Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Derren Demam


__ADS_3

Pagi harinya Hanna merasa tubuhnya remuk, dan itu karena semalam Devan yang meminta hak nya secara paksa. Hanna yang baru saja mandi menatap tubuhnya di cermin, Hanna kesal begitu banyak tanda merah pada tubuhnya. Bahkan Hanna menatap jijik pada dirinya, katakanlah saat ini Hanna terlalu sombong. Tapi itulah yang memang ia rasakan, luka yang di berikan Devan sangat membuat nya terluka begitu dalam dalam sekejap.


Tok tok tok.


Terdengar suara ketukan pintu, dan Hanna dengan cepat memakai gamis panjang dan kerudung pada kepala nya. Setelah itu barulah Hanna membuka pintu, setelah kejadian semalam kini Hanna tidak ingin lagi lengah hingga ia mengunci pintu kamarnya dengan baik.


Clek.


Hanna membuka pintu dan melihat Risa di sana.


"Kenapa Sa?" tanya Hanna.


"Sa, Derren nangis stok asi yang di kulkas habis," kata Risa.


Mendengar Risa menyebutkan nama Derren, ia langsung panik, "Sekarang Derren di mana?" tanya Hanna panik.


"Di atas, di kamar Nyonya Diana.....tadi tuan Devan lihat pas Derren nangis di peluk sama baby sitter....terus dia ambil dan bawa ke kamar," kata Risa lagi.


"Iya," dengan cepat Hanna berlari, menuju kamar Diana dan Devan. Namun sesaat kemudian ia sadar. Kalau ia tidak tahu letak kamar Devan dimana, ia berbalik dan melihat Risa, "Sa kamar Nyonya Diana dimana?" tanya Hanna setengah berteriak, karena ia sangat panik dan tidak ada waktu untuk kembali mendekat pada Risa.


"Di sebelah kamar Derren," jawab Risa.


Risa mengerti dengan perasaan Hanna, ia terlihat sangat mengkhawatirkan putranya. Jiwa keibuan Hanna terlihat begitu jelas, dan ia dapat mengerti juga dengan ke khawatiran Hanna.


Sementara di kamar Devan tengah memeluk Derren yang masih saja menangis, ia berusaha membangunkan Diana yang tertidur lelap.


"Diana, Derren nangis," kata Devan, sambil terus berusaha menenangkan Derren.


Oeeeeee Oeeeeee Oeeeeee

__ADS_1


Derren terus menangis, sampai Devan merasa bingung.


"Diana!!!" kata Devan dengan nada yang meninggi.


"CK....aku ngantuk banget! Baby sitter kan ada!" Diana menutup kedua telinganya dengan bantal. Ia sangat terganggu dengan suara Derren yang menangis semakin kencang.


Hanna yang sudah mulai mendekat di depan kamar Devan telinganya mulai menangkap suara tangisan putranya, Hanna semakin panik dan ia langsung masuk tanpa permisi.


"Derren...." kata Hanna, dan ia langsung masuk dan mengambil alih Derren dari tangan Devan. Persetan dengan sopan santun, yang ia khawatirkan hanya putranya. Dan Hanna bisa merasakan suhu tubuh putranya yang tinggi, "Kamu demam Nak," kata Hanna.


Devan terkejut saat Hanna mengambil Derren darinya, karena ia memang tidak menyadari Hanna yang masuk begitu saja.


Dengan cepat Hanna membawa Derren keluar dari sana, saat di depan pintu kamar Hanna langsung memberikan asi untuk Derren. Karena Derren sudah sangat kehausan.


"Sayang kamu haus ya Nak," kata Hanna dan dalam sekejap Derren berhenti menangis, yang ada Derren meminum asi dengan begitu lahap. Hanna menitihkan air matanya, melihat Derren yang kehausan selama dua bulan ini Derren tidak bersamanya dan apakah Derren sering menangis seperti ini karena kehausan. Hanna hanya menunduk dalam rasa bersalah nya, karena posisi nya yang hanya istri siri dan tidak memiliki kekuasaan membuat nya menjadi lemah. Bahkan untuk memperjuangkan anaknya sendiri ia tidak bisa.


