
"Mama lagi ngapain sih kok seru banget kayaknya?" Raf menghampiri sang istri yang sedang fokus duduk di tempat tidur mereka.
"Ini mama lagi lihat-lihat baju bayi pa, kan sebentar lagi anak kita lahir, mama belum siapin apa-apa buat dia" Menta menunjukkan sebuah website yang menjual perlengkapan bayi secara online.
Sejak awal mengetahui kehamilannya, Menta memang belum pernah berbelanja keperluan bayinya sama sekali, ia sengaja menunda membeli segalanya sampai usia kandungannya dirasa aman dan sudah cukup besar. Sejak tragedi meninggalnya Junior, Menta memang seperti mempunyai trauma yang mendalam, ia takut jika anak yang akan dilahirkannya kelak tidak bisa bertahan seperti sang kakak. Oleh sebab itulah ia berusaha menjaga hatinya supaya tidak banyak berharap dan tidak mempersiapkan keperluan sang bayi secara berlebihan, agar jika kelak tragedi Junior terulang kembali, ia tidak terlalu tersakiti untuk yang kedua kalinya.
"Coba sini papa juga mau liat" kemudian Raf mensejajarkan diri dengan sang istri agar bisa melihat lebih jelas lagi.
"Kok kuning sih ma warnanya?" Raf protes saat melihat sang istri memilih baju berwarna mencolok itu.
"Memangnya kenapa kalau kuning?" Menta menatap sang suami.
"Kenapa gak biru aja? biar cowok banget gitu loh ma!" Raf yang berharap anaknya laki-laki berkata.
"Memangnya papa sudah yakin kalau anaknya laki-laki?" Menta mengernyitkan dahi.
"Belum sih, tapi kayaknya feeling papa laki-laki deh" sambil mengelus perut buncit Menta dengan penuh rasa cinta.
"Masa?" sang istri menggoda.
"Ya mudah-mudahan saja, makanya warnanya biru aja ma" pria tampan itu berharap.
"Pa, semua warna itu sama saja, mau biru, kuning, hijau, merah, pink, semuanya bagus. Lagian mama gak cuma beli warna kuning aja kok, yang lain juga udah ada, mama emang sengaja pilih warnanya random, biar anak kita nanti hidupnya penuh warna dan gak monoton pa!" Menta menjelaskan kepada suaminya.
"Oh gitu? tapi kok kebanyakan ibu-ibu kalo kasih warna baju sama anaknya gitu, yang laki-laki pakai biru, trus yang perempuan pink?" Raf berargumen.
__ADS_1
"Ya itu sih tergantung selera, tapi kalau mama gak mau begitu, mama maunya ngajarin anak-anak mama tidak pilih-pilih, mereka harus mencoba segala warna, ya walaupun mungkin nantinya mereka akan punya warna favorit sendiri, tapi mama mau kasih pengalaman kemereka untuk memakai semua warna!" Menta menjawab dengan bijaksana.
"Istriku ini memang hebat ya, open minded sekali orangnya" mulai mengendusi leher.
"Sayanggggg" kini tangannya mulai bergrilya ketempat favoritnya dibagian yang kenyal.
"Hemmmm" Menta masih belum merespon karena fokusnya masih tertuju pada barang belanjaan onlinenya.
"Kangennn, pengen nengokin dedek" katanya sambil mulai melepas kancing daster sang istri.
"Paaa, ini kan masih sore, nanti kalau yang lain denger gimana?" sang istri mencoba mencegahnya.
"Mereka lagi pada jalan-jalan semua kok ma, kan ini malam minggu jadi mereka pada sibuk pacaran di luar ma" Raf masih sibuk berusaha membuka kancing.
"Kita main pelan-pelan saja ma biar gak kedengeran sama Runi hehehehe" Raf sudah tidak bisa menahan lagi.
"Ishhh papa nih niat banget sih!" Menta menepuk manja suaminya.
"Habis mama bikin gemes sih" setelah mendapatkan lampu hijau dari sang istri, Raf pun tidak menyia-nyiakannya sama sekali.
"Ahhhh paaaaa" ibu hamil itu meremang saat suaminya mengeksplornya.
"Emmmhhhhhh" lenguhan terdengar lirih dan tertahan dari bibir mungil Menta.
"Jangan ditahan sayang, tidak akan terdengar kok dari luar" Raf tau sang istri khawatir.
__ADS_1
"Paaappppp ahhhhhh" irama konsisten yang dilakukan suaminya membuat Menta sungguh tak berdaya. Ia hanya bisa pasrah berada bibawah kungkungan tubuh atletis sang suami.
"Mama gak kuat lagi paaaa ahhhhh awwwww" getaran hebat terjadi ketika Menta berada dipuncaknya.
"Sekali lagi kita bersama ya ma" Raf mempercepat gerakannya. Pompaan demi pompaan membuat pria itu semakin mendekati puncaknya.
"Papa ahhhh mama awwww gak tahan ahhhhhh" Hujaman demi hujaman dang suami benar benar membuatnya tidak bisa mengendalikan diri dengan baik.
"Maaaaa papaaaa arghhhhhh" Raf pun mendorong dengan kuat hingga mencapai ujungnya, membuat dirinya terbang melayang menyusul sang istri yang juga sudah beberapa kali terbang.
"I love you mama" Raf menarik sang istri ke dalam dekapannya.
"I love you too papa" Menta pun membalas pelukan sang suami.
Akhir pekan kali itu dihabiskan oleh mereka dengan hanya berduaan saja di dalam kamar sepanjang sore hingga malam hari.
...................
Yuhuuuu... Holaaaa...
Selamat hari senin, harinya vote... Yuk jangan lupa dukung terus Menta dan Raf melalui like, komen, vote, hadiah, share, favorit, dan follow supaya Rosi lebih semangat buat nulisnya..
Happy reading ya semua..
Luv Luv...
__ADS_1