
Hari ini Derren sudah di bawa pulang, karena keadaanya perlahan mulai membaik.
"Cucu Oma ganteng banget sih," Sarah menimang cucu nya dengan penuh kasih sayang.
Dua hari di rawat di rumah sakit membuat berat badan Derren mulai turun, tapi Sarah tetap bersyukur karena kini Derren sudah sembuh.
"Anak Mama," Diana mulai mengambil alih Derren, ia menggendong Derren dengan baik.
Agatha hanya diam saja, ia melihat Diana hari ini memeluk Derren dengan begitu hangat. Tidak seperti kemarin yang seolah tidak perduli pada bayinya.
Sedangkan Diana sebenarnya malas sekali harus beracting seperti ini, kalau bukan karena terpaksa ia sangat tidak ingin di sana. Ia lebih memilik ke salon ataupun melakukan kegiatan lainnya.
"Cucu Nenek, kita pulang ya Nak..... akhirnya kita bisa main bareng lagi di rumah," tambah Mega yang juga iku menjemput Derren.
"Iya Nenek," jawab Diana, menirukan suara anak kecil.
Sementara Hanna hanya diam di samping Risa, keduanya hanya pembantu. Dan posisi mereka hanya menjadi penonton, namun tidak di pungkiri hati Hanna begitu sakit. Ia yang mengandung dan melahirkan anak nya, tapi Diana yang memiliki nya.
"Assalamualaikum...." sapa Adam yang kemudian masuk ke ruangan Derren, ia melihat semua sudah beres dan hanya tinggal bergerak pulang.
"Waalaikumusalam," jawab Sarah. Walaupun Adam adalah seorang pembangkang tetap saja Sarah menyayangi Adam. Bahkan Sarah bersyukur karena Adam sudah mulai kembali ketengah-tengah keluarga.
"Ponakan Om mau pulang," Adam mencolek pipi Derren, "Tapi kamu mirip siapa ya?" Adam merasa Derren mirip seseorang tapi siapa pikir Adam, "Ma, wajah Derren mirip Kak Raisa ya?" tanya Adam. Karena ia sering melihat fhoto bayi yang masih terpajang di kamar kedua orangtuanya, "Kak Raisa, fhoto kecil Kak Raisa Kan Ma," kata Adam lagi mengingat dengan baik.
Sarah dan Agatha langsung melihat wajah Derren dengan jelas, keduanya juga baru menyadari hal itu.
"Iya....ya Dam, Mama baru sadar lho....." Sarah mengangguk dan ia pun mulai menyadari itu.
"Wajar sih, kan Kak Devan.....Kakak nya Kak Raisa, dan Derren ponakannya Kak Raisa," kata Adam lagi.
"Iya sih," Sarah mengangguk membenarkan apa yang di katakan oleh Adam, tapi sungguh Sarah baru menyadari nya setelah Adam berbicara.
Adam melihat Hanna yang berdiri di belakang yang lainnya, "Halo Hanna," Adam melambaikan tangannya pada Hanna.
__ADS_1
Hanna hanya tersenyum ringan saja, entah mengapa ia merasa memiliki kedekatan dengan Adam. Tapi entah itu berbentuk apa, yang jelas Adam cukup membuatnya merasa tidak sendiri.
Devan hanya menatap Hanna dengan tajam, ia tidak rela Hanna tersenyum pada Adam sekalipun.
"Pa," panggil Adam pada Agatha yang duduk di sofa.
"Em....." kata Agatha dengan dingin.
"Adam mau nikah dengan Hanna boleh?" tanya Adam.
Deg.
Devan rasanya sangat marah dengan apa yang dikatakan oleh Adam, dengan cepat ia mendorong Adam hingga terdorong kebelakang.
"Devan!!!" Agatha bangun dari duduknya, "Ada apa ini!" tanya Agatha berdiri di antara kedua putranya.
"Dasar gila, sudah seperti suami cemburu pada istrinya saja!" kesal Adam.
"Sudah-sudah!" geram Agatha, kemudian ia menatap Devan, "Kenapa kalau Adam mau menikah dengan Hanna?" tanya Agatha menatap penuh amarah, "Lagi pula itu kedengarannya bagus! Agar tidak ada terulang lagi seperti kemarin pagi!" tegas Agatha.
