
"Sedang apa kau di sini?" Raf yang baru saja pulang dari survey lapangan bersama Rich dan Runi terkejut saat melihat ada Paula di dalam ruang kerjanya di kantor pusat perusahaan Anderson.
"Aku menunggumu sayang" menjawab dengan gaya sok manja tanpa mempedulikan keberadaan Rich dan Runi di sebelah pria itu.
"Bagaimana kau bisa masuk ke sini!?" tanyanya ketus.
"Aku telah dikontrak oleh agensi modelmu untuk menjadi ambassador produk kecantikan perusahaan kalian" jawabnya sambil menunjukkan ID card barunya yang berlogokan Anderson.
"Brengsek!" ia merasa kecolongan karena gadis itu masih bisa keluar masuk gedung tempatnya bekerja dengan leluasa.
"Mulai sekarang kita akan sering bertemu sayang, kau pasti senang kan?" senyum kemenangan tersungging di wajah wanita penggoda itu.
"Pergi kau dari sini sekarang juga!" pria itu membuka pintu ruang kerjanya lebar-lebar.
"Raf kenapa sih kau jahat sekali padaku?" Paula merajuk sambil memeluk pria itu dengan sangat posesif.
__ADS_1
"Lepaskan aku!" tanpa ampun Raf mendorongnya hingga jatuh ke lantai.
"Rafffffffff!!" Paula berteriak kesal dengan perlakuan mantan kekasihnya.
"Nona, tolong jaga sikap anda!" Rich yang sejak tadi hanya diam saja, kini ikut berbicara.
"Bukan urusanmu!" Paula tidak peduli.
"Tentu saja akan menjadi urusanku kalau kau membuat kekacauan di kantor milikku!" Rich mengingatkan Paula akan posisinya di perusahaan Anderson.
"Cih, berani sekali kau mengusirku, memangnya kau pikir kau siapa hah!?" Wajah menyalak ditunjukkan Paula kepada Runi.
"Oh ya pasti kau belum mengenalku ya? perkenalkan aku adalah Putri Arunika, anak angkat dari Surya Putra Angkasa, aku adalah direktur pemasaran dari perusahaan Putra Angkasa, yang kini menjadi rekan bisnis utama perusahaan Anderson!" meskipun Runi dan Paula pernah bertemu sekali saat dulu masih SMA, namun ia yakin bahwa Paula pasti tidak ingat padanya karena penampilannya kini yang sudah jauh berubah.
"Kenapa? kau tidak ingin menjabat tanganku?" Runi mencibir wajah pias Paula saat mengetahui jabatan Runi.
__ADS_1
"Apa kau tau nona, kalau lantai ini hanya dikhususkan bagi para dewan direksi saja? selain yang memang berkepentingan bisnis dengan para direktur perusahaan, seharusnya tidak boleh ada orang lain di lantai ini, termasuk anda yang hanyalah seorang model kontrak produk kami di lapangan!" Runi kembali menyerang Paula secara verbal.
"Pergi sekarang secara baik-baik atau aku seret kau keluar!" Raf mengancam.
"Kalian brengsek, lihat saja nanti!" karena kalah oleh serangan verbal dari ketiga orang itu, Paula akhirnya memilih untuk pergi.
"Hufffff gila benar wanita itu, belum ada kapoknya dia!" Rich geleng-geleng kepala.
"Kak, sepertinya dia tidak bisa dibiarkan terus-menerus, kalau tidak ini akan tidak baik bagi hubunganmu dengan Menta, apalagi sekarang sudah ada Raguel, pasti Menta akan sangat tersakiti kalau melihat wanita itu terus mengejarmu!" Runi menatap tajam wajah suami sahabatnya itu.
"Kau benar, aku sepertinya harus melakukan sesuatu untuk membuatnya jera!" senyum misterius terkembang di wajah Raf.
"Memangnya kau mau melakukan apa?" tanya Rich yang melihat sang kakak sepupu bersikap sangat misterius.
"Rahasia, kau lihat saja nanti saat waktunya tiba!" suami Menta sudah memikirkan cara yang tepat untuk mempermalukan sang mantan.
__ADS_1
"Ck, dasar kau ini, sok-sok rahasia-rahasiaan segala!" Rich hanya berdecak, namun demikian dia yakin bahwa Raf bisa mengendalikan situasinya dengan baik.