
"Kau belum tidur?" Raf yang baru masuk ke dalam kamar, setelah mengobrol dengan Rich di ruang keluarga, bertanya kepada sang istri yang masih berkutat dengan buku pelajarannya sambil duduk di sofa, padahal waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Aku masih latihan soal, masih ada beberapa yang belum terpecahkan" Menta sedang pusing dengan contoh soal matematika yang cukup rumit.
"Ohhh" kemudian pria itu keluar kamar untuk beberapa saat.
"Ini" setelah kembali, ia pun kemudian menyodorkan segelas susu coklat hangat kepada sang istri.
"Ini buat aku?" Menta tidak percaya jika Raf memberikan itu untuk dirinya.
"Iya, susu kan bisa memberimu energi lebih, ditambah coklat bisa membuat moodmu semakin baik" jawabnya sambil mengelus kepala Menta dengan lembut.
"Terima kasih kak" Menta tersenyum sambil menerima gelas itu.
"Ngomong-ngomong kau mengerjakan soal apa?" Raf melihat kertas di meja Menta.
"Matematika, dari tadi aku buntu sekali tidak bisa menemukan jawabannya" sambil memajukan bibirnya, membuat Raf tergelak karena ekspresi sang istri begitu lucu.
"Coba aku lihat" pria itu meraih kertasnya.
"Ohhhh, ini kan harus disamakan dulu penyebutnya, lalu dikali" ia ikut duduk di sofa dan mencoret-coret kertasnya untuk menulis cara pemecahan soalnya.
"Nah begini, hasilnya ini" dengan senyum terkembang Raf menyodorkan hasilnya.
"Wahhh iya benar, ahhh bodoh sekali sih aku ini!" matanya langsung berbinar saat melihat jawaban yang disodorkan oleh Raf.
"Mana lagi yang belum bisa?" Raf memang cukup pandai dalam mata pelajaran matematika.
Sudah semua sih sebenarnya, emmm tapi Kalau kakak mengoreksi hasil kerjaku mau tidak hehehe?" Menta terkekeh.
"Baiklah, kalau begitu" kemudian pria itu mulai menjawab seluruh soal yang sudah dikerjakan Menta dan mencocokan jawaban mereka masing-masing.
"Kak, kau ternyata sangat pandai ya!?" Menta memuji Raf yang sangat cepat menemukan jawaban soal-soalnya.
"Tentu, kau saja yang tidak tau kalau aku ini pandai!" Raf congkak.
"Ishhh salah puji aku!" lagi-lagi ekspresi Menta membuat Raf tergelak.
"Ini, sudah" Raf yang mencocokan jawabannya dengan Menta hanya berbeda tiga dari lima puluh soal.
"Wah terima kasih kak" gadis itu bertepuk tangan karena girang.
"Ayo sekarang tidur, besok kan kau harus bangun pagi" ia meraih tangan Menta dan menariknya agar berjalan menuju ke tempat tidur.
"Oke, selamat istirahat ya kak" kata Menta sambil menarik selimutnya.
__ADS_1
"Selamat istirahat" Raf membalas dengan senyum.
..........
"Maaa, jangan tinggalkan Menta hiks hiks hiks" Gadis itu menangis tersedu-sedu dalam tidurnya.
"Menta" Raf yang masih terlelap reflek terjaga.
"Ma Menta mau ikut mama dan papa saja ke surga hiks hiks hiks" tangannya meraih sesuatu di udara.
"Menta, bangun sayang" sang suami yang tidur di sampingnya mencoba membangunkannya.
"Maaaa tolong Menta hiks hiks hiks" hampir setiap malam Menta selalu mengingau dan menangis karena mimpi buruk yang dialaminya tersebut.
"Sayang bangunlah" Raf yang terbiasa melihat sang istri mengigau terus mencoba membangunkannya.
"Kak hiks hiks hiks" Menta langsung memeluk sang suami dengan erat.
"Apa kau mimpi buruk lagi?" Raf membalas pelukannya.
"Iya, mimpinya membuat aku takut kak" Meskipun saat sadar di siang hari Menta selalu menutupi segala hal yang dia rasakan, namun saat tidur alam bawah sadarnya selalu berkata jujur.
"Sshhhhh, tenang ya, ada aku di sini" kata Raf sambil mengelus rambutnya dengan lembut.