Devan menatap Hanna ia berdiri di depan pintu, dan bisa melihat bertapa Hanna memiliki jiwa keibuan. Bahkan Hanna terlihat mencurahkan segala kasih sayangnya pada Derren, sesaat kemudian Hanna pergi menuju kamar Derren yang terletak bersebelahan dengan kamar Devan. Ia tidak menyadari Devan yang memperhatikan dirinya dari tadi.


"Hanna," Risa masuk, dan ia melihat Derren sedang di pelukan Hanna sambil minum asi.


"Sa, aku bisa minta tolong nggak?" tanya Hanna.


"Apa?" Risa memegang pipi Derren, "Hangat banget Han," kata Risa.


"Iya, tolong ambilkan handuk dan air hangat," pinta Hanna.


"Apa nggak bawa ke dokter aja Han?" tanya Risa, "Panas banget badan Derren," Risa juga merasa panik, apa lagi melihat wajah Derren yang begitu pucat.


"Iya udah boleh, bilang sama Farhan ya Sa...." kata Hanna, karena menurut nya hanya Farhan yang bisa meminta ijin pada Devan untuk mengantarkan Derren ke dokter.

__ADS_1


"Iya tunggu di sini ya," kata Risa. Risa langsung keluar dan ia cepat-cepat mencari keberadaan Farhan.


Sementara Hanna masih memeluk Derren, dan Devan mulai berjalan masuk.


Hanna tidak perduli sama sekali pada Devan, ia bahkan tidak menganggap Devan ada.


"Permisi!" terdengar suara Farhan, dan ia berjalan masuk.


"Farhan, Derren sedang sakit....tolong antarkan kami ke rumah sakit ya," pinta Hanna.


"Biar saya saja," kata Devan yang menawarkan dirinya.


Diana yang tahu Devan sudah keluar dari kamar mulai mencari Devan, dan tebakannya benar kalau Devan ada di kamar Derren. Ia cepat-cepat berjalan mendekati Derren dengan lingerie yang masih melekat pada tubuhnya, "Sayang," terdengar suara Diana dengan manjanya, "Aku nggak bisa tidur kalau nggak di peluk kamu," Diana langsung memeluk Devan dengan manjanya.


Hanna tidak perduli pada Devan dan Diana, ia mengambil gendongan bayi untuk menggendong Derren. Kemudian dengan sebelah tangannya lagi memasukan beberapa potongan pakaian ganti Derren dan memasukan nya pada tas. Untuk baju ganti apa bila nanti tiba-tiba Derren membutuhkan nya.


"Farhan ayo," Hanna yang menggendong Derren dan sebelah tangannya lagi memegang tas berisi perlengkapan untuk Derren, melewati Devan begitu saja. Yang ia perdulikan hanya Derren. Terserah kedua pasutri itu mau apa, karena memang mereka tidak peduli pada putranya. Menangis pun kini sia-sia karena ia bukan siapa-siapa bagi Devan, semalam saja setelah menyentuhnya Devan membayarnya dengan lembaran dolar. Hati Hanna masih sangat terluka atas penghinaan Devan.


"Biar saya bantu," Farhan merasa kasian pada Hanna, ia mengambil alih tas di pegang Hanna dan membawanya, keduanya pergi hingga Devan tidak melihatnya lagi.


"Diana!" Devan melepaskan Diana yang terus menerus memeluknya, ia sangat kesal pada apa yang Diana lakukan.


"Sayang kamu apasih...." Diana kembali mencoba memeluk Devan, tapi tidak bisa karena Devan menghempaskan tangan Diana, "Kamu kenapa sih?!" kesal Diana.


"Derren sedang sakit Diana, apa kau tidak perduli sedikit pun!" tutur Devan penuh kemarahan.


"Terus aku harus apa?" Diana kesal pada Devan, Derren yang sakit kenapa ia yang jadi amukan kemarahan Devan. Diana sangat tidak bisa terima hal ini. Akhirnya ia pergi meninggalkan Devan yang masih berdiri di tempatnya, sedangkan ia kembali ke kamar.


*

__ADS_1


Tolong Like dan Vote ya Kak.


__ADS_2