Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin

Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin
Terima Kasih Paman Tyo


__ADS_3

"Mama jangan sedih lagi ya, semua sudah takdir dari Tuhan" Menta memeluk sang mama dengan erat untuk memberikan penguatan saat mendengar kabar bahwa kakak laki-laki satu-satunya Tata telah meninggal dunia.


"Meskipun ia jahat sama kita, tapi dia tetaplah kakak mama, darah daging mamamu ini Menta" kata Tata sambil menangis tersedu-sedu setelah beberapa saat yang lalu ia menerima telpon dari pihak kepolisian yang mengatakan bahwa Tyo meninggal saat terlibat baku hantam dengan sesama penghuni lapas.


"Iya ma, Menta paham, tapi kalau mama menangis begini kan paman juga tidak akan hidup kembali, sekarang kita hanya bisa menunggu saja proses selanjutnya dari pihak yang berwenang" kata Menta.


"Menta benar sayang, kalau memang nanti diijinkan, biar Tyo kita semayamkan di sini dulu saja sebelum dimakamkan" Surya juga berusaha menenangkan sang istri. Meskipun pria itu sangat membenci kakak iparnya yang selalu membuat Tata menderita sepajang hidup, tapi biar bagaimana pun ia tetap harus mengesampingkan egonya demi sang istri tercinta.


"Ini pihak kepolisian berkata kalau Tyo bisa dibawa pulang segera" Adhi yang membantu mengurus proses dengan pihak berwajib memberikan laporan.


"Mereka bilang paling lambat enam jam lagi Tyo akan tiba, saat ini masih dalam proses autopsi" Hendro yang mengurus bersama Adhi menambahkan.


"Kalau begitu aku akan menghubungi pihak pemakaman, biar semua diurus dari sekarang" Raf berkata kepada Surya sang ayah mertua.


"Biar aku yang minta orang untuk sewa tenda dan kursi bagi tamu yang nanti melayat" Rich pun kemudian menghubungi anak buahnya.


"Kita sepertinya harus pesan makanan juga nih buat keluarga besar dan para pelayat yang akan datang" Dini berkata kepada Sekar.


"Kita pesan dari restorannya Gaby saja, minta sekalian disetting dengan meja dan peralatan makannya" Sekar memberikan usul.


"Biar aku yang hubungi kak Gaby kalau begitu" Runi kemudian menelpon kakak sepupu suaminya itu untuk memesan menu catering cepat saji untuk hari itu juga.


Meskipun Tyo sudah sangat jahat terhadap keluarga Putra Angkasa, namun atas nama kemanusiaan, mereka tetap mau mengurus seluruh prosesi pemakaman pria itu dengan baik.


..........


"Hiks hiks hiks" isak tangis Tata tidak kunjung henti saat peti yang membawa Tyo tiba di rumah mewahnya.


"Sabar ya Tata, mungkin ini adalah yang terbaik untuk kalian semua" Ananda sang besan memberikan penguatan.


"Benar, kau kan masih punya suami, anak, cucu dan menantu, jadi tidak sendirian" Maya sebagai sahabat tertuanya memeluk erat istri sang Surya tersebut.

__ADS_1


"Iya, apalagi sebentar lagi Menta akan melahirkan cucu lagi untukmu, jadi kau tidak boleh terus larut bersedih ya" Ayu menghapus air mata sahabatnya.


"Terima kasih ya, kalian sangat baik, setiap kali aku mengalami penderitaan, kalianlah yang paling pertama membantuku, selain Dini dan Sekar" Tata mengembangkan senyumnya ditengah derasnya air mata.


"Ma, makan dulu ya, biar Menta suapin" ibu hamil yang sudah mendekati masa kelahiran bayinya itu membujuk sang mama.


"Mama belum lapar sayang, kau taruh dulu saja" Tata menolak.


"Sayang, kau jangan terlalu capek, istirahatlah dulu, kasihan bayimu kalau kau kurang istirahat" Ananda menasehati Menta yang sejak tadi sibuk menyambut tamu yang datang dan mendampingi sang mama yang sedang berduka.


"Iya bun, habis mama makan aku akan istirahat di kamar" Menta mengangguk.


"Tuh kan, ayo Ta makan, kasihan anak dan cucumu menunggu!" Ayu membujuk Tata lagi.


"Biar aku suapi ya?" Maya kemudian mengambil piring dari tangan Menta dan mulai menyuapi Tata.


