Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin

Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin
Ibu Dokter


__ADS_3

"Raf apa yang kau lakukan di atas situ?" Rich yang melihat sang kakak sepupu berdiri di tepian batu curam berteriak. Ia khawatir jika Raf nekad bunuh diri karena ditinggal oleh Menta selama bertahun-tahun.


"Aku hanya sedang melihat ke arah bukit itu, sepertinya kita bisa buat pos pengawasan disini" jawab Raf sambil menunjuk ke arah sebrang.


"Huffff aku kira kau mau bunuh diri!" Rich menarik nafasnya lega.


"Kau pikir aku sudah gila apa?" Raf mengomel.


"Ya siapa tau, kan kau memang seperti orang gila setelah ditinggal pergi oleh istrimu yang masih ABG itu hahahahaha" lagi-lagi Rich menggoda sang kakak.


"Brengsek kau!" yanh digoda memaki.


"Tolongggggg, tolonggggggggg" saat Raf dan Rich sedang menuju kembali ke bawah, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang meminta tolong.


"Rich apa kau mendengarnya?" Raf bertanya kepada sang adik.


"Iya, itu sepertinya dari dekat sini" jawab Rich.


"Tolong, aku di sini" kata orang itu lagi.


Kemudian Raf dan Rich mencari sumber suara.


"Itu dia" tunjuk Rich.


"Hey kau mau apa?" Rich yang melihat Raf mulai menuruni bukit batu curam itu berteriak.


"Lebih baik kita turun dulu, kita panggil orang lain untuk membantu" Rich khawatir jika Raf ikut terperosok, namun pria itu tetap nekad turun juga.


"Apa kau terluka?" tanya Raf kepada korban yang terperosok saat sudah berada di dekatnya.


"Kakiku tidak bisa digerakkan" kata korban yang ternyata seorang gadis cilik.


"Kalau begitu ayo naik ke punggungku" Raf menyodorkan punggungnya.


"Terima kasih" sambil meraih lengan Raf.


Setelah cukup lama menaiki bukit yang curam, Raf pun kemudian tiba di tempat Rich berada.


"Apa kau baik-baik saja?" Rich bertanya kepada sang kakak.


"Tolong bantu aku menggendongnya" Raf yang terluka di bagian tangan kanan saat tadi nyaris tergelincir, menyerahkan gadis cilik itu kepada Rich.


"Ayo kita turun" Rich meraih gadis itu dan berjalan beriringan dengan Raf.

__ADS_1


..........


"Astaga tuan, ada apa dengan tangan anda?" tanya sang kepala desa yang terkejut melihat tangan Raf penuh dengan darah segar.


"Suci?" lagi-lagi ia terkejut saat melihat anak bungsunya yang digendong oleh Rich.


"Ayah maaf, tadi aku main ke atas bukit lalu jatuh dan kakiku terkilir, paman berdua yang menolongku" jelasnya.


"Astaga" kepala desa itu kemudian meraih sang putri dari Rich.


"Tuan, mohon maaf atas ketidaknyamannannya" kepala desa merasa tidak enak hati.


"Apa di sini ada rumah sakit?" Rich bertanya.


"Disini hanya ada puskesmas tuan, mari saya antar, tapi sebentar saya berikan anak saya ke ibunya dulu" sang kepala desa yang bernama pak Budi kemudian menelpon istinya.


"Kau tunggu ibu datang di sini sama kang Jaja ya, nanti bilang ibu untuk antarkan kau ke tukang urut, ayah akan mengantar tuan Raf ke puskesmas dulu!" jelas sang ayah yang sangat paham sifat putrinya yang sangat aktif.


"Iya ayah" angguknya penuh rasa bersalah.


"Kang Jaja, tolong titip Suci sampai ibunya datang ya" pesannya kepada penjaga kantor desa.


"Baik pak" angguk kang Jaja.


..........


"Apa bu dokternya ada bu suster?" kepala desa bertanya kepada perawat yang sedang bertugas menangani pasien untuk menimbang badan, mengukur tekanan darah, kolesterol, asam urat dan gula darah.


"Ada pak kepala, bu dokter sedang memeriksa pasien di dalam, silahkan masuk dulu ke ruang tidakan, biar saya panggilkan beliau" angguk sang perawat sambil menatap ke arah luka Raf yang terus mengeluarkan darah segar. Karena kondisi Raf termasuk darurat, maka sudah menjadi kewajiban dokter dan seluruh tim medis puskesmas untuk memprioritaskannya.


"Baik terima kasih, silahkan tuan" kepala desa kemudian mengajak Raf untuk berjalan menuju ruang tindakan. Sementara Rich masih di halaman depan untuk memarkirkan mobil.


