
Risa keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk berwarna putih di tubuhnya, ia merasa lebih segar setelah selesai mandi. Ia tidak langsung memakai pakaian, karena kebiasaan nya sebelum berpakaian memakai handbody lotion, namun tiba-tiba pintu terbuka dan Hilman langsung masuk.
Seketika Hilman berhenti melangkah, sebab melihat Risa yang tengah sibuk memakai handbody lotion. Matanya tidak berkedip sedetikpun melihat kemolekan tubuh istrinya, ia hanya melihat dari bagian belakang. Tapi di pantulan kaca bagian depan tubuh Risa begitu terlihat jelas.
Risa tahu ada yang masuk dan sudah pasti itu Hilman, namun ia berpikir Hilman tidak akan perduli padanya dan tidak tertarik pada nya juga jadi tidak masalah mau berpenampilan seperti apa di hadapan Hilman. Tapi tiba-tiba Risa melihat dari cermin Hilman yang memperlihatkan dirinya, seketika Risa berbalik, "Ada apa?" tanya Risa.
Hilman seketika mengusap wajahnya, dan ia tetap membuat dirinya tetap tenang. Setelah memasang wajah bisa saja ia kembali melihat Risa, "Kenapa kau berpenampilan seperti itu? Apa kau ingin menggoda ku?" tanya Hilman dengan senyum miring, seolah ia tidak tergoda.
"Saya?" Risa menunjuk dirinya sendiri, "Kapan saya menggoda Anda tuan?"
"Lalu kenapa kau hanya memakai handuk begitu?" tanya Hilman lagi.
"Saya memang terbiasa dengan handuk begini kalau baru siap mandi," jelas Risa yang tidak ingin Hilman memikirkan hal lain, "Apa hubungannya dengan menggoda Anda!"
"Apa kau tidak sadar ada orang lain selain kau di kamar ini?!"
"Apa urusannya? Memakai handuk juga di sebut menggoda, menggoda dari mana?" tanya Risa bingung, "Ah.....sudahlah saya mau ganti baju dulu, saya mau kerja...." Risa langsung melenggang menuju almari dan mengambil pakaian.
"Sial!"
Rumah besar dengan pasilitas mewah tidak lantas membuat Risa ikut bergaya mewah, sebenarnya tujuan nya saat ini satu. Ingin merasakan menjadi rakyat biasa dengan hidup seadanya, menurut Risa itu cara yang sangat menyenangkan untuk menikmati indahnya hidup.
"Bu, Risa pamit ya," Risa mencium punggung tangan Ibu Sintia.
Kaki Risa melangkah keluar dari gerbang sebuah rumah mewah, ia berdiri di sisi jalanan sambil menunggu jemputan seorang teman.
"Ayo naik," seorang pria memarkirkan sepeda motornya di sisi jalanan.
Risa dengan rok mininya langsung saja naik ke atas motor Doni, ia yang terbiasa di perlakukan sebagai seorang putri kini merasa bahagia setelah mendapat kebebasan. Termasuk menaiki motor adalah hal yang di sukai Risa, tapi karena Dad Arsielo tidak pernah mengijinkannya ia tidak pernah menaiki sepeda motor. Bahkan Risa ingin sekali bisa mengendarainya.
"Pegangan ya," kata Doni, sebab ia ingin menambah laju kendaraan nya.
Sebuah mobil mewah keluaran terbaru milik seorang pria terus melihat ke depan, seorang wanita yang tengah berboncengan dengan seorang pria. Seharusnya ia biasa saja bukan, tapi entah kenapa ia seperti tidak menerima apa yang ia lihat.
"Terimakasih ya Don."
Doni mengangguk ia melepaskan helm dari kepala Risa, sambil tersenyum lembut, "Nanti pulang bareng ya," ajak Doni lagi.
Risa mengangguk dan tersenyum, ia sangat suka naik motor jadi kenapa menolak. Mungkin setelah ini ia juga bisa meminta Doni untuk mengajarinya cara mengendarai sepeda motor.
Setelah memakai seragam OG Risa mulai mengambil alat kerja nya, namun tiba-tiba ia di panggil oleh seorang sekretaris.
__ADS_1
"Di panggil Presdir?" tanya Risa.
"Iya," jawab Niko.
Meta menyenggol lengan Risa, "Ada masalah apa lu sama Bos?" tanya Meta.
"Enggak ada, dia aja yang suka cari masalah sama aku," jawab Risa.
"Hussss!" Meta mencubit lengan Risa, karena berbicara yang sangat di luar dugaan Meta.
Risa melihat Niko, "Iya, saya akan ke sana," kata Risa.
"Bos minta di bawakan kopi, dan harus kau yang menyeduhkannya."
Risa mengangguk, kemudian ia menuju pantry untuk membuat kopi. Meta masih terus mengikuti Risa sampai ke pantry sekalipun.
