
"Hiks hiks hiks" suara isak tangis terdengar dari seorang gadis muda yang usianya diperkirakan satu tahun dibawah Menta. Sejak tiba di kediaman Surya, ia hanya duduk bersimpuh di depan peti mati Tyo tanpa menghiraukan keberadaan orang lain disekitarnya.
"Apa dia itu anaknya paman Tyo yang diceritakan oleh tante Tata tempo hari?" Runi berbisik kepada Menta.
"Benar, namanya Mutiara biasa dipanggil Tia, selama ini dia tinggal bersama ibunya di kampung yang berbatasan dengan ibukota bagian luar. Beberapa bulan yang lalu ibunya meninggal karena sakit keras, kemudian setelah itu dia mencoba mencari keberadaan paman Tyo di penjara. Seumur hidupnya ia tidak pernah bertemu sama sekali dengan ayahnya karena ibunya sangat membenci paman Tyo yang telah menghamilinya dengan cara paksa di luar nikah dan tidak mau bertanggung jawab!" jelas Menta.
"Ternyata dia dan ibunya korban dari kebejatan paman Tyo juga ya?" Runi menggelengkan kepala membayangkan jika ia yang berada di posisi Tia.
"Waktu pertama kali dia bertemu mama dan papa di penjara saat menjenguk paman, lalu ditawari untuk tinggal di rumah ini, dia menolaknya, katanya paman sudah terlalu banyak berbuat jahat kepada keluarga kami, sehingga ia merasa tidak layak untuk dianggap sebagai bagian dari keluarga ini!" Menta merasa kasihan melihatnya yang tidak berdaya.
"Kasihan sekali dia!" Runi menatap dengan iba.
"Iya, padahal kalau dari sikap penolakannya terhadap tawaran mama dan papa, terlihat dia itu anak yang baik!" ibu hamil itu kemudian menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Mungkin karena didikan ibunya, jadi dia tumbuh dengan baik!" istri dari Rich itu berasumsi positif.
"He em, bisa jadi" angguk mama Raguel.
"Eh tapi ngomong-ngomong, kalau aku perhatikan ya, kau dan dia itu sangat mirip loh, hanya saja rambutnya dia lebih bergelombang dan kulitnya lebih eksotis dari pada dirimu, selebihnya kalian sama persis!" kata sang sahabat sambil menatap Menta dan Tia secara bergantian.
"Oya? mungkin karena kami saudara sepupu, jadi ada kemiripan wajah, sama seperti kau dan Adit yang juga mirip!" ibu dokter itu berteori.
"Bisa jadi sih" jawabnya sambil manggut-manggut.
"Ayo Tia, kita pulang" Tata mengajak pulang sang keponakan yang baru ia ketahui keberadaannya beberapa waktu belakangan ini.
"Tante duluan saja, Tia masih mau di sini sama bapak" jawabnya dengan wajah penuh air mata.
__ADS_1
"Ini sudah sore nak, langit juga sudah mendung, sebentar lagi pasti hujan turun!" bujuk Tata lagi.
"Tapi Tia masih mau sama bapak" ia bersikeras untuk tetap bersimpuh di sebelah pusara sang ayah. Meskipun ia baru mengenal dan menemui Tyo beberapa kali saat di dalam penjara, namun ia tetap begitu menyayangi bapaknya tersebut.
"Besok kita ke sini lagi ya, tante juga masih mau ketemu sama bapakmu besok" melihat betapa besarnya penderitaan sang keponakan semasa hidupnya, Tata jadi semakin iba.
"Tapi habis ini Tia mau langsung pulang ke kampung, jadi besok gak akan mungkin bisa ke sini lagi karena jaraknya terlalu jauh!" katanya mencoba bertahan.
"Kau malam ini lebih baik menginap dulu saja di rumah tante, besok setelah kita ke sini nengokin bapak bareng-bareng, baru deh pulang ke kampung kalau memang mau pulang!" mama dari Menta terus mencoba membujuk.
"Tapi,," meskipun ia tau bahwa Tata begitu baik, namun sebagai anak dari orang yang pernah berbuat jahat kepada keluarga besar tantenya itu, ia menjadi sangat sungkan.
"Tantemu benar Tia, setidaknya menginaplah di rumah selama semalam, kita kan baru saja berduka, jadi harus saling menguatkan, biar bagaimana pun kita ini satu keluarga nak!" Surya mencoba menasehati. Meskipun pria itu sangat membenci kakak iparnya, namun sangat tidak adil rasanya jika ia juga sampai membenci anaknya juga yang tidak tau apa-apa, bahkan cenderung menjadi korban juga.
__ADS_1
"Yuk" Tata mengulurkan tangan ke arah Tia dan disambut oleh gadis itu meskipun masih dengan ragu-garu.
Kemudian mereka semua pun kembali ke kediaman Surya dan Tata untuk beristirahat, setelah sehari semalam tidak tidur karena menunggu prosesi pemakaman Tyo selesai.