Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Interogasi


__ADS_3

"Davi mau bilang sama Oma!!!" seru Davina dan ia segera menuju pintu.


Devan dan Hanna sangat shock mendengar perkataan Davina, dengan refleks Hanna dan Devan berteriak.


"Jangan!!!" seru keduanya bersamaan.


Davina berhenti berjalan, ia kemudian berbalik karena merasa lucu, "Wahahaaaa......Mama sama Papa lagi latihan vokal!" ujar Davina menertawakan kedua orang tuanya.


Tidak hentinya Davina menertawakan keanehan kedua orangtuanya, karena saat ini pun Hanna dan Devan masih terlihat kebingungan.


"Lihat Hanna, mungkin ini hanya bagian kecilnya. Dan kau tahu, jika kau menikah dengan orang lain belum tentu mereka nanti bisa mengerti dengan semua ini," bisik Devan pada Hanna.


Hanna mengangguk, dan mungkin apa yang sudah terjadi memang benar. Dan takdir tidak akan salah, jadi menikah lagi dengan Devan adalah tindakan yang benar. Sebab Hanna pun tidak ingin menjadi janda untuk yang kedua kalinya, berharap kini pun tidak lagi gagal seperti saat dulu.


"Papa sama Mama kenapa diam-diaman, terutama Papa!!!" kesal Davina.


"Papa sama Mama baru bangun tidur, capek ngomong!"


"Terus Papa tidur sama siapa?"


"Sama Mama," jawab Devan santai, "Ini tim interogasi yang tidak di bayar," gerutu Devan.


Hanna menahan tawa mendengar kata-kata Devan, sungguh pagi ini terasa sangat lucu. Karena tingkah Ayah dan anak yang aneh.


"Jawab!"


"Papa?" Devan menunjuk dirinya sendiri.


"Iya," Davina mangguk-mangguk, "Kata Papa dulu cewek tidur sama cewek, dan kaki-laki dengan laki-laki pas Davi pengen bobo sama Mama sama Papa," kata Davina dan ia menatap Devan penuh tanya, "Terus sekarang kenapa Papa bobo sama Mama di sofa!!!"


Bagai di hantam ombak yang besar, pertanyaan Davina seakan menyudutkan Devan saat ini. Bahkan untuk berbicara saja Devan sudah kehilangan suaranya.


"Davina mau sekolah kan?" Hanna ingin mengalihkan perhatian Davina, "Cantik sekali, ini seragam baru ya?" tanya Hanna tersenyum.


"Iya Ma, Davi di antar Papa ya," pinta Davina, dan sepertinya ia sudah tidak membahas hal yang barusan.


Devan dan Hanna terlihat lega, karena Davina sudah tidak banyak bertanya lagi.


"Papa mandi dulu, Davi tunggu di meja makan.


Sambil sarapan," pinta Devan.


"Ok," Davina mengangguk, ia berbalik lalu pergi.


"Huuuufff....."Devan dan Hanna saling melihat, karena keduanya merasa lebih baik.


"Mau mandi bersama?" goda Devan.

__ADS_1


Hanna langsung menggeleng, "Aku sedang datang bulan Mas," bohong Hanna, padahal ia sedang menahan malu. Lagi pula di dalam kamar mandi nanti pasti bukan hanya sekedar mandi saja, bukannya Hanna tidak mau. Tapi ia masih malu, sudah lama tidak bersentuhan dengan Devan ada sedikit kecanggungan yang terasa.


"Baiklah," Devan mengangguk, dan ia langsung masuk kedalam kamar mandi. Lagi pula tadi ia hanya bercanda saja, sebab takut jika Davina kembali ke kamar karena ia dan Hanna nantinya tidak turun. Dan saat itu mungkin Davina bisa melihat hal yang lebih dari yang barusan.


"Huuuufff....ya ampun aku kenapa?!" gumam Hanna sambil memegang dadanya.


Sambil menunggu Devan selesai mandi ia mencari baju ganti untuk Devan, tidak sulit untuk menemukan baju untuk Devan. Lemari milik Devan memang masih terisi penuh dengan baju-baju nya saat dulu, bahkan Hanna sama sekali tidak mengijinkan lemari beserta isinya itu di keluarkan dari kamarnya. Setelah mendapatkan apa yang ia cari Hanna meletakan nya di atas ranjang, tidak berselang lama Devan keluar dari dalam kamar mandi.


