Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Dua garis merah


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu Hilman yang di sibukkan pekerjaan terus pergi pagi-pagi sekali dan pulang di malam yang sudah larut, Risa sangat merindukan Hilman hingga hari ini ia memberanikan diri untuk menemui Hilman ke kantor. Tapi perasaan Risa terasa sakit, saat sekretaris Hilman mengatakan jika Hilman pagi tadi berangkat ke luar negeri, bibir Risa tersenyum getir air matanya menetes dengan begitu saja. Dengan perasan yang sakit Risa langsung pulang ke rumah.


"Lho kok pulang nya cepat sekali?" tanya Ibu Sintia.


"Mas Hilman ke luar negeri Bu," jawab Risa dengan bibir yang bergetar sambil menahan air mata, "Tanpa berpamitan pada Risa," kata Risa lagi lalu ia kembali masuk kedalam kamar.


"Risa," Ibu Sintia merasa khawatir dengan keadaan Risa, hari-hari Risa kini hanya menangis, menyendiri dan murung, "Apa-apa anak itu!" geram Ibu Sintia, ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Hilman. Namun, sama saja panggilan nya tidak bisa terhubung, "Sesibuk apa anak itu."


Siang harinya Risa mencoba untuk tetap tersenyum, cengeng dan bersedih bukanlah dirinya dan ia memutuskan untuk menyegarkan pikiran dengan mencari tab milik Hilman. Karena ia ingin melihat barang keluaran terbaru yang mungkin saja bisa membuat kepalanya tidak memikirkan Hilman, karena tidak juga menemukan barang-barang yang membuatnya tertarik Risa memutuskan untuk melihat galeri foto.


Semakin lama Risa hanya melihat fhoto Hanna, bahkan hampir setengah dari galeri foto hanya berisi fhoto Hanna bersama dengan Hilman. Tidak ingin membuatnya semakin tidak karuan cepat-cepat Risa meneguk air putih, kemudian ia memasukan tab itu kedalam laci seperti sebelumnya.


"Aku kenapa?"


Risa benar-benar bingung dengan dirinya, ia gampang marah dan emosi yang meledak-ledak. Setelah itu Risa ingin mencari minyak angin miliknya demi bisa menghirup aroma yang mungkin bisa membuatnya lebih tenang, namun saat membuka laci Risa kembali menemukan fhoto Hanna dengan begitu banyak.


"Risa," Ibu Sintia terus memantau keadaan Risa, bahkan sampai saat ini pun Ibu Sintia masih saja mendatangi kamar Risa. Padahal baru beberapa menit yang lalu ia ke sana.


Risa cepat-cepat mengusap air matanya, dan tidak ingin bersedih di hadapan Ibu Sintia.


"Kamu harus makan ya, ini Ibu bawa buah. Kalau kamu tidak makan Ibu juga tidak akan makan hari ini," Ibu Sintia sengaja mengeluarkan kalimat ancaman, sebab ia curiga jika Risa tengah mengandung. Dan ia tidak ingin janin Risa kekurangan asupan nutrisi.


Risa mengangguk, dan mulai memakan buah tersebut. Potongan-potongan kecil tidak menyulitkan Risa untuk mengunyah nya.


"Permisi Bu," Mbok Minah langsung masuk ke kamar Risa.


"Ada Mbok?" tanya Ibu Sintia.

__ADS_1


"Ada Bu," Mbok Minah memberikan kantong plastik berisi pesan Ibu Sintia.


"Terimakasih."


Ibu Sintia kini beralih menatap Risa yang tengah memakan buah apel dengan menggunakan sendok garpu, dan meneguk teh buatannya.


"Bu, udah ya," kata Risa yang tidak sanggup untuk menghabiskan semua makanan nya.


"Iya," Ibu Sintia mengangguk walaupun Risa tidak menghabiskan buahnya, paling tidak ia sudah makan sebagian nya, "Ini Test pack, Ibu minta kamu pakai ini," pinta Ibu Sintia.


Risa melihat bingung pada lima Test pack di tangannya, dan ia hanya melihat saja tanpa ingin menggunakan nya.


"Risa," Ibu Sintia kembali menepuk pundak Risa.


