
"Menta tadi itu siapa?" Karina langsung menghadang Menta saat gadis itu masuk ke dalam rumah.
"Itu tuan muda Rafael Anderson" jawab Menta sekenanya.
"Iya aku juga tau kalau dia tuan muda Rafael Anderson, tapi dia itu siapanya kamu? kok kalian romantis banget si tadi, mana dia pakai peluk-peluk dan cium-cium kamu segala lagi!" cecar Karina yang sangat kepo.
"Iiiihhhh kalian ngintip ya!?" Menta malu karena ketauan berpelukan dan berciuman dengan Raf.
"Ciyeee kalian pacaran ya?" Rini ikut-ikutan.
"Bukan, udah mantan kok!" Menta menggeleng.
"Whatttt? mantan? jadi kamu pernah pacaran sama anak pengusaha terkaya nomor satu itu?" Karina membelalakan matanya.
"Kenapa putus? ihhh diakan ganteng banget, duhhh kalo aku jadi kamu pasti gak akan pernah aku lepasin deh cowo sesempurna itu!" Rini menyanjung Raf.
"Apa sih lebay deh kalian, orang udah bertahun-tahun yang lalu juga putusnya!" mereka yang hanya tau Raf dari segi wajah dan hartanya saja, tidak melihat sisi lain dimana dulu Menta begitu tertekan hidup bersama dengan Raf.
"Ceritain dong Menta gimana kalian bisa jadian trus akhirnya putus!?" Karina merengek.
"Aku mau mandi dulu ah, gerah!" Gadis itu berusaha menghindari topik tentang Raf.
"Tapi habis mandi cerita ya!?" Rini mendukung Karina.
"Apa sih kalian ihhhh" sambil cepat-cepat berjalan menuju kamar mandi.
Mereka yang baru tinggal bersama selama kurang lebih dua bulan memang belum terlalu mengenal kehidupan pribadi masing-masing. Di desa ini Menta hanya terkenal sebagai seorang dokter praktek yang baru saja lulus kuliah dari luar negeri tanpa ada yang tau status sesungguhnya yang adalah anak pengusaha kaya raya Surya Putra Angkasa.
__ADS_1
..........
"Astaga, kenapa hati Menta jadi kacau begini? disatu sisi Menta ingin menghindari dan tidak lagi berkontak dengan kak Raf, tapi di lain sisi kak Raf seperti magnet yang daya tariknya sangat kuat hingga Menta tidak bisa menolak sama sekali" Gadis itu merasa frustasi.
"Tenang Menta, jangan besar kepala, kau harus pakai otakmu agar tidak terjerumus dalam hubungan palsu lagi seperti dulu!" Menta mengelus dadanya.
"Mama papa tolong Menta, Menta tidak mau sakit lagi seperti dulu!" ia terus bemonolog tanpa henti.
Tok tok tokk,,,
"Menta kau ini sedang apa? kenapa lama sekali?" Karina mengetuk pintu kamar mandi.
"Eh iya sebentar" Menta yang tersadar dari lamunannya segera membersihkan sisa sabun dari tubuhnya dan keluar dari kamar mandi.
Selain karena masih syok dengan keberadaan Raf di desa tempatnya praktek, serta bagaimana Raf tadi tiba-tiba meminta kesempatan kedua dan mengatakan cinta padanya, Menta memang sengaja berlama-lama di dalam kamar mandi agar tidak diinterogasi oleh kedua rekan kerjanya.
"Jangan-jangan mandi sambil bengong mikirin si tuan muda yang tampan itu ya?" Karina lagi-lagi menggodanya.
"Kalian apa sih!?" Menta merah merona.
"Cerita dong Menta" Rini memasang wajah memelas.
"Tau, bikin penasaran aja sih!?" Karina mengangguk.
"Iya, iya" pada akhirnya Menta menyerah.
"Dulu waktu umur tujuh belas mau delapan belas tahun aku dijodohkan sama kak Raf, kami terpaksa menerimanya meskipun tidak saling cinta karena kak Raf sudah punya kekasih bernama Paula. Lalu karena aku mau kuliah di luar negeri, maka kami pun sepakat memutuskan untuk berpisah, begitu!" jelas Menta dengan singkat tanpa menceritakan latar belakang kenapa dijodohkan dan bahkan mereka sudah sampai menikah dan kemudian bercerai.
__ADS_1
"Tapi kalau kau bilang bahwa kalian tidak saling cinta dan dia sudah punya kekasih, kenapa sepertinya tuan muda itu seperti sangat tergila-gila padamu?" Rini yang tadi siang mengamati bagaimana cara Raf menatap Menta bisa melihat bahwa pria itu sangat mencintai Menta.
"Ih kau itu sok tau!" gadis itu menolak hipotesis Rini.
"Aku bukan sok tau, tapi memang tadi dia menunjukkan itu. Ketika kau sedang mengobati lukanya, dia terus saja menatapmu tanpa kedip, dia seperti sangat merindukanmu dan mendambakan kau!" Rini menjelaskan hasil observasinya.
"Ck, macam dewi cinta saja sih kau ini!" meskipun merasa senang karena mendengar bahwa Raf kini menyukainya, namun Menta tetap berusaha tidak mau besar kepala.
"Eh tapi kalau dia minta balikan lagi, kamu mau kan terima dia?" Karina memicingkan mata.
"Entahlah" ia hanya mengangkat bahu.
"Kok gitu sih jawabannya, nanti nyesel loh kalo ditolak, pria seperti itu sangat langka, hanya gadis beruntung saja yang bisa mendapatkan hati tuan muda yang sempurna seperti dia!" meskipun belum mengenal Raf, namun Karina yakin bahwa Raf adalah pria yang baik dan cocok dengan Menta.
"Tau, nanti kalo disabet sama yang lain baru deh nyesel!" Rini mendukung ucapan Karina.
"Tau ah!" ia yang malas membahas Raf kemudian merebahkan diri di kasurnya dan menutup wajahnya dengan bantal.
"Ihhhh Menta terima donggg!" Karina memaksa.
"Tau ihhhh terima ya!?" Rini pun mengitik-itik pinggang Menta.
"Apa sih kalian ahahahahah" Menta kegelian.
"Terima gak?" mereka berdua terus saja memaksa.
"Enggak hahahahaha, geliiii hahahahaha, ampun hahahahaha" dokter itu terus bergelinjang kegelian karena kedua temannya terus memaksa.
__ADS_1
Malam itu keduanya terus saja membuat andai-andai jika Raf dan Menta balikan. Bahkan mereka sampai membayangkan rupa anak-anak Menta dan Raf kalau mereka sampai menikah dan diberi keturunan. Sementara yang dibicarakan hanya mendengarkan sambil tersipu malu.