
"Tapi saya ini cuman tamatan SMA, saya tidak mengerti masalah ini dan itu Tuan Devan Agatha Sanjaya. Saya cuman mengerti masalah menjahit, itupun karena di panti dulu ada kursus menjahit," jelas Hanna.
Beberapa kali Hanna menolak dengan cara yang menurutnya bisa membebaskannya dari mantan suaminya itu, tapi sepertinya cukup sulit sekali. Walaupun Devan sudah menolong dirinya saat itu, tapi tetap saja hari Hanna tidak bisa menerima Devan dengan mudahnya. Anggap saja kini ia dan Devan sudah menjadi teman, tapi tidak bisa lebih dari itu. Dan andai ada cara untuk bisa menjauh dari Devan selamanya, tentu saja Hanna akan segera melakukan nya.
"Itu urusan mu! Kalau kau tidak mau keluar dari sini dan....." Devan menatap Hanna sambil menunjuk kembali kontak kerja sama yang pernah di tanda tangani oleh Hanna.
"CK!" Hanna berdecak kesal, "Kenapa jadi begini?" gumam Hanna.
"Keluar dari sini, kalau kau menolak!" titah Devan.
"Iya sudah iya," jawab Hanna dengan terpaksa.
Devan tersenyum samar, dan ia memperhatikan Hanna.
"Maaf Pak, matanya tolong di kondisikan!" ujar Hanna, "Permisi!" Hanna langsung keluar tanpa meminta ijin dari Devan lagi, sampai di luar ruangan ia ingin sekali berteriak. Tapi ia tahan karena takut di kira gila.
"Apa sudah selesai?" tanya Farhan yang tiba-tiba muncul di hadapan Hanna.
"CK!" Hanna terkejut karena ia benar-benar tidak menyadari kedatangan Farhan di sana, "Bos mu itu gila sekali, kenapa malah dia menjadikan aku Asisten!" geram Hanna.
"Asisten?" tanya Farhan yang juga tidak kalah bingung.
"Iya, dan kau di pecat!" bohong Hanna yang membuat Farhan terkejut.
"Di pecat?" tanya Farhan.
Hanna mengangguk, "Aku sudah menjadi Asisten bos mu itu, lalu apa guna mu?" tanya Hanna, "Maka dari itu aku yang akan menggantikan posisi mu itu!" ujar Hanna lalu pergi begitu saja.
Farhan masih terdiam karena bingung, namun kemudian ia cepat-cepat masuk ke ruang Devan.
"Bos!" Farhan langsung masuk dan melihat Devan tengah duduk di kursi kebesaran nya.
"Em," jawab Devan tanpa perduli pada Farhan.
"Bos apa benar saya di pecat?!" tanya Farhan.
Devan langsung melihat Farhan, karena pertanyaan Farhan yang sangat konyol.
"Bos jawab aku!" kata Farhan lagi dengan tidak sabar.
"Maksud mu apa?"
__ADS_1
"Tadi mantan istri bos bilang, kalau dia menggantikan posisi ku. Apa benar aku di pecat?" tanya Farhan dengan jelas.
Devan tersenyum dan mengangkat sebelah alis matanya, ia terlihat begitu santai. Bahkan ingin sekali Devan tertawa karena ternyata Hanna berhasil membodohi Farhan.
"Hanna bilang begitu?" tanya Devan lagi
"Iya, apa itu benar?" Farhan terus bertanya karena Devan belum menjawab pertanyaan nya.
"Memang tidak salah aku mencintainya, karena dia cukup pintar. Dan imbang dengan ku," ujar Devan dengan penuh senyuman.
"Bos maksud nya apa?"
"Apa tadi dia mengatakan kau di pecat?" kali ini Devan yang bertanya.
"Iya," jawab Farhan.
"Kalau dia sudah memecat mu berarti kau memang di pecat," seloroh Devan, tapi ia tetap santai seolah serius. Dan tidak main-main.
Mata Farhan seketika melebar karena apa yang di katakan oleh Devan sangat membuatnya shock.
"Bos, kenapa begitu?"
"Karena kau tidak berguna, dan apa yang dikatakan oleh Hanna itu benar. Karena sudah ada dia yang menggantikan mu, lagi pula kau bekerja pada ku atau pada Papa?" tanya Devan.