Risa tidak ingin membantah, ia bangun dari duduknya dan berjalan ke kamar mandi.


Setelah lima belas menit Ibu Sintia sangat penasaran dengan hasilnya, hingga ia terus mengetuk pintu kamar mandi.


Clek.


Risa membuka pintu kamar mandi, dan langsung melihat Ibu Sintia.


"Gimana?" tanya Ibu Sintia dengan antusias.


"Bu, kalau dua garis merah itu artinya positif ya?" tanya Risa dengan menunjukkan hasil tast pack di tangannya pada Ibu Sintia.


Ibu Sintia menutup kedua mulutnya, ia benar-benar terkejut dengan dua garis merah yang artinya Risa sedang mengandung cucunya.

__ADS_1


"Risa," Ibu Sintia langsung memeluk Risa dengan bahagia, "Ibu bakalan jadi Oma," seru Ibu Sintia dengan bahagia.


Risa juga mengusap air mata nya, ia tidak lagi bersedih hati. Bahkan ia tersenyum bersama dengan Ibu Sintia, "Bu, jangan bilang sama siapa-siapa dulu ya," pinta Risa.


"Lho kenapa? Mom kamu juga harus Ibu kasih tahu ini berita bahagia," kata Ibu Sintia yang langsung mengambil ponselnya.


"Bu," Risa langsung mengambil ponsel Ibu Sintia, "Risa mau Mas Hilman dulu tahu, setelah itu baru keluarga lainnya. Lagian Mas Hilman udah janji, setelah pekerjaan nya selesai kami akan menemui Mom dan Daddy. Jadi nanti saat di sana saja Risa kasih tahu ya Bu, Risa mohon ya Bu," lirih Risa penuh harap.


"Apapun untuk mu," Ibu Sintia kembali memeluk Risa, ia menurut saja pada apa yang di inginkan oleh Risa.


Bibir Risa terus tersenyum, bahkan ia sudah menggunakan kelima test pack yang di beli Mbok Minah. Sebab ia masih belum percaya akan segera menjadi seorang Ibu, bahkan Risa menahan untuk tidak memberi tahu pada siapapun tentang kehamilan nya. Sebab Hilman adalah suami yang sangat ia hargai, dan harus Hilman yang ia beritahukan dan yang lainnya menyusul.


"Ya ampun aku senang sekali, nanti mau di kasih nama siapa ya? Ya ampun dia masih sangat kecil aku sudah memikirkan nama," gumam Risa dengan merutuki kebodohannya, ia bahkan beberapa kali bercermin dan menatap perutnya yang memang sedikit membuncit. Dan Risa juga ingin sekali segera memeriksakan kehamilan nya ke dokter, tapi kembali ia urungkan sampai Hilman kembali. Dan mereka akan bersama melihat seperti apa nanti di layar monitor sang dokter yang memeriksa nya, "Mas Hilman kapan pulang ya?"


"Risa kamu harus makan ya Nak," Ibu Sintia membawa nampan dengan nasi dan lauk, serta sayur untuk Risa.


"Bu," Risa merasa makan yang di bawa Ibu Sintia sangat tidak mengundang selera nya.


"Sedikit saja, Ibu juga sudah belikan susu kehamilan. Jadi setelah kamu makan, kamu minum susu, sedikit saja demi cucu Ibu," pinta Ibu Sintia penuh harap.


Risa mencoba untuk makan, tapi itu hanya karena Ibu Sintia saja. Namun, saat makanan itu sampai di lidah Risa. Semua makanan itu sudah keluar lagi, "Huuueekkk......" Risa benar-benar tidak bisa menelan makan yang di siapkan oleh Ibu Sintia.


"Ya sudah, kamu makan buah dan minum susu saja," Ibu Sintia tidak tega untuk memaksa Risa tetap makan, setelah Risa memakan beberapa potong buah dan meneguk susu kehamilan Risa langsung berbaring, dan segera tidur demi mengurangi rasa mual dan juga lemas setelah muntah.


*


Enggak semangat pas liat Vote, semoga banyak Vote biar Othor semat up lagi.

__ADS_1


__ADS_2