Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Uji nyali yang sesungguhnya


__ADS_3

"Kau mau kemana?"


"Mau berenang, sambil berendam di kolam berenang. Kalau tidak, bau kotoran bebek ini tidak akan pernah hilang," jawab Risa sambil mencium bau tubuhnya yang terasa tidak enak.


"Em," Hilman mengangguk.


"Jangan bilang anda nyaman dengan bau ini!" tebak Risa.


Hilman terkejut dengan tuduhan Risa, sudah berulang kali ia keluar masuk dari kamar mandi dan memang masih terasa bau.


"Kalau ngomong jangan asal!" kesal Hilman.


"Siapa yang asal, udah ah....masih bau mau berendam di kolam renang," pamit Risa dan ia ingin pergi, tapi kemudian ia mundur kembali dua langkah dan menatap Hilman penuh intimidasi, "Jangan-jangan kau tidak pandai berenang, dan suka bau kotoran bebek?" tanya Risa.


Hilman melempar handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut nya pada wajah Risa.


"Ish..." Risa melempar dengan asal.


"Kalau bicara jangan asal, ayo kita lomba renang!" tantang Hilman.


"Siapa takut!"


Hilman terlebih dahulu keluar dari kamar, ia segera menuju kolam renang yang terletak di bagian samping rumah. Kolam renang dengan ukuran cukup besar dan mewah seakan mampu membuat jiwa terasa tenang, sudah cukup lama Hilman tidak berenang untuk menyegarkan pikiran nya. Namun tanpa di sangka karena insiden pagi tadi ia malas ke kantor dan memilih untuk berenang demi menghilangkan bau kotoran bebek.


"Kemana wanita aneh itu?" Hilman sudah cukup lama menunggu, namun Risa belum juga datang. Hingga Hilman merasa Risa takut padanya, dan menebak jika wanita itu tidak pandai berenang, "Apa dia takut!"


Dengan gerakan cepat Risa langsung mendorong Hilman, dan dengan tubuh besarnya Hilman terjatuh kedalam kolam renang.


"Ahahahhaha......" Risa tertawa terbahak-bahak karena Hilman tercebur kedalam kolam renang.


"Dasar!" geram Hilman dan ia mulai berenang ke sisi kolam.


"Ahahahahah.....aku itu bisa berenang tuan kaya!" kata Risa, sebab ia mendengar kata-kata Hilman barusan. Dan itulah penyebab ia mendorong Hilman kedalam kolam, "Jangan remehkan Clarisa ya," Risa tersenyum penuh kemenangan, dengan cepat tangannya melepaskan jubah handuk yang ia pakai. Dan berdiri di sisi kolam.

__ADS_1


Tubuh ramping dengan baju renang yang melekat pada tubuh Risa cukup memperlihatkan bertapa ia sangat cantik sekali, tanpa sadar Hilman mulai meneguk saliva karena melihat Risa yang sangat menantang dirinya.


"Apa wanita ini tidak waras," batin Hilman, matanya terus melihat Risa dengan baju renang berwarna merah yang membuat warna kulitnya begitu kontras. Dan jujur saja Hilman merasa panas, walaupun ia berada di dalam air yang dingin.


"Ayo kita adu berenang, siapa yang kalah selama satu minggu harus mengikuti kegiatan yang menang!"


Hilman diam dan ia hanya fokus pada kemolekan tubuh wanita cantik di hadapan.


"Tuan kaya!" seru Risa yang tidak mengerti dengan tatap haus Hilman akan dirinya.


"Ini baru uji nyali yang sesungguhnya," batin Hilman, "Iya, aku setuju. Dan kalau kau kalah kau tidak boleh ingkar janji!" tegas Hilman.


"Siapa takut, karena aku pasti menang," kata Risa dengan penuh percaya diri, sebab selama ini ia tidak pernah kalah dalam balap renang.


Ibu Sintia yang melihat dari kejauhan tersenyum, bahkan ia tidak memperbolehkan Art untuk berada di sekitar kolam renang. Sebab mengingat Risa yang berpakaian sangat mini, tentu saja Ibu Sintia tidak mau ada yang melihat Risa seperti itu, "Harapan memiliki cucu semakin terlihat," kata Ibu Sintia sambil terkekeh geli, kemudian ia pergi dan meninggalkan pasutri yang terus berkelahi namun terlihat menggemaskan.


