
"Jawab Mama Pa?"
Sarah terus memaksa Agatha untuk menjawab pertanyaan yang ia ajukan, apa yang barusan di pertanyakan oleh Devan sangat membuat Sarah penasaran.
"Kenapa Papa diam?" tanya Sarah lagi, "Apa jangan-jangan Hanna memang Raisa anak kita yang hilang?"
Deg.
Jantung Agatha berpacu dengan kencang, kemudian ia mendongak menatap Sarah.
"Pa?" lirih Sarah, "Papa diam, artinya iya. Kalau tidak kenapa Papa tidak membantah nya?" Sarah mundur selangkah demi selangkah, ia kini yakin jika Hanna adalah anak kandung nya. Sebab Agatha hanya diam tanpa mengelak sedikit pun, "Aku harus menemui Hanna, dia anak ku," Sarah berbalik dan ingin segera pergi.
Tangan Agatha dengan cepat menahan lengan Sarah, hingga Sarah tidak bisa berbalik dan menatap Agatha dengan bingung.
"Jangan," ujar Agatha, "Jangan untuk saat ini," kata Agatha lagi.
Sarah menitihkan air mata dan menggeleng, "Kenapa? Dia putri kita. Dia anak kita yang bertahun-tahun lamanya menghilang," jawab Sarah.
"Apa kau mau Devan pergi?" tanya Agatha.
"Kenapa Devan harus pergi?" tanya Sarah bingung.
"Kalau kita sudah menemukan anak kita Raisa maka Devan akan pergi dari keluarga kita, dan mungkin saja dia akan bertahan tapi karena balas budi lagi seperti dulu. Mama mau kehilangan Devan?" tanya Agatha.
Sarah mendadak gagu, ia tidak tahu harus menjawab apa. Bahkan ia tidak sanggup juga Devan pergi dari hidupnya, "Kenapa Devan harus pergi?" tanya Sarah.
"Devan bukan pria yang serakah, dan dia tidak akan bertahan pada tempat yang kini ia duduki. Dan Papa tidak mau jika harus kehilangan Devan," ujar Agatha.
"Lalu bagaimana dengan Hanna?" tanya Sarah dengan penuh air mata.
__ADS_1
"Papa juga tidak akan sanggup kehilangan anak kita lagi, kita biarkan dulu untuk saat ini. Mama harus menahan sampai Devan dan Hanna rujuk kembali, biarkan mereka berdua bersatu dengan cara Nya. Tanpa adanya paksa, karena jika di paksa keduanya tidak akan pernah sadar dengan perasaan mereka," jelas Agatha lagi
"Mama enggak sanggup Pa, Mama harus bilang ke Hanna. Kalau dia anak kita Raisa....hiks....hiks...." tangis Sarah terus saja menggema, ia tidak menyangka jika wanita yang dulu ia maki-maki adalah putrinya sendiri. Apa lagi wanita itu yang ternyata juga menjadi istri siri Devan anak angkatnya, "Artinya Derren dan Davina memang darah daging kita Pa," ujar Sarah lagi sambil menarik kerah jas Agatha.
Agatha mengangguk, karena memanglah begitu adanya. Sebenarnya Agatha pun tidak bisa lagi menahan dan mengatakan jika Hanna adalah putrinya. Tapi ia pun tidak sanggup kehilangan Devan, "Kita harus merahasiakan ini sementara waktu, Papa mohon. Sampai Hanna dan Devan bersatu kembali, agar Devan tidak pergi dari kita," pinta Agatha.
Sarah menggeleng dan ia pergi dengan secepat mungkin, kaki Sarah berjalan dengan cepat menuju tempat Hanna kini berada.
Sarah turun dari mobil, ia langsung masuk ke butik miliknya. Di mana Hanna masih berada di sana.
"Hanna!!!" seru Sarah.
"Ibu Sarah kenapa?" tanya Kiara yang kebingungan.
"Hanna di mana?" tanya ni Sarah terburu-buru, karena ia ingin sekali bertemu dengan Hanna.
Terdengar suara seorang wanita yang di cari-cari oleh Sarah, Hanna memanggil Sarah dengan panggilan Mama karena sebelumnya Sarah yang memang meminta. Tapi tadi Hanna bingung saat Sarah berteriak memanggil namanya, hingga ia cepat-cepat menemui Sarah.
