
Tidak sanggup lagi untuk menahan rasa rindu, Devan kini benar-benar ingin menggunakan akal sehatnya. Tujuh bulan sudah berlalu Devan kini belum menemukan dimana keberadaan Hanna, yang ada ternyata ia mengetahui setiap anak buah yang ia kirim ada Agatha yang selalu berhasil menggagalkannya.
Brak!!
Devan lagi-lagi memukul meja kerjanya, ia memijat kepalanya sambil menunggu Farhan di ruang kerjanya.
"Selamat pagi bos?" sapa Farhan yang langsung masuk.
"Kenapa ini bisa terjadi!" Devan bertanya pada Farhan, karena ia benar-benar marah saat ini.
"Apa bos?" Farhan berpura-pura bodoh, padahal ia sudah tahu jika Devan tau tentang Agatha yang selalu menghalangi anak buah Devan untuk mencari Hanna.
Buuk!!
Devan langsung menghajar Farhan. Akhirnya Farhan terjatuh di lantai, "Kau memang tidak becus!" Devan keluar dari ruangannya sambil membawa amarahnya.
"Kalian bisa bermain licik? Aku juga bisa," batin Devan.
Devan kini mengemudikan mobilnya dan beberapa saat kemudian sampai di rumah, sesampai di rumah Devan di sambut oleh Sarah.
"Dev, apa ada yang tertinggal?" tanya Sarah. Karena baru dua jam lalu Devan berangkat ke kantor, tapi kini Devan sudah kembali lagi. Dan ini tidak biasanya Devan pulang dari kantor.
Devan tidak menjawab pertanyaan Sarah ia duduk di sofa, dan Sarah ikut duduk di sampingnya. Tidak lama kemudian seorang kepala asisten rumah tangga tidak sengaja melewati mereka, dan Devan langsung menatapnya.
"Hey!" kata Devan dengan suara berat dan tertahan nya.
Risa berbalik dan kini melihat Devan, "Anda memangil saya tuan?" tanya Raisa.
"Buatkan kopi!" titah Devan.
"Baik tuan," Risa menunduk, kemudian ia pergi menuju dapur dan menyeduhkan secangkir kopi untuk Devan, "Ini tuan," Risa meletakan nya di atas meja.
Devan menatap gelas itu, kemudian mengambilnya dan perlahan menyeruput nya, "Kopi apa ini!" Devan geram dan meletakkannya di atas meja kembali, "Kalau tidak bisa bekerja, tidak usah bekerja lagi di sini!!" geram Devan.
"Maaf tuan," Risa ketakutan, ia benar-benar takut pada Devan yang menyeramkan.
"Buatkan yang baru!" titah Devan.
"I.....iya tuan," Risa gemetaran dan ia mengambil cangkir kopi yang barusan di letakan Devan di atas meja, dan membawanya ke dapur.
"Devan, kamu kenapa?" Sarah yang tahu jika Devan tengah emosi berusaha menenangkan anaknya itu.
"Dasar gila," gumam Farhan. Farhan yang mengikuti Devan sampai di rumah melihat Devan yang marah-marah, bahkan menjadikan Risa sebagai sasaran kemarahannya. Dan itu adalah hal yang sangat tidak di sukai Farhan, karena ia cukup tertarik pada Risa.
__ADS_1
Tidak berselang lama, dengan kaki gemetaran Risa kembali membawa cangkir kopi yang baru, "Silahkan Tuan," kata Risa sambil meletakkan secangkir kopi di atas meja.
Devan menatap Risa dengan tajam, kemudian mengambil cangkir berisi kopi di atas meja. Perlahan Devan kembali menyeruput nya.
Krang!
Gelas itu jatuh dan berhamburan di lantai bersamaan dengan kopi panas di dalamnya.
"Devan kenapa Nak?" tanya Sarah yang juga sedikit takut akan Devan.
Devan berdiri dan menatap Risa dengan tajam, "Mulai hari ini kau tidak usah bekerja lagi di sini!!" kata Devan dengan tegas.
"Tuan," kaki Risa gemetaran, dan ia benar-benat ketakutan sekali, "Tuan saya di pecat?" tanya Raisa dengan mata yang berkaca-kaca.
Devan diam sambil menatap Risa penuh emosi, dengan tangan yang berkacak pinggang.
"Devan, Risa itu hanya melakukan kesalahan sedikit. Dan....." Sarah tidak berani lagi berbicara saat Devan menatap dirinya, Sarah menunduk dan merasa kasihan pada Risa.
"Tuan," Risa menangkup tangan nya dan memohon pada Devan, "Saya mohon tuan, saya tidak akan mengulangi nya lagi. Tolong jangan pecat saya," mata Risa mulai berkaca-kaca dan ketakutan.
"Keluar dari sini! Aku tidak mau melihat wajah mu lagi di rumah ini," jawab Devan.
"Tuan...."