"Risa, lu kok biasa aja di panggil Bos?" tanya Meta bingung.
"Terus aku harus apa? Nangis?" tanya Risa balik.
"Ya... ampun Risa, kamu di panggil Presdir. Sadar enggak sih?!" geram Meta, "Jarang orang yang bisa masuk ke ruangan Presdir, aku aja udah bertahun-tahun kerja di sini cuman sekali masuk ke sana. Tapi tunggu, kayaknya wajah lu mirip siapa ya?" Meta berusaha mengingat wajah Risa, sebab ia merasa pernah melihat Risa tapi ia juga bingung di mana, "Lu pernah hadir di nikahan bos enggak sih?" Meta mulai mengingat pernah melihat Risa saat itu, tapi ia juga tidak mengingat dengan jelas.
Risa melebarkan matanya, karena Meta ternyata hadir juga di malam pernikahan nya itu. Tapi mungkin karena wajahnya tertutup makeup tebal, orang-orang tidak begitu menyadarinya saat ini.
"Nah kan gue enggak salah."
"Iya, gue jadi pelayan di sana," kata Risa lagi dengan asal.
"Pelayanan?" Meta menggaruk kepalanya, dan berusaha kembali mengingat tapi ia juga tidak bisa mengingat dengan jelas. Hingga setelah sadar ternyata Risa sudah tidak berada di pantry, "Dasar anak itu!" kesal Meta.
Tangan Risa membawa sebuah nampan, dengan secangkir kopi untuk seorang Presdir yang tengah duduk di ruangnya.
"Silahkan tuan," kata Risa setelah ia meletakan cangkirnya di atas meja, namun karena Hilman tengah menerima tamu akhirnya Risa keluar begitu saja tanpa berbicara dengan Hilman.
Sebenarnya Hilman ingin sekali mengatakan pada Risa untuk diam di tempat, dan tidak keluar. Tapi sulit, sebab ia harus berbicara dengan tamu yang cukup penting juga. Lagi pula dimana harga dirinya jika nanti Risa merasa dirinya cukup penting.
Setelah keluar dari ruangan Presdir Risa di sambut oleh Doni, keduanya bercerita dengan penuh kelucuan. Sesekali keduanya tertawa karena cerita yang mereka anggap lucu.
"Tapi nanti pulang sama aku ya, makan siang juga ya. Di restoran depan atau kita cari tempat lain gimana?" tawar Doni.
Risa mengangguk, "Boleh, asal tidak malu."
__ADS_1
"Kok malu?"
"Kan kamu ngajak OG makan siang di tempat mahal."
"Kan pakek baju, kalau enggak pakek baju baru malu," celetuk Doni.
"Ahahahhaha....." Risa tertawa mendengar kata-kata Doni, "Kamu bisa aja Don."
Mendadak Doni berhenti tertawa, karena melihat Presdir mereka yang kini tengah berdiri di depan pintu.
Risa juga mengikuti arah pandang Doni, dan ternyata ada Hilman di sana.
"Kami permisi bos," pamit Doni sambil memegang tangan Risa dan ingin membawa Risa pergi dari hadapan Hilman.
Hilman diam, matanya berfokus pada tangan Risa yang di pegang oleh Doni.
"Kau," Hilman menatap Risa.
"Saya Tuan?" tanya Risa.
"Kau," Hilman menunjuk Doni, "Pergi," usir Hilman.
Setelah Doni pergi, Hilman kini menatap Risa. Dan menyuruh Risa untuk ikut masuk ke ruangannya.
"Ada apa lagi tuan kaya," Risa langsung duduk di kursi kebesaran Hilman, dan melihat laptop Hilman yang tengah menyala tapi ia hanya diam saja. Namun sedikit ia membaca, isi dari file tersebut tentang kerja sama dengan perusahaan Anderson company.
"Kau sangat tidak sopan," geram Hilman.
"Aku ini tidak tahu rasanya duduk di kursi bos, kenapa Anda bilang saya tidak sopan?" tanya Risa lagi, kemudian ia menyeruput kopi yang barusan ia buat sendiri untuk Hilman.
"Hey itu kopi ku!" kesal Hilman.
"Pelit sekali," gerutu Risa, dan ia bangun dari kursi kebesaran Hilman lalu ingin keluar.
"Tunggu!"
Risa berbalik dan menatap Hilman.
"Temani aku makan siang!"
"Maaf tuan kaya tapi ada cowok tamvan yang juga mengajak saya makan siang," tolak Risa dengan santai, ia ingin makan siang yang nyaman. Jadi jika makan bersama Hilman menurutnya nanti hanya bisa membuat pertengkaran saja, dan mengurangi rasa enak saat ia makan. Jadi Risa langsung menolak dengan terang-terangan, lagi pula Hilman membenci dirinya pikir Risa.
__ADS_1
*
Tolong like dan Vote Kakak.