Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Pergi


__ADS_3

"Kau kan sangat senang dengan perceraian ini, tentu saja.....agar kau bisa bebas bukan?"


Hanna mengangguk, "Terima kasih atas luka yang kau berikan, terimakasih atas cinta palsu yang kau ucapkan, terimakasih aku akan mengenang ini semua dalam hidup ku, semoga kalian bahagia dengan kehidupan kalian berdua," kata Hanna penuh luka, tidak ada lagi air mata. Yang ada hanya kebencian saja, dan untuk kali ini Hanna tidak akan terperdaya lagi oleh seorang Devan Agatha Sanjaya.


Brak!


Devan menendang pintu dan ia pergi begitu saja, yang ada hanya amarah di dadanya dengan segala kebencian.


"Aku harap kau tidak akan tinggal di sini lagi," kata Diana tersenyum miring, "Kecuali kalau kau tidak punya malu!" ujar Diana.


Hanna melangkah mendekati Diana, tangan Hanna mencengkram rambut Diana, "Aku ini terbiasa hidup dalam kerikil, jadi jangan memancing ku!" kata Hanna.


"Lepas," Dian berusaha melepas tangan Hanna. Diana bahkan baru tahu tentang Hanna yang bisa berbuat demikian, "Kau kasar sekali!" kesal Diana.


"Kalau kau mau aku bisa melakukan lebih dari ini, dan kalau Tuhan mengijinkannya aku akan menyaksikan sendiri!" Hanna melepaskan rambut Diana dari cengkeraman nya, sungguh Hanna sangat tidak ingin menjadi wanita lemah lagi. Karen menjadi lemah akan terus mendapatkan penindas yang berkepanjangan.


"Keluar dari rumah ini, kau hanya benalu di sini!" setelah mengatakan itu Diana juga pergi dengan begitu saja.


"Hanna," Risa langsung memeluk Hanna, ia tidak kuasa melihat bertapa kejamnya Devan dan Diana.


"Sa, aku pergi dari sini," kata Hanna.


"Tapi Han," Risa sedikit khawatir dengan keinginan Hanna.


"Aku udah enggak kuat Sa," Hanna langsung memasukan bajunya kedalam tas miliknya, membawa semua apa yang menjadi miliknya. Kemudian ia menatap Risa, "Sa, bantu aku bawa Derren," pinta Hanna.


"Derren?" tanya Risa dengan jantung yang mulai berdetak kencang.


"Iya, aku mohon," pinta Hanna.


"Iya," Risa mengangguk pasti, tidak perduli dengan resiko yang nantinya ia dapatkan. Yang terpenting ia kini menolong Hanna terlebih dahulu, "Kita tunggu malam nanti," kata Risa.


"Makasih Sa," Hanna langsung memeluk Risa, ia benar-benar terharu dengan kebaikan Risa.


"Kamu tunggu di sini dulu ya," kata Risa, kemudian ia keluar dari kamar Hanna dan menuju kamarnya.


Risa mengambil ponselnya miliknya dan menghubungi Farhan di seberang sana, sebab hanya Farhan yang bisa menolong Hanna.


[Assalamualaikum tuan Farhan," Risa, langsung mengirimkan pesan tersebut.


Ting.


Ponsel Farhan berdering, Farhan kini tengah berada di ruang kerja Devan. Bahkan Devan juga bersamanya di sana, tidak lupa ada Diana juga.

__ADS_1


[Waalaikumusalam,] Farhan kembali membalas pesan tersebut.


Ting.


Dengan cepat Risa balasan pesan dari Farhan.


[Tuan saya butuh bantuan anda, saya mohon.....] Risa kembali mengirim pesan, walaupun perasaanya sedikit segan pada Farhan.


[Apa?] Farhan.


[Hanna ingin membawa tuan Derren, saya setuju menjadi istri anda, seperti yang anda tawarkan kemarin hari, tapi tolong bantu Hanna saya mohon,] Risa.


Beberapa Hari yang lalu Farhan memang mengatakan ingin menikahi dirinya, tapi Risa menolak karena ia tidak ada perasaan pada Farhan. Tapi kali ini ia setuju asalkan Farhan mau menolong Hanna.


Farhan menatap Devan yang tengah memijat kepalanya, sementara Diana yang berdiri di samping Devan. Setelah itu Farhan kembali menatap layar ponselnya.


