Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Rikues


__ADS_3

Hanna merasa lega setelah melihat Hilman dan Risa tersenyum bahkan keduanya tertawa seolah tidak ada beban, ataupun masalah seperti yang di pikirkan Hanna selama ini.


"Sayang honeymoon yuk," ajak Devan.


"Mas apasih!"


"Hehehe....."


Sampai di rumah keduanya langsung di sambut oleh kedua bocah yang lucu namun terkadang juga membuat orang di sekitarnya pusing.


"Mama!!!" seru Davina sambil menghambur memeluk Hanna.


"Anak Mama," Hanna langsung berjongkok dan mengangkat tubuh putrinya.


"Ma, Davi mau rikues," kata Davina yang kini beralih minta Devan yang menggendongnya.


"Rikues?" tanya Hanna bingung.


Davina mengangguk, dan ia melihat Derren yang hanya diam mendengarkan apa yang di katakan oleh Davina.


"Kak Derren jahat, dia terus nakal ke Davi. Terus kata Ayah Davi minta adik aja sama Mama sama Papa," jelas Davina.


Glek.


Hanna meneguk saliva karena kata-kata Davina yang sungguh di luar pikirannya, bahkan Hanna juga tidak ada niatan untuk menambah anak lagi. Sebab ia hanya ingim membahagiakan kedua anaknya yang selama ini tidak pernah mendapat bahagia seperti teman-teman seumur mereka, karena Hanna takut kedua anaknya tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup.


"Sayang, Davina minta tuh. Kita buat yuk," kata Devan sambil mengkedipkan sebelah matanya.


"Buat-buat doang, cuman buat aja enak. Mas pikir hamil sama melahirkan gampang!" ketus Hanna.


Glek.


Devan mulai menurunkan Davina dari gendongan nya, dan ia merasa tersudut dengan kata-kata Hanna.


"Davi minta adik sama Ayah aja, atau sama Mbak Kinan. Minta sekalian dua ya," kata Hanna pada Davina.


"Emang bisa Ma?" tanya Davina dengan polosnya.


"Bisa, nanti begitu Ayah pulang dari kantor. Davi bilang pengen adik dari Ayah, terus Davi kunci Ayah di kamar nya Mbak Kinan," Hanna ingin sekali mengerjai Adam, karena berulang kali sudah Adam mengerjai dirinya tapi tidak satu kali pun yang ia balas. Dan nampaknya kali ini Hanna bisa menyalurkan dendamnya.


"Iya Ma," Davina mengangguk dan cengengesan.

__ADS_1


"Mama ke kamar dulu."


Sampai di dalam kamar Devan langsung mengunci pintu, ia tidak ingin malah Davina kembali memergoki dirinya bersama Hanna yang tengah bermesraan.


"Sayang," Devan langsung memeluk pinggang Hanna.


"Mas apasih," Hanna merasa risih saat Devan mendekati dirinya, rasanya ia masih merasa malu. Padahal apa lagi yang harus malu, Devan adalah pria yang pertama kali menyentuhnya.


"Davina minta adik," bisik Devan di telinga Hanna.


"Apaan sih Mas," wajah Hanna seketika bersemu merah dan ia cepat-cepat melepaskan tangan Devan, yang melingkar di pinggangnya. Setelah itu Hanna langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Devan tersenyum melihat istrinya yang malu-malu, "Sayang, Mas nyusul ya," Devan langsung masuk kedalam kamar mandi menyusul Hanna.


"Mas!!!" seru Hanna.


"Hehe....." Devan tertawa kecil karena kelucuan Hanna, "Kau seperti perawan saja," celetuk Devan.


"Mas apasih!"


"Udah sering juga!" kata Devan lagi.


"Mulutnya!"


"Mas!!!"


"Ahahahhaha......"


Davina langsung berlari menuruni anak tangga, ia menangis sambil mengejar Oma Sarah yang baru saja kembali dari luar kota menemani Opa Agatha.


"Oma, Opa.....hiks....hiks....hiks...."


"Lho, kok cucu kesayangan Oma menangis?" tanya Oma Sarah.


"Mama sama Papa jahat," adu Davina sambil terus menangis.


"Lho kenapa?"


