Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Canggung


__ADS_3

Pagi ini Risa merasa tubuhnya begitu sakit, terutama pada bagian intinya. Dengan perlahan Risa turun dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi, setelah berendam dengan air hangat dengan waktu yang cukup lama Risa mulai membilas diri di bawah guyuran air shower.


"Mas," Risa terkejut saat melihat Hilman sudah berdiri di depan pintu kamar mandi, mungkin Hilman menunggunya keluar.


"Sudah selesai?" tanya Hilman, karena ia ingin segera mandi.


Risa mengangguk, ia mencengkram erat handuk pada bagian dadanya. Jika dari kemarin-kemarin Risa hanya biasa saja dengan balutan handuk di hadapan Hilman, namun tidak dengan sekarang. Sekarang Risa merasa ada rasa canggung, dan juga malu. Mengingat semalam apa yang sudah terjadi di antara keduanya.


"Cepat pindah dari sana, sebelum aku ikut menarik mu masuk ke dalam lagi. Lalu kita mandi bersama," kata Hilman.


Risa segera pergi dan takut jika kata-kata Hilman nantinya malah menjadi nyata, bukan Risa tidak mau. Hanya saja ia masih sangat lelah setelah di gempur semalaman penuh, bahkan ia baru bisa tidur setelah azan subuh dan bangun pukul 07:02.


Ibu Sintia merasa ada yang berbeda di pagi hari ini, jika biasanya Risa selalu heboh tapi tidak dengan pagi ini. Bahkan Hilman juga terlihat sesekali menyeruput kopi sambil melihat Risa, otak Ibu Sintia semakin berpikir keras. Apa yang tengah terjadi antara Risa dan Hilman, dan Ibu Sintia sangat takut jika Hilman menceraikan Risa.


"Kalian kenapa?" tanya Ibu Sintia memecahkan keheningan.


Risa hanya diam menunduk, dan menyendok makanan pada mulutnya. Risa memang sangat lapar, tapi rasa malu juga tidak kalah besar dan entah ia bisa menatap wajah Hilman hari ini setelah apa yang terjadi semalam. Sejenak Risa menyadari bahwa tidak perlu malu, dan canggung. Tapi tetap saja rasa itu datang dengan sendirinya, hingga Risa hanya bisa tetap berusaha tenang. Tidak ada penyesalan saat ia menyerahkan dirinya pada Hilman, karena itu sudah menjadi milik Hilman. Hanya saja Risa takut jika ia hamil dan Hilman tidak bisa menerimanya, pikiran bodoh itu seakan menghantui nya. Walaupun Hilman tidak mungkin seburuk yang di pikirkan oleh Risa.


"Hilman, Risa," Ibu Sintia masih bingung dan takut jika anak dan menantunya berkelahi, dan ia butuh penjelasan, "Kalian Kenapa?" tanya Ibu Sintia lagi.


"Memangnya kenapa Bu?" tanya Hilman kembali.


Ibu Sintia mendesus, dan ia merasa belum mendapatkan jawaban yang ia inginkan, "Kamu dan Risa kenapa diam, biasanya kalian ribut terus. Kalian tidak berfikir untuk berpisah kan?" tanya Ibu Sintia dengan perasaan was-was.

__ADS_1


"Uhuk.....uhuk....uhuk...." Risa seketika tersedak karena pertanyaan Ibu Sintia, sebab yang terjadi justru sebaliknya. Risa dan Hilman sudah menyatu layaknya suami istri pada umumnya.


Hilman memberikan air minumnya pada Risa,dan dengan cepat Risa meneguknya.


Ibu Sintia terkejut dengan perlakuan Hilman, dan mungkin dugaannya salah hingga ia bernafas dengan lega. Sebab ketakutan terbesarnya adalah perceraian antara Risa dan Hilman.


"Bu, Hilman ke kantor dulu," pamit Hilman.


"Iya, hati-hati."


"Risa juga Bu," pamit Risa.


