
"Kak Raf ada apa? kenapa sepertinya serius sekali?" Rini yang melihat wajah Raf serius menjadi sangat tegang.
"Duduklah" Raf menunjuk sofa kosong di ruang TV, sementara ia dan sang istri duduk di sofa yang ada dihadapannya.
"Apa kami berbuat salah sama kakak?" Karina juga sangat takut melihat ekspresi Raf yang sangat tidak terbaca.
"Tidak, aku hanya ingin meminta ijin pada kalian berdua" suami Menta memulai pembicaraan.
"Meminta ijin?" Karina tidak paham arah pembicaraan Raf.
"Untuk apa?" Rini juga penasaran.
"Jadi begini aku punya dua sahabat, mereka sudah dewasa, tapi sayangnya mereka belum menikah, nah aku berniat mau menjodohkan keduanya sama Haris dan Burhan" Raf menatap keduanya secara bergantian.
"Menjodohkan?" sang bidan desa terkejut.
"Maksudnya?" sang perawat juga mengernyitkan dahi.
"Iya, jadi aku berniat mau menjodohkan kedua sahabatku itu dengan Haris dan Burhan. Selama ini kalian berdua kan selalu menolak untuk dinikahi sama mereka, aku lihat kasihan sekali kedua pria itu kalau harus di PHP terus menerus, makanya aku berinisiatif untuk menjodohkan mereka dengan sahabatku saja!" katanya.
"Bagaimana? apa kalian mengijinkan mereka menikah dengan kedua sahabatku itu?" pria itu menekankan.
__ADS_1
"Apa merekanya mau dijodohkan?" Karina balik bertanya.
"Mereka bilang sih mau-mau saja, karena pada dasarnya mereka berdua sudah sangat ingin berumah tangga!" Raf memberi penekanan.
"Apa hanya karena alasan sudah sangat ingin berumah tangga lalu mereka benar-benar mau berpaling?" Rini terlihat sedih.
"Laki-laki normal itu butuh belaian kasih sayang dari seorang wanita, apa lagi usia mereka sudah cukup matang, jadi sudah sewajarnya mereka menikah!" papa Junior itu menjelaskan.
"Kalau memang mereka sudah menerima, ya sudah lakukan saja!" Karina berkata dengan berat.
"Apa kau yakin? Rini bagaimana denganmu?" Kini Menta ikut bicara.
"Memangnya aku bisa apa? bukankah semua keputusan ada ditangan mereka berdua? kami tidak punya hak sama sekali!" Rini menghela nafasnya.
"Terima kasih ya Karina, Rini, kalian sangat baik!" Ia berusaha menahan ekspresi wajahnya agar tetap tak terbaca, meskipun pada kenyataannya ia ingin sekali tertawa terbahak-bahak karena melihat wajah kedua tim medis itu sedih bukan main.
"Aku ke kamar mereka dulu ya" pria itu pun bergegas pergi dari hadapan keduanya agar bisa melepas tawanya yang sudah di ujung bibir.
..........
"Bagaimana ma?" Raf yang melihat Menta masuk ke dalam kamar langsung penasaran dengan reaksi kedua gadis itu setelah ia mengutarakan niatnya.
__ADS_1
"Papa jahat ih, Rini sampai nangis loh tadi waktu dibilang Haris mau nikah sama gadis lain!" Menta menceritakan kondisinya.
"Benarkah? lalu Karina bagaimana?" pria itu benar-benar menikmati drama yang dibuatnya.
"Karina hanya diam saja, dia seperti orang linglung yang tidak tau harus melakukan apa. Mama jadi tidak tega sama mereka pa" Menta kasihan kepada kedua teman baiknya itu.
"Berarti mereka sebenarnya cinta kan sama pacar masing-masing? gak ikhlas kan kalau mereka sama yang lain?" wajah Raf terlihat senang.
"Iya memang, tapi kasihan banget mereka pa!" kata sang istri.
"Mama tenang saja, ini kan demi kebaikan mereka sendiri, pokoknya nanti pas hari H nya mereka pasti akan bahagia kok!" Raf menenangkan sang istri.
"Tapi kalau nanti mereka kenapa-kenapa gimana?" tanya sang istri.
"Selama kita awasi, mereka pasti baik-baik saja kok" Pria itu berusaha meyakinkan.
"Lagian papa ada-ada aja sih idenya, dapet dari mana sih yang begitu?" tanya Menta.
"Papa tuh terinspirasi sama kisahnya kak Gaby dan Kak Dimas ma, mereka dulu juga pernah diginiin sama semua keluarga, bilangnya kak Gaby mau dijodohkan sama pria lain, sampai-sampai kak Gaby sedih banget, ehhh tau-taunya pas hari H yang dateng malah kak Dimas. Nah papa mau bikin gitu sama mereka, cuma bedanya kalau sekarang Burhan dan Haris sudah tau, jadi yang kita jebak hanya calon perempuannya saja hehehehe" Raf terkekeh membayangkan idenya berhasil.
"Ihhh dasar papa nih!" Menta gemas melihat kejahilan suaminya.
__ADS_1
"Papa kan cuma mau bantu mereka ma, papa tuh paham banget rasanya menunggu dalam ketidakpastian, jadi sebisa mungkin kalau bisa bantu ya pasti papa bantu!" calon ayah itu bersemangat.
"Ya sudah, kalau begitu besok mama coba bantu juga deh buat persiapan acaranya" Menta pun akhirnya mengikuti permainan sang suami, karena apa yang dikatakan pria tampan itu memang benar adanya.