
Seperti yang sudah disepakati oleh seluruh keluarga besar, hari ini adalah hari terakhir mereka tinggal di desa, karena besok pagi rombongan keluarga besar dua kerajaan bisnis itu akan kembali ke ibukota setelah menengok ibu hamil dan calon bayinya selama genap satu minggu.
"Apa yang sedang kau lakukan sayang?" Ananda yang melihat menantunya membawa buah pepaya serta daunnya masuk ke dapur bertanya.
"Ini bun, aku habis panen, jadi waktu aku baru datang kesini aku tidak sengaja menebar banyak biji pepaya di sekitar kebun samping rumah dinas, eh tau-taunya tumbuh subur semua dan sekarang jadi hampir setiap minggu bisa panen" jelas sang menantu.
"Wahhh segar sekali" Maya yang melihat buah dan daun yang masih segar berbinar-binar.
"Sini biar tante olah" Dini mengambilnya dari tangan Menta.
"Kalian masih ingat tidak tragedi lalapan pahit?" Rach bertanya kepada Gaby dan Sera.
"Tentu saja, mana mungkin aku lupa" Sera tersenyum geli.
"Ada cerita lagi kah?" Menta yang selalu senang mendengar pengalaman saudara-saudara iparnya jadi penasaran.
"Jadi waktu Rach hamil Dros, dia ngidam lalapan pahit, jadilah kami masak daun pepaya dan pare dengan sambal terasi, trus setelah itu kami ajak para suami untuk makan, dan kau tau ekspresi mereka sangat lucu karena menahan rasa pahitnya hahahaha" Gaby mengingat lagi masa itu.
"Wahhh seru sekali" Menta antusias.
"Kak kau mau ngerjain orang-orang lagi ya?" Tata yang kasihan kepada para pria menegur putrinya.
"Tidak ma, kan daun pepayanya hanya sedikit, paling juga kak Raf doang heheheh" tetap dengan mode jahil.
"Kau ini benar-benar ya" Sekar tersenyum geli.
"Heheheheh" kekeh sang ibu hamil.
"Sekalian sama Rich ya, biar anak itu tau pahitnya hidup, mommy gemas sama tingkahnya selama ini!" Ayu titip pesan kepada Menta.
"Siap mom" Menta menuruti Ayu.
__ADS_1
"Kalau begitu aku buatkan sambalnya ya" kata Runi dengan semangat.
..........
"Sayang aku kan tidak doyan pahit!" Raf menatap dengan iba.
"Jadi kau menolaknya?" Menta bersedih.
"Bukan begitu,,, baiklah" pada akhirnya pasrah.
"Kak Rich juga ya" ibu hamil itu menatap sepupu sang suami.
"Aku!?" sambil menunjuk diri sendiri.
"Ini kak sambalnya!" Runi menaruh sambal terasi buatannya di depan meja makan.
"Baiklah, demi Runiku tersayang apapun aku rela lakukan!" Rich gengsi jika harus menolaknya di depan sang pujaan hati.
"Cih" Runi yang digombali oleh casanova hanya berdecih saja.
"Kau tidak ikhlas ya?" Menta menatap suaminya dengan tatapan tajam.
"Ikhlas sayang, hanya saja aku memang tidak terbiasa, jadi rasanya bagaimana gitu lohhhh" jawab Raf dengan hati-hati.
"Kak Rich mau nambah?" Menta yang melihat piring Rich sudah hampir kosong bertanya.
"Tidak, terima kasih kakak ipar, ini sudah kenyang, lebih baik buat suamimu saja sisanya!" Rich segera menolak.
"Brengsek, kenapa kau malah menjadikan aku tumbal!?" Raf memaki sang adik sepupu.
"Itukan anakmu, jadi kau yang wajib menghabisinya, sudah bagus aku mau menemanimu, coba kalau tidak, memangnya kau sanggup habiskan semua ini?" Rich emosi.
__ADS_1
"Kalian tenang saja, masih ada satu piring besar lagi kok di dapur, jangan rebutan ya" Menta berkata dengan senyum bahagia.
"Biar aku ambilkan ya" Runi segera beranjak.
"Sayang tidak, tunggu jangan, aku mohon, nanti kalau aku mati karena kekenyangan makan daun pahit sebelum waktunya bagaimana? apa kau rela jadi janda muda?" Rich menggenggam tangan Runi.
"Cih, janda dari mana? menikah saja tidak!" kata gadis itu dengan ketus.
"Kalau begitu ayo kita menikah!" Rich berdiri dan memeluk pinggang Runi.
"Lepaskan!" gadis itu memberontak.
"Heyyyy, beraninya kau Richard Anderson!" Ayu memukul putranya yang bersikap sebrono di depan banyak orang.
"Mom kau merestui kami kan? mama Dini juga kan?" Rich menatap kedua wanita itu.
"Makan saja dulu lalapannya, buktikan kalau hal ini hanya sepele. Kalau makan ini saja belum bisa sampai habis, bagaimana mau menikahi anak gadis orang? ingat ya kehidupan rumah tangga itu bisa jadi akan lebih pahit dari lalapan ini!" Raf sok bijak.
"Brisik kau!" Rich menghardik.
"Jadi kakak menganggap menikahiku membuat hidupmu lebih pahit!?" Menta berkacak pinggap.
"Ehhh bukan begitu sayang,," Raf salah bicara.
"Tau ah sebal" Menta langsung masuk ke dalam kamar.
"Duhhhh mulutttt!" Raf memaki diri sendiri sambil berjalan menuju kamarnya untuk mengejar sang istri.
"Hahahahahah, rasakanlah karma rumah tanggamu yang pahit itu!" Rich bahagia.
"Ehem, ini sisanya masih ada!" Runi menuang sisanya ke piring Rich.
__ADS_1
"Sayang!?" Rich menelan salivanya dan terpaksa menghabiskannya dibawah intimidasi Runi yang sudah dititipi pesan oleh Ayu.
Acara makan lalapan pahit pun kemudian benar-benar berakhir dengan pahit bagi pria yang sering dijuluki duo R itu.