"KE....LU....AR!" titah Devan menunjuk pintu dan melihat Sarah, "Suruh dia sekarang pergi dari sini Ma, atau Devan yang pergi dari rumah ini," kata Devan lalu pergi begitu saja.
"Nyonya saya mohon jangan pecat saya," pinta Risa berjongkok.
"Risa kamu bangun ya, saya juga tidak ingin kamu keluar dari sini," kata Sarah sambil membantu Risa untuk berdiri, "Begini saja, kamu keluar dulu dari rumah ini. Nanti kalau keadaan nya sudah tenang, kamu akan saya hubungin dan boleh kembali lagi bekerja di rumah ini," kata Sarah.
"Benarkah Nyonya?" tanya Risa sambil menghapus air matanya.
"Iya, kamu tahukan anak saya Devan seperti apa?" tanya Sarah.
Risa mengangguk karena ia sudah sangat paham dengan kekejaman Devan.
"Kamu tidak usah takut, nanti setelah anak saya tenang kamu akan saya hubungi ya," kata Sarah.
"Iya Nyonya," jawab Risa, walaupun hatinya kini bersedih karena takut.
"Sekarang kamu bereskan barang-barang kamu dulu, dan keluar dari rumah ini. Tapi untuk sementara waktu saja, jangan takut," Sarah berusaha meyakinkan Risa. Jika tidak akan ada yang terjadi.
"Iya Nyonya, tolong saya ya Nyonya," pinta Risa penuh harap.
__ADS_1
"Iya, tidak usah takut. Tidak akan lama," kata Sarah dengan tidak enak hati. Sarah ingin sekali berbicara pada Devan, tapi ia tidak memiliki keberanian. Sarah takut nantinya Devan lagi-lagi menganggap ia hanya anak angkat dan harus hidup dengan aturannya seperti dulu. Kini Sarah benar-benar serba salah, karena tidak tahu harus apa. Ini pula karena kesalahannya sendiri, hingga ia terjebak di posisi sulit seperti ini.
Risa mengangguk, ia segera menuju kamarnya yang berada di dekat dapur. Dengan rasa sedih ia membereskan barang-barang nya.
"Sabar ya Sa," kata seorang Art lainya.
"Iya," Risa mengangguk ia sangat sedih sekali, mengapa Devan begitu tega memecat dirinya. Padahal kesalahan nya pun tidak fatal, bahkan tidak jelas.
Risa keluar dari rumah besar itu, ia membawa tasnya. Hatinya sedih sekali karena Devan yang tanpa sebab memecat dirinya. Risa duduk di sisi jalanan, ia tidak tahu harus kemana. Hingga sebuah mobil sedan mewah berhenti di hadapan nya.
"Kau sedang apa?" tanya Farhan.
"Tuan Farhan, bisakah anda menolong saya," pinta Risa dengan penuh harap.
"Tapi kau sudah terlalu banyak aku tolong, aku takut kau tidak bisa membayar nantinya," kaya Farhan dengan santai.
Risa berdiri dan menatap Farhan, "Saya mohon tuan, saya tidak tahu harus kemana. Kampung saya itu jauh sekali."
"Lalu?" tanya Farhan santai.
"Saya mohon antarkan saya ke rumah Hanna, nanti kalau saya bisa bekerja lagi di rumah Nyonya Sarah. Saya tidak perlu menumpang lagi di rumah Hanna," kata Risa dengan penuh harap.
Farhan diam dan menimbang permintaan Risa sejenak.
"Saya mohon tuan, saya mohon," Risa menangkup kedua tangannya.
"Baiklah suatu hari ini ada imbalan nya!" kata Farhan.
"Iya, tidak masalah tuan. Asal Anda menolong saya," kata Risa setuju saja.
"Masuk...."
"Terima kasih tuan," Risa membuka pintu mobil dan ingin masuk.
"Kau pikir aku supir mu!" geram Farhan.
"Maksud anda tuan?" tanya Risa tidak mengerti.
"Duduk di depan!" titah Farhan.
"Iya Tuan," Risa turun dari jok belakang dan pindah duduk di depan bersebelahan dengan Farhan.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Farhan mengantarkan Risa ketempat yang di tuju. Lagi pula Farhan memang kasihan pada Hanna yang sebentar lagi akan melahirkan, dan Hanna butuh teman untuk membantu mengurus Derren.
__ADS_1
Sementara di belakang mobil Farhan ada sebuah mobil hammer hitam, mobil itu adalah mobil baru milik Devan. Ia memang sudah menyelidiki tentang Risa yang selalu dekat dengan Hanna, di tambah lagi ia dapat membaca gerak-gerik Farhan yang tertarik pada Risa. Sebenarnya Devan curiga pada Farhan yang memang tahu keberadaan Hanna, tapi Farhan tidak ingin memberitahukannya karena perintah Agatha.
"Kalian bisa bermain licik? Aku pun bisa!" Devan tersenyum penuh kemenangan dan terus mengikuti mobil Farhan.