"Iya," Ibu Sintia masih bingung dan bertanya-tanya apakah yang terjadi hingga pagi ini tidak ada keributan, dan ia merasa ada yang berbeda, "Apa mereka?" pikiran Ibu Sintia mulai mengarah pada sesuatu yang halal bagi pasutri, melihat Risa berjalan dengan begitu anggun sungguh berbeda dari biasanya. Kemudian bibirnya Ibu Sintia tertarik ke masing-masing sudutnya, "Cucu ku akan segera OTW," kata Ibu Sintia dengan senyuman bahagia.


"Risa," tangan Hilman memegang lengan Risa.


Risa yang ingin keluar dari ruangan Hilman tidak bisa keluar, ia berbalik dan menatap Hilman yang duduk di atas sofa.


"Iya?" jawab Risa.


"Aku ingin bicara," Hilman menepuk sofa di sampingnya.


Risa mengangguk dan segera duduk di samping Hilman, kemudian ia juga tidak tahu tentang apa yang akan Hilman katakan.

__ADS_1


"Apa kau menyesal?" tanya Hilman, ia yakin Risa tahu maksud pertanyaan nya.


"Menyesal?" tanya Risa balik.


"Iya, setelah semalam," jelas Hilman.


Risa menggeleng, "Tidak sama sekali," jawab Risa, "Saat aku bersedia menikah dengan mu, artinya aku sudah siap untuk itu. Dan saat kau sah menjadi suami ku artinya aku sudah siap pula memberikan hak mu."


Hilman terkejut dengan jawaban Risa, karena ternyata Risa begitu tulus menikah dengan dirinya. Dan ia juga merasa manusia paling bodoh, sebab selama ini menahan hasrat karena gengsi. Padahal Risa juga siap tanpa menolak.


"Apa aku terlalu murahan ya Mas?" tanya Risa, karena Hilman terlihat diam. Dan Risa tidak mengerti dengan pikiran Hilman saat ini.


Hilman yang menunduk beralih menatap Risa, ia tersenyum mendengar pertanyaan Risa yang terdengar konyol, "Murahan itu tidak seperti mu, kau itu justru wanita yang penuh kejutan dan aku tidak menyangka. Sekali lagi terima kasih."


"Mas boleh aku bertanya?" Risa merasa tidak baik jika terus menerus di landa bingung, ia takut salah dan lebih baik bertanya. Apa lagi mengingat Ibu Sintia yang sangat menyayangi dirinya.


"Apa?" Hilman menantikan hal yang akan di tanyakan oleh Risa.


Risa meneguk saliva, dan berusaha tetap tenang. Lebih baik bertanya dari pada ia melakukan kesalahan, "Mas, kita sudah....." Risa menatap Hilman dengan menggantungkan kata-kata nya, dan ia yakin Hilman tahu maksud nya, "Dan Ibu terang-terangan meminta cucu, tapi aku ingin bertanya. Karena aku tahu setelah semalam akan ada malam-malam berikutnya, apa kau mau aku mengandung anak mu atau tidak. Jika tidak aku akan menemui dokter, dan siap melakukan KB?" tanya Risa.


Hilman terkejut dengan pertanyaan Risa, tapi keinginan Hilman saat ini tidak ingin berpisah dengan Risa. Dan salah satu jalanan nya adalah Risa harus mengandung anak nya.


Risa terdiam menantikan jawaban Hilman, ia sedang ingin mendengar jawaban Hilman. Jika Hilman tidak ingin ia mengandung artinya Risa tidak akan melibatkan perasaan selama menjadi istri Hilman, Risa akan menjaga hati agar tidak pernah jatuh dalam pelukan Hilman, bahkan Risa akan mempersiapkan diri bila sewaktu-waktu ia dan Hilman bercerai.

__ADS_1


Risa tidak pernah tahu yang namanya di sakiti, sekalipun ia pernah di tolak oleh pria sebelum nya. Itu karena Risa pandai dalam menjaga hati nya, dan kali ini pun sama. Sekalipun ia sudah menyerahkan dirinya bukan berarti ia menyerahkan hatinya, dan ia sangat menantikan jawaban Hilman hingga ia pandai dalam menempatkan posisinya saat ini.


__ADS_2