"Dengerin tu!" kata Adam penuh kemenangan, "Kenapa coba kalau aku nikah dengan Hanna," kata Adam dengan sinis.
Diana menatap Mamanya Mega, keduanya terlihat tidak suka karena Adam dan Devan yang memperebutkan Hanna.
"Biarkan saja Adam menikahi Hanna!" ujar Agatha lagi.
"Papa," Sarah langsung memegang tangan Agatha, ia merasa ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat, "Kita bicarakan ini di rumah, kasihan Derren sedang tidur," kata Sarah lagi. Lagi pula Sarah kini semakin penasaran dengan tanda yang dimiliki Hanna, jangan sampai malah dua sedarah malah menikah. Itu sangat diharamkan.
Agatha melihat Derren yang masih tidur di pelukan Diana, ia mengerti dan tidak ingin juga membuat cucunya merasa terganggu, "Ayo kita pulang sekarang," kata Agatha.
"Iya," jawab Sarah, "Adam kamu juga pulang ke rumah....." kata Sarah.
"Iya Ma," jawab Adam kemudian ia melihat Hanna, "Buat jenguk Hanna," kata Adam.
__ADS_1
Sarah dan Agatha langsung keluar, kemudian Diana dengan wajah masamnya. Kemudian Hanna juga melangkah dengan Risa di samping nya, namun tidak di duga. Ternyata kaki Hanna tersandung. Dengan sengaja kaki Mega sebelah menghalangi langkah Kaki Hanna.
"Aaaaaa....." teriak Hanna terkejut.
Hingga semua melihat Hanna, dan dalam sekejap Adam menahan tubuh Hanna hingga ia tidak terjatuh.
"Huuuufff......" Hanna menarik nafas, hampir saja ia terjatuh. Namun beruntung ada yang menolongnya, seketika Hanna melihat siapa yang menolongnya. Cepat-cepat Hanna berdiri tegak, ia merasa tidak nyaman saat ada pria yang bukan mahram nya memegangnya. Tapi untuk kali ini ia rasa ia tidak salah, karena Adam menolongnya bukan bermaksud yang lain.
Devan hendak mendekati Adam dan Hanna yang berdiri cukup dekat, namun dengan cepat Diana memegang tangan Adam, "Ada Papa!" bisik Diana sambil melihat kearah Agatha.
Amarah seakan menggebu, rasa cinta dan cemburu membuat Devan seakan ingin menghabisi Adam yang berani menyentuh Hanna.
"Maaf Hanna, aku nggak maksud apa-apa.....aku cuman mau menolong kamu," kata Adam, ia tahu Hanna terlihat tidak nyaman.
"Iya dokter Adam, saya yang berterima kasih.....karena dokter Adam saya tidak terjatuh di lantai," kata Hanna penuh haru.
"Ayo.....apa lagi yang kita pertontonkan di sini!" kesal Mega. Niat hati ingin membuat celaka Hanna justru malah berbalik, karena nyatanya Diana yang cemburu melihat Devan begitu perhatian terhadap Hanna.
Semua kembali berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit, dengan Devan bersama Diana di sampingnya. Sementara di belakang mereka ada Risa, Hanna dan Adam. Ketiga nya berjalan dengan Hanna yang di tengah.
"Hanna, kamu udah lama kerja.....di rumah?" tanya Adam sambil berjalan.
"Belum dokter, saya baru saja bekerja di sana," jawab Hanna seadanya. Bahkan ia tidak melihat Adam.
"Em," Adam mengangguk, "Rumah kamu dimana? Maksud aku rumah orang tua kamu di mana?" tanya Adam memperjelas pertanyaan.
Devan sangat tidak suka Hanna dan Adam berbicara dengan begitu hangat, hingga dengan sengaja ia mendadak menghentikan langkah kakinya.
Buk.
Adam yang terlalu fokus berbicara dengan Hanna tidak menyadari Devan, hingga akhirnya ia terbentur punggung Devan.
"Apaan....sih!" kesal Adam dengan marah.
__ADS_1
Devan memutar lehernya, ia tersenyum sinis pada Adam. Setelah itu ia kembali berjalan. Tidak perduli saat Adam menatap nya penuh benci.