"Pintu kamar di kunci, Davi pengen masuk," adu Davina lagi sambil terus menangis.


Oma Sarah dan Opa Agatha langsung saling melihat satu sama lainnya, keduanya merasa geli mendengar keluh Davina.

__ADS_1


"Ya udah, Davi sama Oma. Sama Opa aja," ajak Oma Sarah.


"Opa punya hadiah juga buat kalian," tambah Opa Agatha.


"Serius Opa?" tanya Davina yang sudah tidak lagi menangis.


"Iya, coba saja ke mobil. Mbak Kinan lagi Opa minta tadi ambilkan buat Davi."


Davina tersenyum dan ia cepat-cepat menyusul Mbak Kinan yang berada di halaman tengah mengambil mainan miliknya.


"Ada-ada saja pengantin basi itu!" kesal Oma Sarah, ia sangat tidak suka jika cucu kesayangan nya mengadu seperti barusan.


"Mama sudah lah, Mama juga seperti tidak pernah muda saja," Opa Agatha memperingati Oma Sarah, "Masa Mama enggak mengerti."


"Tapi enggak papa juga sih Pa, biar bentar lagi kita dapat cucu lagi," celetuk Oma Sarah sambil terkekeh geli.


"Mama udah pulang," Adam yang baru saja pulang dari rumah sakit melihat kedua orang tuanya yang sudah kembali.


Oma Sarah dan Opa Agatha kini beralih menatap Adam. Oma Sarah melihat penampilan anak bungsunya, kemeja putih dengan celana hitam yang membuat putra nya begitu terlihat gagah dan tampan. Jas putih yang menggantung di tangan anaknya semakin membuat ketampanannya terpancar, tapi Oma Sarah bingung mengapa anaknya tidak pernah membawa kekasihnya untuk di perkenalkan pada anggota keluarga.


"Mama kenapa?" Adam bisa melihat tatapan Oma Sarah yang aneh, hingga ia penasaran apa yang tengah di pikirkan Oma Sarah tentang dirinya.


"Adam, kamu itu tampan, dokter, tapi kok kamu tidak pernah bawa pacar. Kamu kapan nikah, Mama juga pengen gendong cucu dari kamu," kata Oma Sarah.


"Tenang Ma, nanti bakalan Adam bawa. Adam udah punya calon," jawab Adam dengan yakin.


"O....." Oma Sarah mengangguk mengerti, "Kalau kamu tidak punya calon ada Kinan," celetuk Oma Sarah.


"CK...." Adam langsung merasa geli, karena ia tidak tertarik sedikit pun pada Kinan.


"Kenapa?" tanya Oma Sarah yang bingung melihat exspresi putranya, "Kinan cantik, baik, pinter ngurus anak. Salahnya di mana? Karena dia enggak sarjana?" tanya Oma Sarah, "Memangnya kenapa kalau tidak sarjana? Yang pentingkan bisa masak, ngurus anak, ngurusin suami. Percuma kalau kamu sarjana kamu enggak di urus, kerjanya cuman Selvi sama main medsos!" kata Oma Sarah lagi.


"Mama apasih! Enggak ada hubungannya sama sarjana atau enggak! Tapi Adam memang tidak tertarik," jelas Adam, "Nanti Adam bakalan bawa calon Adam. Mama tenang, atau Mama mau Adam langsung bawa cucu buat Mama," celetuk Adam.


"Maksud kamu apa!?" Oma Sarah kini menatap Adam dengan kesal, karena Adam sangat suka sekali menggoda dirinya.


"Ya kali Mama mau, jadi biar Adam kasih cucu buat Mama. Langsung Ma, biar lebih cepat," kata Adam lagi.


"Jangan main-main!" Oma Sarah langsung memukul Adam dengan tas tangan miliknya.


"Ahahahhaha......" tawa Adam pecah saat melihat wajah kesal Oma Sarah, hal yang sangat lucu menurut Adam.

__ADS_1


Sebenarnya ia juga bingung apa wanita yang ia sukai itu mau di ajak menikah, sebab Adam juga belum pernah mengajak dengan serius. Tapi ia memang cukup tertarik pada wanita tersebut, seorang perawat yang cukup menarik.


__ADS_2