
Setelah bernegosiasi dengan Menta untuk waktu yang tepat mengeksekusi keripik singkongnya, maka kesepakatannya adalah akan dilakukan pada akhir pekan, dengan alasan bahwa Raf dan keempat saudara laki-lakinya tidak enak jika harus membolos kerja, akhirnya kelima pria tampan dari keluarga konglomerat itu pun bersiap-siap berangkat ke pinggiran kota yang berjarak sekitar satu stengah jam dari komplek rumah mereka. Tepatnya di kampung halaman supir pribadi Gamal.
"Ayo papa, semangat ya sayangku, demi anak kita!" Menta yang melihat Raf sang suami mulai turun ke kebun langsung berteriak kegirangan.
"Doakan papa ya ma" Raf meminta doa kepada sang istri seperti hendak berangkat ke medan perang.
"Lepas dulu kemeja dan celana panjangnya pa, nanti kotor" Gaby berkata saat Dimas hendak memulai kegiatan mereka.
"Oh iya mama benar" kemudian pria itu mengkuti perkataan sang istri.
"Itu kenapa papa masih pakai sepatu sih? kan tanahnya belok!" Sera menunjuk sepatu yang biasa Gamal pakai untuk ke kantor.
"Harus banget nyeker ya?" Gamal pun dengan berat hati melepas sepatunya.
"Ini pa cangkulnya, jangan lupa dibawa" Rach memberikan alat perang buat Gide.
"Lumayan berat ternyata ya" Gide yang tidak pernah menggunakan benda tersebut pun kemudian berkomentar.
"Good luck kak" Runi yang sudah mulai dekat dengan Rich pun tidak lupa memberinya semangat.
"Terima kasih sayang" jawab mantan casanova itu.
__ADS_1
Tanpa menunggu lebih lama lagi, para pria itu pun kemudian memulai 'pekerjaan mulia' mereka di kebun singkong.
"Ayo Gide, tarik yang kuat batangnya" Gamal memberikan aba-aba agar mereka bisa menariknya bersama-sama.
"Wah ini jumbo sekali singkongnya" Gide terbelalak saat singkong yang baru saja ia panen berukuran sangan besar.
"Sebelah sini juga sepertinya besar, karena susah di cabut" Dimas berkata kepada Gide.
"Hey kenapa kau malah memotong batangnya begitu sih? seharusnya dicabut, kalau gitu kan jadi susah nyabutnya dasar bodoh!" Raf mengomeli sang adik sepupu.
"Kau ini kenapa hobi sekali mengomel sih? apa itu juga bawaan dari orok yang ada diperut istrimu?" Rich yang diomeli merasa kesal.
"Ya tentu saja aku mengomel, kan kalau begitu jadi tidak bisa di cabut!" Raf masih menggerutu.
"Sudah-sudah jangan berkelahi, sekarang lebih baik selesaikan dengan cepat sebelum matahari terasa lebih terik lagi!" Dimas sang kakak tertua melerai kedua pria yang selalu seperti anjing dan kucing.
"Ahhhhh gatal sekali kakiku digigit semut besar!" Gide berteriak.
"Yahhhh kenapa batangnya putus sih?" Gamal yang hendak menarik batang singkongnya malah gagal karena batangnya patah.
Sementara para pria sibuk bekerja, para wanita sibuk bergosip di teras rumah sang supir yang tepat berada di samping kebun singkong itu.
__ADS_1
"Apa selain ngidam keripik singkong ini kau sudah punya ngidam yang lain lagi?" Gaby bertanya kepada adik iparnya.
" Belum kak, sebenarnya ngidam yang ini juga sudah berlalu sih, habis sudah kelamaan, ngidamnya entah dari kapan, dibuatnya baru sekarang!" Menta sesungguhnya memang sudah tidak terlalu berminat dengan keripik singkong lagi, tapi berhubung semua sudah merencanakannya dengan matang, maka ia pun akhirnya melanjutkannya, hitung-hitung sekalian jalan-jalan berkumpul dengan keluarga besarnya ini.
"Kalau sudah tidak mau kenapa masih menyuruh mereka? tega sekali!" Runi merasa kasihan pada para pria.
"Calon kakak ipar, mungkin sekarang kau belum paham ngidamnya ibu hamil, tapi nanti kau pasti akan merasakan sensasinya deh jika kau sedang hamil!" Rach berkata kepada Runi.
"Benar, terkadang saat hamil itu kita maunya yang aneh-aneh tanpa bisa diduga dan dikendalikan!" Sera mendukung.
"Semoga setelah kau dan kak Rich nanti menikah, kau segera ngidam ya heheheh" Menta menggoda Runi.
"Kupas yang benar, kenapa kau seperti banci begitu!" Gamal mengomeli adiknya.
"Ini keras, kau coba saja kalau tidak percaya!" Gide memberikan singkong dan pisaunya.
"Raf yang sudah dikupas jangan ditaruh di tanah dong, kan jadi coklat lagi!" Rich menegur kakaknya.
"Ya tinggal di cuci, susah amat sih!" Raf menjawab dengan cuek.
"Kalian ini kalau tidak ribut sepertinya tidak puas ya!?" Dimas yang melihat adik-adiknya beradu argumen hanya bisa geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Suasana akhir pekan kali itu pun begitu ramai. Kelima pasangan yang sengaja jauh-jauh datang ke desa itu pun seperti menikmati kebersamaan mereka. Meskipun harus berjuang demi bisa membuat ibu hamil bahagia, namun mereka melakukannya dengan penuh ketulusan sebagai sebuah keluarga besar yang saling mendukung satu sama lain.