"Hanna," dengan cepat Sarah memeluk Hanna dengan begitu eratnya, bahkan ia juga mengecup pipi Hanna dengan saling bergantian. Rasanya Sarah benar-benar ingin meluapkan seluruh kerinduan yang selama ini ia pendam karena kehilangan putri yang sangat ia cintai.
"Mana kenapa?"
Hanna tentunya bingung dengan sikap Sarah, bahkan Sarah sampai memeluk dirinya dengan begitu erat.
"Putri ku," kata Sarah dengan tidak sadar, dan ia kembali memeluk Hanna dengan erat.
Hanna semakin bingung saat Sarah mengatakan kata putri ku, dan ia menjauhkan Sarah dari dirinya. Hanna butuh jawaban yang pasti, "Maksud Mama apa?" tanya Hanna.
Agatha yang mengikuti Sarah melihat dengan jelas saat istri nya begitu terhanyut dengan tidak sabar, dan Agatha merasa ini memang wajar.
__ADS_1
Sarah yang menyadari Agatha yang mengikuti nya mulai melirik Agatha, dan ia tidak tahu harus berkata apa. Sarah masih sangat takut pada Agatha, karena kesalahannya yang dahulu dan kini pun ia hanya mengikuti apa yang Agatha katakan. Sarah mundur selangkah demi selangkah sambil mengusap air mata penuh luka dan kerinduan.
"Ma?" Hanna masih bertanya karena ia bingung dengan perkataan yang barusan di katakan oleh Sarah.
Agatha tidak tega melihat Sarah yang terus menangis, dan menahan semuanya. Ia tahu jika Sarah juga takut padanya, dan ada perasaan tidak tega saat melihat luka yang di rasakan oleh Sarah. Hati Agatha memang sangat keras, tapi cintanya untuk Sarah pun tidak bisa di pungkiri. Agatha memegang pundak Sarah. Dan Sarah menatap dirinya.
"Iya," Agatha mengangguk.
Sarah tersenyum dan ia dengan cepat kembali memeluk Hanna, "Anak ku," lirih Sarah penuh kerinduan, "Kau Raisa putri ku yang hilang dua puluh dua tahun lalu," ucap Sarah.
Hanna terdiam mematung mendengar apa yang barusan di katakan oleh Sarah, ia masih terlalu terkejut karena semuanya begitu tiba-tiba. Hanna masih diam mematung dan berusaha mencerna apa yang barusan ia dengar.
"Kau anak ku, kau putri ku," kata Sarah lagi sambil tangannya menangkup wajah Hanna, mata Sarah berkaca-kaca karena bahagia.
"Anak?" tanya Hanna.
"Diam-diam aku menyelidiki siapa istri kedua Devan, tapi yang aku temui bukan sekedar kau istri Devan. Malah semua yang bukti yang aku cari mengarah pada ku sendiri, semakin penasaran dan semakin ingin tahu sampai akhirnya tanpa sengaja Mama melihat tanda lahir di dirimu. Hingga akhirnya diam-diam aku meminta Adam untuk mengambil darah mu untuk melakukan tes DNA," jelas Agatha.
Hanna ingat saat itu Adam datang saat ia tengah memasak di dapur, dan ia tengah memotong sayuran. Tapi dengan sengaja Adam menepuk pundak nya dan tangannya teriris. Setelah itu Adam minta maaf dan Adam yang mengobati lukanya.
"Han, aku boleh ambil sedikit sampel darah kamu enggak?" tanya Adam.
"Buat apa?"
"Aku lagi ada penelitian, sebenarnya bukan cuma darah kamu aja sih. Tapi kebetulan tangan kamu berdarah, boleh ya sedikit saja," pinta Adam.
"Iya," Hanna mengangguk dan tidak curiga sedikitpun, lagi pula Adam memang seorang dokter. Dan menurut Hanna tidak ada yang janggal.
Lalu kini Agatha mengatakan jika ia adalah putrinya, ini sulit untuk di percaya. Tapi Hanna juga sangat bahagia bisa berkumpul bersama keluarga nya.
__ADS_1