"Tiga....dua....satu!"


Risa dan Hilman meloncat dengan bersama, keduanya berenang dan berusaha untuk menjadi pemenang dalam lomba yang mereka buat sendiri. Tidak ada yang ingin kalah ataupun mengalah, mengingat keuntungan pemenang dari lomba. Dan Ternyata Hilman lah pemenang nya.


"Ish...." Risa mengerutkan keningnya, kemudian ia menghentakkan kakinya karena kesal.


"Apa kau ingin mengingkari janji yang kau buat sendiri?" tanya Hilman dengan remeh, "Tentu saja, kau kan pengecut!"


Dengan nafas yang memburu dan dada yang naik turun Risa menatap Hilman, "Aku tidak akan ingkar janji, dan aku akan mengikuti kemauan anda!" kata Risa, sebab ia adalah wanita yang tidak pernah lupa akan janji. Apa lagi berhiyanat pada apa yang ia ucapkan sendiri.


"Bagus," tangan Hilman mengusap kepala Risa.


"Enggak usah pegang-pegang!" kesal Risa.


"Hehehe...." Hilman terkekeh melihat Risa yang tengah kesal, dan itu terlihat lucu sekali. Dengan cepat Hilman kembali berenang dan dengan sengaja membuat air menyembur mengenai wajah Risa.


"Ish...." Risa yang tengah kesal karena kalah tentu saja semakin kesal, ia dengan cepat berenang menyusul Hilman dan harus membalas nya.

__ADS_1


"Ayo kejar!" Hilman terus berenang menghindari Risa yang terus saja mengejar dirinya.


"Kalau kena, aku kucek-kucek..... coba saja!" geram Risa. Dengan lompatan yang cepat Risa berhasil naik ke atas punggung Hilman, "Rasakan ini," Risa berusaha semampunya memasukan Hilman kedalam air.


"Apa ini," Hilman merasa sesuatu besar dan bulat menempel sempurna pada punggungnya, "Apa mau wanita ini," geram Hilman.


"Ahahahhaha......" Risa tertawa saat melihat Hilman terhempas kedalam kolam, dan merasa sedikit bahagia.


"Dasar kau!" Hilman berbalik dan ingin membalas Risa, namun posisinya malah berubah memanas. Sebab tangan Risa memeluk leher Hilman, dan kakinya melingkar di pinggang Hilman.


"Kalau aku masuk, anda juga masuk. Kita berdua tercebur!" kata Risa penuh bahagia.


"Sial!" Hilman merasa udara panas, air yang dingin juga berubah panas. Risa benar-benar menguji jiwa kelakiannya untuk segera keluar.


"Sudah kita damai ya? Aku sudah lelah," pinta Risa yang sudah tidak ingin berkelahi dengan Hilman.


Hilman mengangguk dan membawa Risa ke atas, setelah itu Risa baru turun dari gendongan Hilman. Dengan cepat Risa mengambil jubah handuk dan masuk kedalam rumah.


"Risa!" panggil Hilman.


Risa yang sudah berjalan beberapa meter dari Hilman cukup terkejut, pertama kalinya Hilman memanggil namanya dengan baik. Sebab selama ini Hilman hanya memanggil hey dan kau, anda.


"Apa?" Risa berbalik dan melihat Hilman.


"Kopi!"


Risa memutar bola mata dengan malas, namun selama satu minggu ke depan ia harus menuruti keinginan Hilman, "Iya, tapi aku pakai pakaian ku dulu ya," kata Risa sebab ia sudah cukup kedinginan.


Hilman mengangguk, dan ia juga segera menyambar handuk. Kemudian masuk, karena ia juga ingin memakai pakaian terlebih dahulu. Sambil berjalan otak Hilman juga ikut berjalan, bahkan sudah traveling karena Risa yang membuatnya panas dingin.


"Dia itu sedang memancingku atau bagaimana?!"


*

__ADS_1


Tolong like dan Vote ya.


__ADS_2