Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin

Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin
Raguel Kangen Mama


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya Menta?" Gaby bertanya kepada adiknya.


"Belum ada perubahan kak" Raf begitu lesu melihat wajah sang istri yang pucat tidak berdaya selama lebih dari dua puluh empat jam.


"Lalu dimana bayi kalian?" Sera mencari keberadaan keponakannya.


"Ada di ruang perawatan bayi bersama mama Tata dan bunda Ananda" menjawab tanpa melepaskan pandangannya kearah sang istri tercinta.


"Ini makanlah dulu" Rach menyodorkan nasi kotak kepada kakak sepupunya.


"Aku tidak lapar Rach, nanti saja" geleng sang tuan muda.


"Nanti kakak sakit loh!" Runi menasehati kakak iparnya.


"Benar Raf, kau harus makan supaya punya tenaga untuk merawat kakak ipar" Rich mendukung perkataan istrinya.


"Ayo keluar dulu, biar aku temani kau makan di luar" Dimas merangkul bahu adik iparnya itu.


"Iya, makanlah walau sedikit, supaya kau tidak tumbang juga" Gamal membantu Dimas memapah Raf.


"Betul, biar para wanita saja yang gantian menjaga Menta, kita para pria duduk di luar dulu" Gide pun ikut mengajak Raf.


Meskipun dengan berat hati, namun akhirnya Raf mendengarkan perkataan semua saudaranya dan memakan nasi kotak yang sudah disediakan bersama dengan para pria di ruang tunggu depan kamar rawat Menta.


..........


"Halo Tia, ada apa?" Raf mengangkat video call dari saudara sepupu sang istri yang dimintai tolong untuk membantu merawat Raguel putranya bersama dengan pengasuhnya.


"Halo kak Raf, ini Raguel sejak tadi nangis terus, manggil-manggil mamanya" Tia berbicara sambil menggendong Raguel.


"Hwaaaaaaa mamamamamama" Raguel yang mendengar suara Raf semakin kencang menangis.


"Raguel sayang, anak papa, kenapa menangis?" Raf yang melihat wajah putranya merah seperti kepiting rebus karena terlalu lama menangis pun merasa tidak tega.

__ADS_1


"Papapapapapa mamamamamama hiks hiks hiks" bayi itu seperti mengadukan rasa rindunya.


"Raguel kangen ya sama mama?" Raf mencoba menghibur dengan mengajaknya mengobrol.


"Mamamamamama mimimimimimik" jawabnya dengan polos.


"Anak papa haus ya? mau minum sama mama?" semakin iba melihat rasa rindu sang putra yang begitu membuncah terhadap Menta.


"Yayayayayayaaaa" angguknya seolah paham perkataan sang papa.


"Raguel mau ketemu mama?" Raf bertanya kepada bayi berusia hampir satu tahun itu.


"Mamamamama" anggukannya semakin kencang.


"Ya sudah, Raguel nyusul mama dan papa ya kesini? mana tante Tianya?" Raf kemudian memanggil Tia.


"Iya kak?" yang dipanggil menjawab.


"Tia, tolong antar Raguel ke rumah sakit ya, bilang sama mbak pengasuh buat siapkan keperluannya, lalu minta antar pak supir dengan mobilnya Menta" Raf memberikan instruksi kepada iparnya tersebut.


"Terima kasih ya Tia" Raf akhirnya terpaksa mengajak Raguel ke rumah sakit.


"Sama-sama kak" kata Tia sebelum akhirnya memutuskan panggilan dan bersiap-siap ke rumah sakit.


Meskipun awalnya Raf tidak ingin sang putra datang dan meminta Tia untuk menjaganya di rumah sampai mereka pulang nanti, namun karena melihat kondisi Raguel yang sudah sangat memprihatinkan, ia pun akhirnya tidak tega.


..........


"Papapapapapa" Raguel yang baru masuk ruang rawat dan bertemu dengan Raf langsung meminta gendong kepada Raf.


"Uhhhh anak papa, kangen ya?" Raf yang baru menerima Raguel dari tangan Tia tidak tahan untuk tidak mencium jagoan ciliknya itu.


"Apa dia Raguel?" Noah yang kebetulan sedang bersama Raf kemudian bertanya.

__ADS_1


"Iya" Raf mengangguk sambil tersenyum.


"Hai jagoan, kau sudah besar ya rupanya" Noah mencubit gemas pipi gembul bayi yang sedang digendong papanya itu.


"Halo om, salam kenal, aku Raguel" Raf pun memperkenalkan putranya kepada Noah.


"Besok kita main bola bareng ya" Noah seolah sedang berbicara dengan keponakannya sendiri.


"Oke om" Raf yang beberapa waktu belakangan ini melihat ketulusan Noah dalam membantu Menta pun akhirnya tidak lagi menyimpan rasa cemburunya dan mulai membuka diri terhadap pria itu.


"Mamamamamama mimimimimik" Raguel yang baru sadar jika Menta ternyata sedang berbaring di dekatnya kemudian memanggilnya.


"Mamanya lagi bobok, Raguel lihat saja ya jangan minum susu dulu oke?" Raf mendekatkan sang putra kearah mamanya.


"Kak, kenapa kau tidak mencoba untuk membiarkan Raguel minum ASI mamanya langsung? mungkin saja itu bisa membantu Menta cepat sadar!" Noah memberi usul.


"Memangnya tidak apa-apa?" Raf tidak yakin.


"Aku rasa tidak masalah, toh bukankah dokter malah menyarankan untuk sering diajak berkomunikasi dan distimulasi dengan segala sesuatu yang familiar baginya?" Noah memberikan alasan yang cukup masuk akal.


"Iya juga sih, baiklah kalau begitu" jika memang benar, maka Raf merasa ini bisa menjadi sebuah keuntungan baginya karena Menta bisa distimulasi agar cepat tersadar, Raguel pun bisa mendapatkan ASInya kembali.


"Kalau begitu aku tunggu di luar ya, sepertinya ini akan menjadi sedikit privasi" Noah kemudian pamit menunggu di ruang depan.


"Kak, aku juga di luar dulu ya, biar kalian bertiga bisa lebih tenang" Tia yang juga tidak mau merusak momen keluarga kecil itu akhirnya menunggu di luar.


"Ayo sayang, panggil mama, bilang Raguel mau minum susu" Raf mencoba saran Noah dan mendudukan putranya didekat Menta.


"Mamamamamama mimimimimik" seolah paham dengan instruksi sang papa, Raguel kemudian memanggil mamanya untuk meminta ASI.


"Ma lihatlah, Raguel datang, dia haus mau minum susu, mama bangun ya, kasihan anak kita ma" suara Raf bergetar menahan tangis melihat adegan didepan matanya dimana Raguel duduk sambil memegang dada sang mama yang tidak sadarkan diri.


"Mamamamamama mimimimimik" Raguel seperti tidak sabar ingin segera minum ASI mamanya.

__ADS_1


"Sebentar ya, papa bantu bukakan dulu" kata Raf sambil membuka sebagian kancing baju sang istri agar Raguel bisa mendapatkan aksesnya.


"Mimimimimik" Raguel tersenyum ketika melihat sumber gizinya yang sangat ia rindukan beberapa waktu belakangan ini. Sementara Raf hanya menyaksikan aktivitas sang putra dalam diam menahan tangisnya.


__ADS_2