Farhan meneguk saliva, karena ia memang mata-mata Agatha.
"Dengan bos lah," jawab Farhan.
"Kalau begitu jawab dengan baik, apa Hanna anak kandung Papa?" tanya Devan.
Deg.
Farhan terdiam dan mulai panik, karena pertanyaan Devan yang cukup mengerikan itu.
"Kenapa kau diam?"
Farhan mencoba menatap Devan, dan ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Tapi itu bukan urusan saya bos," jawab Farhan dengan takut.
Devan mengangguk mengerti, "Berarti kau bukan bekerja untuk ku? Kau bekerja dengan Papa! Artinya kau benar di pecat. Karena kau penghianat!" tegas Devan.
__ADS_1
"Bos, aku tidak tahu sama sekali mengenai itu. Aku benar-benar tidak tahu bos," kata Farhan yang terus berusaha meyakinkan Devan.
"Sayang nya aku sudah tidak percaya pada mu!" kata Devan.
Pintu terbuka dan seorang pria bertubuh tegap perlahan melangkah masuk, bahkan tanpa izin dari Devan. Dia adalah Agatha Sanjaya.
"Kenapa kau bertanya padanya?" tanya Agatha sambil duduk di sofa dan melipat kakinya.
"Karena dia mata-mata Papa," jawab Devan yang duduk santai di kursi kebesaran nya.
"Dari mana kau tahu?" tanya Agatha lagi.
Devan tersenyum miring, kini ia tidak lagi sebodoh dulu. Karena kini ia bekerja dengan menggunakan otaknya, "Bukankah selama ini Devan sudah berhasil memajukan perusahaan Papa? Jadi Papa masih bisa bertanya?" kata Devan dengan angkuh.
Agatha diam sambil mengangguk mengerti, ia sebenarnya senang karena Devan kini sudah kembali pada dirinya. Yang tidak bisa lagi di atur oleh siapapun, "Lalu apa masalah mu menanyakan Raisa?"
"Devan hanya ingin tahu saja, karena jika Raisa masih ada dan sudah di temukan. Devan tidak akan duduk di kursi ini lagi, karena ini bukan hak Devan," jelas Devan.
Deg.
Agatha tercengang saat mendengar penjelasan Devan, bukan ini yang di inginkan oleh Agatha. Agatha ingin Devan juga tetap bersama dengan dirinya, dan tetap pada posisinya.
"Devan, juga ingin mencari siapa Devan Pa. Karena Devan juga ingin tahu asal usul Devan," ujar Devan lagi.
"Apa kau yakin dengan kemauan mu itu?"
"Iya."
Agatha kembali diam, apa yang bisa ia katakan saat ini. Selain diam.
"Sekarang pertanyaannya bukan hanya itu tapi kenapa Papa selalu menghalangi Devan bertemu Hanna?" Devan ingat saat dulu ia berusaha mencari Hanna, tapi semua orang suruhan nya malah tidak mencari Hanna karena perintah Agatha.
"Karena Papa tidak suka!" tegas Agatha.
"Kenapa?" tanya Devan.
"Bukankah kau juga tidak pernah menyukai nya?" tantang Agatha.
"Kalau begitu Papa salah besar, mulai detik ini. Suka atau tidak Devan akan tetap berusaha untuk mendapatkan Hanna, kalau karena masalah ini Papa membenci Devan. Devan siap keluar dari keluarga Papa, jadi jangan pernah halangi Devan untuk bersatu dengan Hanna!" kata Devan lalu ia pergi tanpa berpamitan.
Agatha tersenyum setelah Devan pergi, karena anaknya itu benar-benar sudah berubah. Memiliki pendirian adalah salah satu pilihan yang terbaik, sebab hidup tidak boleh ada yang memainkan. Karena semua keputusan hanya ada pada diri kita tanpa ada yang boleh menguasai diri kita.
__ADS_1
Sarah yang berdiri di depan pintu mendengar dengan baik tentang pertanyaan Devan, setelah Devan keluar dengan cepat Sarah masuk, "Pa apa Hanna adalah Raisa?" tanya Sarah to the point, bahkan Agatha saja sampai kaget dengan kedatangan Sarah yang tiba-tiba.