Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin

Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin
Memborong Daster


__ADS_3

"Permisi bu dokter numpang lewat" sapa seorang warga yang berusia hampir sama dengan duo grandma namun dengan postur tubuh yang lebih kurus dan bongkok seperti kurang gizi. Ia lewat di depan rumah saat hari sudah menjelang gelap.


"Dari mana nek" Menta yang terkenal sangat ramah terhadap orang-orang disekitarnya menyapa wanita tua itu.


"Habis keliling jualan bu, tapi seharian belum ada yang laku satu pun" jawabnya sambil curhat.


"Nenek habis keliling desa seharian bawa ini?" tanya Menta dengan terkejut. Meskipun tas plastiknya tidak terlalu besar dan berat, namun dengan usia dan kondisinya yang lemah serta berkeliling desa seharian penuh, pasti membuat sang nenek kelelahan.


"Iya, namanya juga usaha bu, ya kadang laku, kadang tidak" jelasnya lagi.


"Coba saya lihat nek, ada apa saja?" Menta kemudian meraih tas yang dipegang sang nenek.


"ini daster semua bu, bajunya emak-emak kalau di rumah" katanya sambil menggelar salah satu contoh dagangannya.


"Berapa harganya?" Menta menghitung jumlah dagangannya.


"Lima puluh ribuan satu potongnya" jawab sang nenek.


"Sama semua?" ibu hamil itu memastikannya.


"Iya sama semua bu, hanya beda motif, warna dan ukuran saja" angguknya.


"Ini ada dua puluh potong ya nek?" sang dokter menumpuk semua barangnya.


"Betul bu" menjawab lagi.


"Sebentar ya, saya ke dalam dulu" Menta kemudian memgambil dompetnya yang ada di dalam kamar sambil menyiapkan cemilan.


"Ini nek diminum dulu" Menta menyodorkan teh manis hangat dan cemilan yang dibuat oleh saudara iparnya tadi siang menjelang sore.


"Terima kasih bu dokter" sang nenek yang kehausan dan kelaparan karena lelah berkeliling itu langsung menikmati hidangannya tanpa ragu, membuat Menta terenyuh.


"Ini, saya beli semuanya ya nek" Menta menyerahkan uang dua juta kepada sang nenek.


"Bu dokter serius mau beli semuanya?" sempat tak percaya.


"Iya, buat persiapan nanti kalau hamilnya sudah semakin besar" jawab Menta sambil mengusap perutnya yang masih rata supaya sang nenek percaya.


"Terima kasih ya bu dokter, sudah cantik, baik hati pula, semoga rejekinya lancar terus dan bayinya sehat-sehat sampai lahir" doa sang nenek.


"Amin, terima kasih nek doanya" Menta tersenyum bahagia.


"Loh bu dokter, ini kebanyakan, ini kan hanya dua puluh potong, jadi harganya satu juta saja" saat menghitung uang yang diberikan.


"Tidak apa-apa, buat tambah-tambah beli beras ya nek" Menta menggenggam tangan pedagang keliling itu.


"Ya Tuhannnn, rejeki memang sudah diatur, terima kasih bu dokter, terima kasih" sang nenek sangat terharu.

__ADS_1


"Iya sama-sama nek, ayo silahkan dihabiskan minuman dan cemilannya" kata Menta lagi menyuguhkan. Setelah berbincang sesaat, akhirnya sang nenek pamit undur diri.


..........


"Kau dari mana sih sayang? aku mencarimu dari tadi tau!" tanya Raf saat Menta masuk ke dalam ruang TV sambil membawa sebuah tas plastik berisi daster.


"Aku habis beli ini, tadi ada seorang nenek jualan daster, katanya seharian keliling desa tidak laku, jadi aku borong saja untuk membantunya" jawab Menta dengan enteng.


"Lalu buat apa dasternya? bukannya kau tidak pernah pakai daster?" Raf yang sudah hidup beberapa bulan bersama sang istri memang tidak pernah melihatnya memakai daster sama sekali.


"Emmm buat apa ya? aku juga sebenarnya belum tau sih mau dibuat apa hehehehe" Menta juga sesungguhnya belum tau mau diapakan daster yang baru saja ia beli itu, karena niat awalnya hanya ingin membantu saja.


"Coba aku lihat" Rach yang penasaran kemudian mengambil kantong plastiknya dari tangan Menta.


"Besar sekali, ini sih ukuran jumbo ya" Runi berkomentar.


"Akan cocok kalau dipakai para pria nih hihihi" Sera terkikik membayangkannya.


"Jadi ingat jaman hamil Divo dulu, mereka semua aku paksa untuk pajamas party hihihi" Gaby kembali kemasa dimana ia ngidam melihat para pria dikeluarga Anderson memakai piyama dengan make up yang lucu.


