Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Welcome to Indonesia


__ADS_3

"Apa yang bos inginkan di hari yang bahagia ini Bos, bertemu Mama Sarah? Atau Derren dan Davina?" tanya Farhan.


"Seperti nya tidak, aku tidak pantas menjadi orang yang istimewa di hati mereka."


Sejenak Devan mengenang masa-masa sakitnya di sana. Dimana ia menyakiti wanita yang sangat ia cintai, bahkan sampai saat ini pun Devan belum memiliki seorang wanita yang bisa menemani dalam setiap langkahnya. Karena Devan sudah tidak memikirkan masalah wanita, entah mengapa Devan hanya fokus pada bisnis yang tengah ia jalani. Bisnisnya yang memang sudah melunjak tinggi, semakin bertambah tinggi karena bergabung dengan perusahaan sang Ayah Arsielo Anderson. Hingga ia berhasil membangun perusahaan raksasa dengan banyak anak cabang di berbagai negara, termasuk Indonesia.


Farhan menarik nafas saat mendengar jawaban dari Devan, perlahan ia duduk di sofa dan menatap Devan.


"Bos masih belum bisa melupakan masa lalu?" tebak Farhan.


Devan seketika menatap Farhan, dan apa yang di katakan oleh Farhan memang benar adanya, "Aku tidak ingin mengenang masa-masa itu lagi," jawab Devan. Bibir nya tertarik ke masing-masing sudutnya, ia melihat bingkai fhoto yang berdiri tegak di atas meja kerjanya, "Kalian sekarang pasti sudah cukup besar," tangan Devan mengusap kaca dengan fhoto kedua anaknya di sana, gambar itu ia ambil saat dulu. Saat Devan setiap hari mengunjungi anak-anak nya.


Sejenak Devan kembali menyandarkan tubuhnya, kisah cinta nya memang sangat rumit. Bahkan sampai kini sulit untuk bisa di mengerti, hingga sebuah televisi menayangkan sebuah berita yang cukup mengejutkan.


Putri tunggal atau pun anak kandung dari pengusaha sukses Agatha Sanjaya, Elinda Farhana Sanjaya berhasil memenangkan tender yang sangat besar. Bahkan ibu dua orang anak itu berhasil menduduki peringkat ke 20 pengusaha wanita sukses seAsia.


Devan mematikan televisi dan menatap Farhan, "Apa Hanna yang memenangkan tender itu?"


Farhan mengangguk, karena itulah yang memang terjadi, "Di antara semua perusahaan, dan Hanna yang menjadi pemenangnya. Jadi harus bagaimana lagi, ini terjadi secara undi dan perusahaan menganggap perusahaan yang di pimpin Hanna yang paling bermutu di antara yang lainnya," jelas Farhan.


Devan terdiam, seperti Hanna tidak tahu siapa pemilik perusahaan Anderson Company.


Devan memang tidak pernah tampil di hadapan orang banyak, bahkan ia merahasiakan siapa dirinya. Hannya beberapa pegawai nya saja yang di perbolehkan untuk bertemu dengan dirinya, sedangkan bila ada yang ingin berkepentingan bisa menemui Farhan atau bawahan Farhan yang lainnya.


"Untuk proyek yang baru ini bos, perusahaan Agatha Sanjaya group yang di pimpin oleh Hanna adalah perusahaan yang tepat untuk bekerja sama dengan kita. Kita sedang membangun hotel bintang lima bos, dan ini sudah sangat tepat," jelas Farhan lagi.


"Huuuufff," Devan menarik nafas, ia tidak mengerti mengapa dunia begitu sempit hingga ada saja cara untuk mereka bisa bertemu, "Baiklah atur semuanya, kita akan berangkat ke Indonesia," titah Devan.


Senyum yang begitu bahagia terpancar dari bibir Farhan, sebab ia memang sudah sangat merindukan negara kelahirannya itu. Indonesia dengan negara yang kaya akan budaya dan juga ciri khas nya tidak akan pernah bisa tergantikan di hati Farhan. Sawah yang membentang, gunung yang menjulang. Pantai yang tanpa tepian, mentari yang juga bersinar seakan membuat siapa saja akan betah tinggal di sana.


"Welcome to Indonesia......" seru Farhan.