"Sudah sana masuk kamar, biar mamamu sama kami saja" Ananda kemudian memerintahkan Menta untuk istirahat.


..........


"Loh papa disini? mama kira di luar sama bapak-bapak yang lain!" Menta terkejut karena Raf sudah ada di dalam kamar bersama buah hati mereka.


"Sssshhhhhh, Raguel baru bobok, dia dari tadi rewel terus sama mbaknya, makanya papa ajak ke kamar saja biar bisa istirahat!" Raf berbisik kepada sang istri.


"Ohhhhhh" ibu hamil itu hanya ber oh ria saja. Sejak ada kabar duka tentang Tyo, Menta memang jadi sibuk mengurusi segala keperluan rumah dan juga menghibur sang mama, sehingga Raguel jadi terabaikan dan lebih banyak bersama sang pengasuh.


"Sini" pria tampan itu menepuk sisi tempat tidur yang kosong agar sang istri bisa membaringkan tubuhnya. Kemudian Menta pun berbaring di tempat tersebut, sehingga mereka berjajar rapi dengan posisi Raguel berada ditengah kedua orang tuanya.


"Kasihan anak mama, hari ini main sendiri ya" Menta mengelus pipi Raguel. Bayi itu tidur begitu nyenyak setelah seharian lelah beraktivitas diantara orang banyak.


"Sama papanya gak kasihan?" Raf menggoda sang istri.

__ADS_1


"Iissshhhh apa sih, orang lagi berduka juga, masih aja kode-kode!" Menta memukuli dada bidang suaminya.


"Hihihihi" Raf hanya terkekeh pelan agar Raguel tidak terbangun.


"Eh ma, ngomong-ngomong, mama tuh perasaannya sekarang bagaimana sih saat mendengar paman Tyo meninggal?" Raf menatap sang istri.


"Emmm gimana ya? sejujurnya sih mama biasa aja, karena kan tidak dekat sama paman Tyo. Udah gitu dia kan jahat sama keluarga mama, jadi ya gak ada rasa sedih sebenernya!" jawab Menta apa adanya.


"Ohhhhh" kini Raf yang ber oh ria.


"Mungkin mama akan lebih sedih kalau kehilangan om Hendro atau om Adhi sih, karena walaupun mereka bukan paman kandungnya mama, tapi sejak kecil kan mereka sudah seperti orang tua mama sendiri, ya sebelas dua belas lah sama papa Surya!" imbuhnya lagi.


"Iya juga yah, om Hendro dan om Adhi kan sudah seperti keluarga kandung, ya kalau di keluarga papa tuh mungkin seperti om George kali ya!?" Raf mencoba memposisikan dirinya sebagai Menta.


"Nah iya betul!" angguk Menta.


"Eh tapi ma, ngomong-ngomong lagi nih, seharusnya tuh kita mestinya berterima kasih loh sama paman Tyo!" Raf melanjutkan obrolan mereka.


"Loh terima kasih untuk apa?" ibu hamil itu tidak paham.


"Mama pernah gak ngebayangin kalau misalnya paman Tyo dulu gak berbuat jahat sama keluarga mama, mungkin kita gak akan pernah seperti saat ini, bisa jadi kita masing-masing sudah menikah sama orang lain!" Raf meraih tangan sang istri dan menautkan jari-jari mereka di atas kepala sang putra.


"Hemmmm bener juga sih, kalau gak ada paman, mungkin kita hanya akan saling menyapa sekedarnya saja ya!" Menta tersenyum geli.


"Iya, makanya kita itu sesungguhnya berhutang budi sama paman Tyo!" kata Raf.


"Baiklah, kalau begitu mari kita berterima kasih pada paman Tyo" Menta mengangguk.


"Terima kasih paman Tyo" Raf berkata sambil tersenyum kearah sang istri.


"Terima kasih pama Tyo" dokter cantik itu pun mengikuti ucapan sang suami sambil membalas senyumannya.

__ADS_1


Tidak bisa dipungkiri bahwa Tyo sangat berperan dalam proses awal hubungan Menta dan Raf, meskipun cara yang dilakukannya salah dan membuat kedua insan ini terpaksa menjalani hubungan tanpa cinta diawal pernikahan, namun pada akhirnya cinta mereka tumbuh begitu subur hingga tidak bisa dipisahkan lagi.


__ADS_2