Hanna berbalik, tubuh kekar Devan terlihat begitu menggoda. Dengan otot-otot yang besar dan jangan lupakan roti sobek yang membuat siapa saja bisa meleleh.


"Masih ingat?" tanya Devan yang membuyarkan lamunan Hanna.


"Em," Hanna gelagapan dan ia ingin pergi tapi dengan cepat Devan menariknya.


"Mas aku mau mandi," kata Hanna panik.


"Mandi madu?" tanya Devan sambil menyeludupkan wajahnya pada tengkuk Hanna.


"Mama, Papa!!!" seru Davina yang kembali lagi ke dalam kamar.


Hanna cepat-cepat menjauh, begitu juga dengan Devan.


"Tunggu di bawah!" kesal Devan.


"Lama banget sih!!!" jawab Davina yang tidak kalah kesal.


Hanna sangat terkejut dengan perkataan Devan, padahal dari tadi Devan yang terus saja menggoda dirinya.


"CK...." Hanna berdecak kesal dan ia langsung melenggang masuk ke dalam kamar mandi.


"Ok, Papa pakai dulu pakaian ini ya."


"Cepat Pa!"


"Iya cerewet!!"


Devan sudah mengenakan kemeja putih berpadu jas hitam, dengan celana yang juga senada dengan warna jasnya. Ia menuruni anak tangga bersama dengan gadis kecilnya Davina, terlihat sangat lucu dan menggemaskan sekali. Bahkan Sarah dan Agatha begitu tersenyum saat melihat Davina yang seakan bangga bisa bersama dengan Devan.


"Pagi Oma, Pagi Opa!!!" teriak Davina sambil mendekati meja makan.


"Lihat Pa, kita tidak salah kan?" tanya Sarah dengan bangganya, kemudian ia kembali melihat Davina, "Pagi juga," jawab Sarah yang tidak kalah bahagia.


"Papa kok pagi-pagi udah di sini?" tanya Derren yang tidak tahu jika tengah malam tadi kedua orang tuanya sudah menikah lagi.


"Derren enggak suka?" tanya Devan yang kini duduk bersebelahan dengan Davina.


"Suka Pa, tapi biasanya kan Papa datang bukan nginep di sini," jelas Derren.

__ADS_1


"O, begitu," Devan tersenyum dan mengacak rambut Derren dengan gemas.


"Jangan Pa, Derren mau ketemu doi," Derren kembali merapikan rambut nya yang di rusak oleh Devan.


"Kak Derren nanti malam Davi bakalan bobo sama Mama, sama Papa," ujar Davina dengan bahagia.


"Serius?" tanya Derren.


"Iya dong," Davina tersenyum bangga, "Ya kan Pa?" tanya Davina.


"Iya," Devan dengan terpaksa mengangguk, andai saja anak-anak nya tahu jika ia ingin tidur berdua saja dengan Hanna.


"Derren juga ah," timpal Derren yang tidak kalah bahagia.


"Mama mana?" tanya Sarah.


Davina langsung menatap Sarah, "Oma tahu enggak?" tanya Davina.


"Apa?" tanya Sarah, dan ia menantikan apa yang akan dikatakan oleh Davina.


"Tadi itu Davi lihat kalau Mama di timpa Papa, terus Papa....." Devan langsung menutup mulut Davina.


"Davina diam, dan enggak boleh cerita. Nanti Papa belikan boneka cantik terbaru," bisik Devan.


Davina mengangguk setuju, ia rasa tawaran Devan jauh lebih menarik.


"Mama ke toilet dulu," Sarah segera berdiri dan pergi.


"Papa juga," Agatha juga segera menyusul Sarah, seperti keduanya tengah malu karena mendengar kata-kata Davina barusan.


"Terus lanjutin cerita nya," pinta Adam sambil menahan tawa.


"Terus...." Davina dengan polosnya malah ingin melanjutkan ceritanya, tapi Devan lagi-lagi menutup mulut Davina dengan tangannya.


"Boneka?" tanya Devan.


Davina mengangguk, dan tidak lagi berbicara.


"Ayo sekolah, sarapan di sekolah saja," Devan langsung menarik Davina.


"Derren juga!!" teriak Derren sambil berlari menyusul Devan dan sang Adik yang sudah menuju mobil terlebih dahulu.


"Ahahahhaha...." tawa Adam terus menggelar, karena cerita Davina yang memergoki kedua orang tuanya yang tengah bermesraan.


*


Jang lupa like dan Vote.

__ADS_1


__ADS_2