"Hahhh pajamas party?" Menta penasaran.


"Iya, dulu itu waktu kak Gaby ngidam anak pertama dia meminta semua pria berpakaian ala-ala badut gitu" Sera juga masih ingat.


"Lalu kita yang bagian dokumentasinya ya hehehehe" Rach terkekeh.


"Hemmmm sepertinya seru ya!?" Menta jadi punya ide jahil.


"Kok kau bisa membaca pikiranku sih!?" Menta bersinar-sinar.


"No way sayang, jangan macam-macam deh!" Raf sudah mencium gelagat buruk sang istri.


"Siapa bilang aku macam-macam, hanya satu macam kok!" senyum licik tersungging diwajah ibu hamil itu.


"Ayo kalau begitu kita eksekusi!" Gaby sang ketua geng cucu perempuan Anderson langsung berdiri.


"Aku ambilkan alat make up ku dulu kalau begitu" Sera pun tidak mau kalah.


"Yeahhhh seruuuu!" Rach kegirangan.


"Tidak mau, jangan lakukan, kalian sudah gila ya!?" Rich bergidik membayangkannya.


"Ck, begitu saja sudah ketakutan!" Runi lagi-lagi mencibir Rich.


"Bukan begitu maksudnya,,," Rich berusaha membela diri namun pada akhirnya dia menyerah karena tidak mau dianggap sebagai pria lemah oleh pujaan hatinya.


"Kalau begitu ayo kita bagi-bagi dasternya heheheheh" Menta langsung memberikan setiap pria satu potong daster. Sementara yang dibagikan hanya bisa pasrah saja.

__ADS_1


..........


"Sayang, kau tega sekali sih, wajah tampanku kan jadi tidak terlihat lagi!" Raf menggerutu.


"Demi anakmu sayang, apa kau tega menolaknya?" Menta mendandani sang suami ala-ala ibu sosialita.


"Ma, jangan tebal-tebal ya" Gamal memohon.


"Iya tenang saja" jawab Sera, namun pada faktanya make up sang suami seperti dempulan yang sangat tebal.


"Ini kenapa bedak papa sampai leher sih ma?" Gida protes.


"Kalau tidak sampai leher nanti belang pa" jawab Rach dengan cuek.


"Ma, plissssss" Dimas menatap Gaby yang sangat semangat mengulang masa lalunya.


"Sekali saja kok pa" senyum usil menghiasi bibir mungilnya.


"Kenapa harus terulang lagi sih!?" Ron menggerutu.


"Daddy jangan cerewet deh!" Ayu menegur suaminya.


"Apakah setiap keturunan Anderson harus seperti ini ya ngidamnya!?" Mike merasa anak-anaknya sengaja mengerjai mereka.


"Itukan cucumu sendiri yahhhh!" Ananda mengingatkan suaminya.


"Seharusnya cukup Raf saja, diakan papanya, yang menanam benihnya, kenapa kita semua kena imbas!?" George pun tak kalah protes.


"Papa ini kenapa sih, sama cucu mengalah sedikitlah!" Maya yang sudah menganggap Raf seperti anaknya sendiri membelanya.


"Ini bibir papa kenapa kaku gini sih ma?" tanya Surya.


"Ya kalau pakai lipstrik pasti begitu pa" jawab Tata.


"Duh bulu matanya nanti nusuk mata papa nih maaa" Hendro menolak dipasangi oleh Dini.


"Apa sih, gak bakal, udah makanya nurut aja!" Dini merasa seru mendandani suaminya.


"Kalau tidak ingat ini putra mahkota dua kerajaan bisnis, aku pasti sudah kabur!" Adhi memajukan bibir.


"Coba saja kalau berani!" Sekar menantang suaminya.


"Sayang kau tau tidak, ternyata ada untungnya ya didandani seperti ini, karena aku bisa memandang wajah cantikmu dari dekat, kalau begini sih setiap hari juga tidak apa-apa hehehehehe" Rich yang awalnya menolak kemudian malah senang karena satu-satunya orang yang tidak mempunyai pasangan adalah dirinya dan Runi, jadi mereka mau tidak mau menjadi partner make up.


"Ck, jangan panggil aku sayang, dasar gak jelas!" Runi tetap pada mode ketusnya.


Suasana malam itu sangat seru, karena semua pria harus dandan ala-ala wanita dengan mengenakan daster yang baru dibeli sama Menta. Seperti dejavu, cicit-cicit yang masih kecil kini yang menjadi tim dokumentasi sementara duo grandma menjadi jurinya.

__ADS_1


.......................


Jangan lupa untuk Like, komen, hadiah, vote (mumpung senin), favorit, share dan follow ya.. Happy reading...


__ADS_2