Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin

Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin
Makan Malam Bersama


__ADS_3

Ketika Bagas sedang bercerita tentang pekerjaannya sebagai insinyur dan berusaha mengambil hati Menta dengan segala hal yang sudah ia capai selama beberapa tahun di desa, tiba-tiba deru sebuah mesin mobil terdengar di kejauhan yang semakin lama semakin mendekat.


"Kak Raf?" senyum ceria tersungging kembali di wajah Menta saat melihat mobil yang satu minggu belakangan ini selalu menjemput dan mengantarnya praktek.


"Siapa itu bu dokter?" Bagas menghentikan ceritanya dan menatap ke arah mobil.


"Sebentar ya pak" Menta bergegas berdiri dan berjalan mendekati mobil yang sudah berhenti.


"Kak, kau benar-benar datang?" gadis itu tidak bisa lagi menutupi rasa bahagianya.


"Tentu saja, kan sudah aku bilang kalau aku akan membuktikan cintaku padamu!" Raf meraih pinggang Menta lalu mengecup bibir gadis itu dengan lembut.


"Kak jangan" Menta mendorong dada Raf perlahan.


"Kau masih meragukan cintaku hemmmm?" kini ia meraih dagu Menta.


"Itu, ada tamu" Menta menunjuk ke arah Bagas.


"Tamu? siapa yang malam-malam begini berkunjung?" Raf memicingkan matanya.


"Ayo aku kenalkan" Menta kemudian meraih jari Raf dan menuntunnya mendekati Bagas.


"Selamat malam tuan Anderson" Bagas yang cukup terkejut melihat ketadatangan sang tuan muda, kemudian menyapa Raf sambil menatap tangan kedua orang di depannya itu yang saling bergandengan.


"Pak Bagas? selamat malam!" Raf balik menyapa sambil meraih pinggang Menta sebagai tanda kepemilikannya. Sementara Menta yang diperlakukan romatis oleh Raf pun tidak menolak sama sekali.

__ADS_1


"Kalian sudah saling kenal?" Menta juga ikut terkejut karena keduanya seperti sudah kenal cukup baik.


"Tentu dong sayang, Pak Bagas ini kan yang membantu di dalam proyek keluarga kita" Raf mengangguk.


"Oh begitu ya?" Menta hanya ber oh ria saja.


"Anda berdua?" Bagas yang melihat interaksi keduanya begitu akrab dan cenderung ke arah romantis pun bertanya.


"Oh iya pak Bagas, kak Raf ini adalah,," Menta hendak menjawab.


"Suaminya Menta" sebelum sang pujaan hati melanjutkan, Raf pun sudah mendeklarasikan status mereka.


"Suami?" Bagas seperti disambar oleh petir.


"Iya, Menta ini adalah istri saya" Raf yang melihat bahwa Bagas menaruh hati pada Menta langsung mempertegas posisinya.


"Iya pak, betul" jawab sang dokter pada akhirnya.


"Kami sudah menikah lima tahun lalu, kemudian karena Menta harus kuliah di luar negeri serta mengabdi di desa, sementara saya bekerja di ibukota, maka kami pun terpaksa melakukan hubungan LDR" jelas Raf kepada pria yang dia anggap sebagai rivalnya itu.


Meskipun pada kenyataannya Menta sangat enggan mengakui Raf adalah suaminya, karena selama lima tahun belakangan ini status mereka menggantung begitu saja tanpa kejelasan, namun demi menghentikan perjuangan Bagas dalam mengejar cintanya, ia pun terpaksa mengamini perkataan Raf dengan anggukan.


"Ohhhh begitu ya?" Bagas pun terlihat kecewa saat mengetahui bahwa wanita yang ia incar sudah berstatus menjadi istri orang lain.


"Oya ayo duduk lagi pak Bagas" Menta mempersilahkan Bagas untuk duduk kembali.

__ADS_1


"Aku buatkan teh hangat dulu ya" kata Menta kepada Raf.


"Pak Bagas juga saya buatkan lagi ya" Menta kemudian berjalan menuju dapur, meninggalkan dua pria itu mengobrol di depan teras.


"Ini tehnya" kata Menta yang kemudian ikut duduk.


"Terima kasih" Raf tersenyum manis melihat Menta mengambilkan minuman untuknya seperti layaknya istri-istri pada umumnya yang melayani suaminya saat pulang kerja.


"Oya sayang, tadi sebelum tiba di sini aku mampir ke restoran untuk membeli beberapa jenis lauk pauk, ini tolong ambil di jok belakang ya" katanya sambil menyodorkan kunci mobil. Raf memang benar-benar memposisikan diri selayaknya suami kepada istri di depan Bagas.


"He em" Menta pun mengikuti perkataan Raf tanpa bantahan sedikit pun. Ia dengan sigap meraih kunci mobil pria itu dan berjalan mendekati pintu belakang dan mengambil makanan yang dibeli oleh Raf.


"Kau masak nasi kan?" Raf bertanya saat Menta sudah kembali dengan kantong berisi makanan.


"Iya" angguk sang gadis.


"Kalau begitu tolong siapkan ya, biar kita bisa makan malam bersama, kebetulan ada pak Bagas" Raf menatap Menta layaknya suami menatap penuh cinta kepada istrinya.


"Iya, aku ambilkan nasi dan piringnya dulu ya" Menta bersiap ke arah dapur.


"Eh jangan merepotkan, saya sudah mau pulang kok, nanti malah mengganggu waktu kalian berdua" Bagas tidak enak hati.


"Ah tidak apa-apa pak, kami biasa kok melakukan aktivitas bareng-bareng sama Karina dan Rini juga, iya kan sayang?" Raf tidak ingin terlihat seperti seorang antagonis dimata Bagas.


"Iya pak, makan malam bersama kita saja sekalian di sini" Meskipun selama ini ia tidak suka dengan sikap Bagas yang selalu memaksa mendekatinya, namun dengan kehadiran Raf disisinya, Menta jadi merasa lebih tenang dan nyaman meskipun ada Bagas di dekatnya.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu terima sebelumnya" dengan berat hati Bagas pun menerima ajakan makan malam mereka.


Obrolan ringan pun terjadi diantara kelima orang yang sama-sama sedang membangun desa dengan profesinya masing-masing ini. Mereka juga terlihat dengan mudah membaur satu dengan yang lain. Meskipun berat, namun dengan jiwa yang lapang Bagas pada akhirnya menerima kenyataan bahwa Menta sudah memiliki seorang suami yang dari sudut pandang manapun lebih dari dirinya.


__ADS_2