"Ayo sekarang tidur lagi" bujuk Raf dengan mengelus-elus punggung sang istri.
..........
"Selamat pagi" Raf yang melihat sang istri membuka mata mengucapkan salam.
"Selamat pagi kak" jawab Menta sambil melepaskan pelukannya dari Raf yang tidak pernah lepas sejak ia bisa tertidur kembali.
"Kau mandilah dulu, nanti kita berangkat sama-sama ya" Raf mengelus pipi Menta.
"He em" Menta mengangguk tanda setuju, tidak seperti biasanya yang selalu menolak jika sang suami hendak mengantarnya. Sejak Raf minta maaf dan berjanji akan hidup berdamai, hati Menta sedikit melunak dan lebih bersahabat.
Tidak perlu waktu yang lama untuk keduanya menyelesaikan mandi mereka serta sarapan. Setelah semuanya beres mereka pun bersiap berangkat ke sekolah.
"Selamat pagi" Menta yang turun dari kamarnya menyapa Ananda dan Mike yang sudah duduk di ruang makan.
"Selamat pagi sayang" jawab keduanya serentak.
"Ayo sarapan yang banyak, kau kan butuh ekstra energi" Raf memgambilkan makanan untuk sang istri, membuat kedua orang tuanya saling pandang karena takjub dengan sikap putra mereka yang berubah drastis.
"Iya kak" Menta pun terlihat lebih nyaman dengan senyum terkembang.
__ADS_1
"Apa tidur kalian nyenyak?" Mike mencoba mengorek keduanya.
"Emm sebenarnya aku sering mimpi buruk yah, tapi kak Raf selalu membangunkan aku dan menenangkan aku agar bisa tidur kembali" Menta berkata dengan polosnya.
"Benarkah?" Ananda tidak percaya.
"Iya bun, kalau aku mengigau dan menangis di dalam mimpi, kak Raf langsung membangunkan aku dan memeluk aku supaya tenang dan bisa tidur lagi" angguknya.
"Wah anak bunda ternyata baik hati ya" Ananda kagum dengan sikap Raf.
"Aku kan tidak sejahat yang bunda pikirkan" Raf yang dipuji jadi besar kepala.
"You are what you play with Raf!" Mike mengingatkan putranya.
"Iya, sejak kau menikah dengan Menta, kau semakin menjadi anak yang baik, bunda bangga padamu sayang" Ananda yang melihat perubahan pada diri Raf mulai merasa optimis.
"Sudah siang, ayo Menta cepat selesaikan makannya, nanti kau terlambat" Raf mengalihkan topik, karena jika dilanjutkan pasti sang bunda akan membahas Paula dan membandingkannya dengan Menta.
"Iya, aku sudah selesai kok kak" Menta mengunyah potongan roti isinya yang terakhir.
"Ayo" kemudian Raf mengambil tas Menta.
"Bun, Yah, Menta berangkat dulu ya, doakan supaya hasilnya bagus" Menta mencium tangan kedua mertuanya.
"Doa bunda menyertaimu sayang" Ananda mencium Menta layaknya seperti Gaby dan Sera.
"Semoga berhasil ya nak" kini Mike yang mengelus kepalanya.
"Terima kasih" Meskipun sudah tidak punya orang tua lagi, namun ia merasa tidak kehilangan figur keduanya, karena Ananda dan Mike bisa menempatkan diri mereka sebagai pengganti Tata dan Surya dengan baik.
..........
"Nanti yang semangat ya mengerjakan soalnya" Raf mengelus kepala Menta dengan lembut saat mereka dalam perjalanan menuju sekolah.
"Iya kak, tapi aku gugup" Menta memang paling takut menghadapi soal matematika ini.
"Jangan khawatir, kau pasti bisa" kini tangannya beralih ke pipi sang istri.
"Semoga saja hari ini lancar" Doanya sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Amin" sang suami mengamininya.
"Terima kasih ya kak, aku masuk dulu ya" Menta berpamitan sebelum keluar dari mobil Raf.
"Iya sama-sama, nanti siang aku jemput lagi ya" jawabnya sambil tersenyum sejuta watt.
__ADS_1
"Oke, sampai nanti siang kak" Menta melambaikan tangannya.
"Sampai nanti siang sayang" Raf melambaikan tangan sambil tersenyum sampai sang istri benar-benar menghilang dari pandangan.