
__ADS_1
"Ceritanya panjang sayang, nanti kami akan beritahu pelan-pelan ya nak" Surya merangkul bahu Menta.
"Oya, bagaimana kabarmu? papa dengar dari Om Adhi dan Om Hendro kalau kakak sudah menikah dengan Raf ya?" Surya membelai kepala gadis itu.
"Iya pa" angguknya sambil mereka berdua berjalan ke arah brankar Tata.
"Apa kau baik-baik saja saat kami tidak ada?" Tata meraih tangan putrinya.
"Iya ma" angguknya dengan senyuman terkembang, meskipun pada kenyataannya Menta selama ini selalu hidup dalam tekanan.
"Terima kasih ya sayang karena sudah mau berkorban demi semua orang, dan maaf karena papa jadi melibatkanmu dalam masalah ini" Surya sangat bangga kepada sang putri, namun juga sekaligus merasa bersalah saat mendapatkan cerita secara detail dari kedua orang kepercayaannya tentang bagaimana Menta terpaksa menikah demi menyelamatkan perusahaan Putra Angkasa dari tangan Tyo dan juga sikap Raf yang dingin terhadap gadis itu karena ia sudah memiliki seorang kekasih.
"Papa tidak perlu meminta maaf padaku, aku baik-baik saja kok" Senyum tulus terkembang dari gadis itu.
"Papa dan mama sangat bangga padamu nak!" Surya bersyukur memiliki putri yang sangat baik hati dan rela berkorban.
"Papa tidak bangga sama Bas juga? padahal selama papa dan mama tidak ada, Bas loh yang menjaga rumah seorang diri karena kak Menta tinggal sama suaminya!" Bas yang baru saja muncul sehabis jajan di kantin menimpali percakapan mereka.
"Tentu saja papa bangga, kalian memang anak-anak papa dan mama yang sangat bisa diandalkan!" Surya merangkul kedua buah hatinya hasil pernikahannya dengan Tata.
"Terima kasih Tuhan untuk keajaiban yang sudah kau berikan kepadaku" ucap syukurnya di dalam hati kepada Tuhan.
__ADS_1
Hari itu adalah hari paling membahagiakan bagi Menta. Seketika beban berat di pundaknya hilang begitu saja. Ia merasa seperti lahir baru lagi di keluarga yang utuh. Mimpi buruk yang selama dua bulan belakangan ini selalu menghantuinya sirna saat itu juga. Tuhan begitu baik padanya karena sudah memberikan keajaiban yang luar biasa.