[Tidak,] Farhan.


[Saya mohon tuan,] Risa.


[Tidak,] Farhan.


[Saya akan melakukan apa saja,] Risa.


[Terima kasih tuan,] Risa.


Risa tersenyum, karena ia berhasil membujuk Farhan. Tidak perduli dengan resiko yang akan ia tanggung nanti. Tapi kini Hanna sangat membutuhkan bantuannya sekali, dan entah mengapa Hanna sangat tidak tega melihat penderitaan Hanna.


Pukul 00:12 seperti yang tadi di katakan oleh Farhan. Cctv yang terpasang semua ia matikan, kemudian tidak lupa memadamkan listrik juga.


"Cepat Hanna, waktu mu tidak lama....di depan gerbang ada sebuah mobil, kamu bisa menumpangi mobil itu," kata Farhan.


Hanna yang menggendong Derren yang masih terlelap dalam pelukannya merasa terharu, "Makasih ya," kata Hanna.


"Hanna jaga diri baik-baik, dan semoga kau juga bisa bahagia dengan Derren," Risa memeluk Hanna, ia bersedih bila harus berpisah dari Hanna. Beberapa pulan tinggal dengan Hanna ia merasa memiliki seorang Kakak bahkan sahabat yang begitu setia.


"Aku pergi," Hanna tersenyum, ia benar-benar berterimakasih karena di balik kesulitan ini masih ada jalan yang berpihak padanya.


Kini Hanna berada dalam sebuah mobil, kemudian mobil itu melaju dengan kecepatan sedang membawa Hanna dan Derren pergi.


"Pak," kata Hanna yang duduk di jok belakang.


"Iya Non," jawab supir tersebut.

__ADS_1


"Saya turun di depan saja ya," pinta Hanna, karena ia tidak mau nanti sopir tersebut tahu dan melaporkan pada Farhan kemana ia pergi.


"Tapi ini tengah malam, bagaimana bisa Nona saya tinggal di sini," kata sopir itu dengan berat hati.


"Tidak apa Pak, tolong berhenti.


Sopir tersebut menepikan mobilnya, Hanna bergegas turun dengan membawa Derren di gendong nya. Kemudian dengan tas di tangannya, Hanna langsung berjalan secepat mungkin. Ia ingin mencari penginapan untuk malam ini, setelah itu besok pagi ia baru benar-benar pergi.


Di tengah gelapnya malam, Hanna terus berjalan tanpa arah. Karena belum juga mendapatkan penginapan ia sedikit kebingungan, hingga ada cahaya lampu mobil yang mengarah padanya. Hanna tersadar ia sudah berada di tengah jalanan.


"Aaaaaa....." teriak Hanna saat mobil itu mengarah padanya.


Citttt.....


Mobil itu mengerem dengan mendadak, seorang pria keluar dari dalamnya.


"Hanna," Adam langsung membantu Hanna untuk berdiri.


Deg.


Hanna sangat ketakutan karena yang menemukannya adalah Adam, Hanna yakin Adam tidak mungkin bisa membantunya.


"Hanna bangun," pinta Adam.


Hanna berdiri dan ingin berlari, tap lengannya di pegang oleh Adam.


"Jangan banyak bergerak, atau janin di rahim mu itu nantinya bermasalah," kata Adam.


Dan benar saja Hanna tidak lagi banyak bergerak, ia diam dan Adam tanpa bicara memasukan Hanna kedalam mobil. Hanna tidak lagi berbicara, ia mengikut saja. Dan Adam mulai duduk di kemudi.


"Kau mau kemana?" tanya Adam, "Kenapa membawa Derren?" tanya Adam lagi.


"Aku....." Hanna gemetaran dan ia berpikir jika mungkin ia tidak akan bisa pergi dari Devan, "Aku...."


"Aku tahu Hanna kau itu bukan hannya pengasuh untuk Derren, aku tahu kau adalah istri Kak Dev," ujar Adam sambil melihat jalanan.


Hanna langsung melihat Adam, ia pun masih di kuasai keterkejutan.


"Tidak usah takut, kau mau pergi dari hidup Kak Dev bukan?" tanya Adam lagi.


Hanna mengangguk dengan lemah, karena ia tidak tahu apa yang nantinya di lakukan Adam.


"Aku yang akan membantu mu," kata Adam, Adam menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


__ADS_2