Tidak selang beberapa waktu sang dokter yang dimaksud pun tiba di ruangan tersebut.


"Apa pasiennya sudah di dalam?" tanya sang dokter saat diambang pintu masuk.


"Iya dok" jawab sang perawat yang membukakan pintunya.


"Permisi selamat siang pak kepala" Menta menyapa kepala desa.


"Selamat siang bu dokter Menta, ini mohon bantuannya untuk mengobati lukanya tuan muda" kata pak kepala desa sambil menunjuk Raf.


"Selamat siang tuan muda saya dokter Menta yang akan memeriksa kondisi anda, mohon ijin untuk memegang tangan anda ya" sang dokter yang tidak lain adalah Menta menyapa Raf dan langsung fokus ke luka yang ada di tangan itu tanpa memperhatikan wajah Raf terlebih dahulu.

__ADS_1


"Menta!?" Raf seperti tersambar petir ketika menatap wanita berparas cantik di depannya. Tidak ada yang berubah dari wajah yang sangat ia rindukan selama bertahun-tahun itu. Mata, hidung, bibir dan semua yang ada masih sama persis seperti terakhir kali mereka bertemu. Hanya saja kini Menta terlihat jauh lebih dewasa dan anggun dengan riasan wajah yang terkesan sangat natural namun tetap membuatnya terlihat berkilau.


"Kak Raf!?" meskipun wajah Raf kini sudah berewokan, berjambang dan berkumis, namun gadis itu pun masih tetap mengenal wajah pria yang pernah mengisi hatinya itu.


"Apa kabar?" Raf berusaha mengendalikan dirinya, sesungguhnya ia sangat ingin memeluk gadis itu dan meminta maaf atas segala perbuatannya di masa lalu.


"Baik kak, ini tangan kakak kenapa?" untuk menghilangkan kegugupannya Menta langsung mengalihkan fokusnya ke tangan yang terluka itu.


"Hanya luka kecil saja" jawab Raf masih dengan tatapan tanpa kedip.


"Apanya yang luka kecil? ini luka lebar dan dalam, lihatlah darah segar terus mengucur, kakak ini kenapa ceroboh sekali!?" Menta mengomel karena Raf menganggap lukanya ringan.


"Hahahaha" pria itu tertawa renyah.


"Kenapa malah tertawa?" Menta menatap dengan tajam.


"Kau masih sama seperti dulu ya, cerewet dan bawel!" Raf sangat bahagia karena Menta begitu perhatian kepada lukanya.


"Dokter manapun akan mengomel kalau punya pasien bandel seperti kakak!" gadis itu kembali melanjutkan omelannya, membuat yang diomeli semakin tergelak.


"Kau kenapa?" Rich yang baru datang terkejut melihat Raf tergelak dengan kencang, karena biasanya Raf tidak pernah seperti itu.


"Kak Rich!?" Menta memanggil adik sepupu Raf.


"Kakak ipar!?" Rich tidak menyangka bisa bertemu Menta di tempat terpencil seperti ini. Spontan ia langsung memeluk Menta dan memberikan kecupan di pipi kiri dan kanan gadis itu, membuat Raf naik pitam.


"Lepaskan!" Raf reflek berdiri dan menepis pelukan Rich di tubuh Menta.


"Heyyy kau cemburu ya!?" bukannya takut karena sang kakak marah, Rich justru menggodanya.


"Kak,, kalian berdua bisa diam tidak sih? lihatlah darahnya mengalir lagi!" Menta sangat kesal dengan ulah keduanya.


"Ups maaf ya kakak ipar" Rich menutup mulutnya yang masih tersenyum.


"Ck" sementara Menta berdecak.


Selama proses pengobatan, suasana ruang tindakan pun kembali sepi. Raf yang sedang diobati hanya diam dan menatap tajam ke arah Menta dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Menta yang ditatap pun kemudian mengalihkan rasa gugupnya karena ditatap dengan berusaha fokus pada luka terbuka yang harus dijahit. Sementara Rich, kepala desa dan sang perawat yang membantu Menta mengobati luka Raf hanya diam dan menjadi penonton dengan banyak pertanyaan dibenak masing-masing.


..................


Halo semuaaaa,, apa kabar???? Nahhh yang dari kemarin mewek sedih karena Menta dan Raf pisah, sekarang mereka udah ketemu nih... Yukkk support mereka dengan terus memberi like, komen, hadiah, share, favorit dan Vote (yang masih ada vote nganggur, buat Menta aja ya heheheheh)...


Last but not least, happy reading all...

__ADS_1


Luv Luv...


__ADS_2