Kurang lebih 16 jam perjalan, kini Devan dan Farhan sampai di bandara Internasional Soekarno-Hatta Indonesia. Setelah tiga tahun lamanya meninggalkan Indonesia kini mereka kembali lagi, udara yang segar seketika menyeruak terasa menyegarkan tubuh. Tidak ada yang lebih membahagiakan saat ini selain dari kembali ke tanah air.

__ADS_1


Sebuah mobil Alphard terparkir, di depan bandara Devan dan Farhan naik menumpangi mobil tersebut. Yang akan membawa mereka ke sebuah hotel, milik Anderson company. Tidak memakan waktu yang lama keduanya akhirnya sampai. Mobil terparkir dengan rapi dan Devan pun segera turun dari mobil.


"Bagaimana Ibu Hanna, saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik," seorang pemimpin hotel tersebut tersenyum pada Hanna, karena mereka baru saja membacakan beberapa hal.


"Iya semoga saja begitu," kata Hanna tersenyum ramah.


"Mama!!!!" seru Derren.


Hanna langsung melihat anaknya yang tengah berlari mengejar dirinya.


"Sayang."


Hanna langsung memeluk putranya dengan begitu erat.


"Derren ke sini sama siapa?" tanya Hanna yang terkejut.


"Aduh, mobil Derren jatuh Ma," Derren tidak menjawab pertanyaan Hanna, karena mobil mainan baru miliknya terlepas dari tangan nya saat berlari mengejar Hanna barusan.


"Dimana?" tanya Hanna melihat sekitarnya.


"Sayang tidak usah lari," kata Hanna dengan suara yang sedikit meninggi, agar Derren mendengar, "Maaf Ibu Salsa," Hanna merasa tidak enak, "Anak saya memang begitu," ujar Hanna.


"Tidak apa Ibu Hanna, masih anak-anak. Itu wajar," kata Salsa tersenyum.


Sementara Derren yang terus berlari tanpa sengaja menabrak seorang pria.


Bukk!!!


Derren terjatuh di lantai, "Mama hiks....hiks...." teriak Derren sambil menangis.


Pria itu berjongkok dan langsung mengangkat Derren, "Kau tidak apa-apa, maaf ya saya tidak sengaja karena kau tiba-tiba berlari dan menabrak ku," kata Devan sambil menatap wajah Derren.


Hanna yang mendengar Derren menangis langsung berjalan cepat mendekati Derren yang tengah berada di gendong seorang pria.

__ADS_1


"Derren kamu enggak papa Nak?" tanya Hanna panik.


"Mama," Derren langsung turun dari gendongan Pria tersebut, dan cepat-cepat memeluk Hanna, "Mama...."


Hanna langsung memeluk Derren dengan erat, karena ia takut jika ada yang sakit. Sebab Derren memang selalu bergerak aktif dan kadang tidak mau memberitahukan jika ia tengah kesakitan.


"Hanna."


Devan melihat dengan jelas siapa wanita yang kini berada di hadapannya, dia Hanna mantan istrinya dan artinya anak laki-laki barusan adalah putra nya.


Hanna masih cukup mengenali suara itu, tapi ia merasa itu tidak mungkin. Tapi Hanna perlahan mulai melihat Devan.


Deg.


Tiga tahun berlalu dan kini ia kembali melihat Devan di hadapannya, Devan sudah jauh berbeda sekali. Karena ia terlihat lebih dewasa dari dulu.


"Mas Devan," kata Hanna yang masih terkejut.


Devan mengangguk, "Derren," kata Devan menunjuk anak laki-laki yang di peluk oleh Hanna.


"Iya," Hanna mengangguk.


"Boleh aku memeluknya?" tanya Devan.


Hanna mengangguk dan memberikan Derren pada Devan, tapi sayang Derren tidak mau.


"Derren ini Papa Derren," kata Hanna.


"Papa?" Derren menatap Devan dengan bingung, "Ayah!!!!" seru Derren saat melihat seorang pria yang tadi datang bersama dengan dirinya.


"Anak Ayah....." pria itu langsung berjalan mendekati Derren, dan Derren langsung berlari mengejar kemudian memeluk pria tersebut.


*

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Vote.


__ADS_2