Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Tawaran


__ADS_3

Hari-hari berlalu Devan tidak ingin menyerah dalam menggapai cinta mantan istrinya, setelah ia keluar dari rumah sakit Devan kembali berkunjung ke rumah Hanna. Sekaligus Devan ingin melihat kedua anaknya.


Hiks....hiks...hiks....


Terdengar suara tangisan Derren yang sangat kencang, bahkan ia memang dari pagi tadi terus menangis.


"Mama, Papa mana?" tanya Derren, beberapa hari tidak di kunjungi sang Papa tanpaknya ada kerinduan di hati bocah berusia dua tahun lebih itu. Karena memang ia mulai terbiasa akan adanya Devan.


Hanna tidak tahu harus bagaimana, tidak tega jika harus memarahi Derren. Lagi pula Derren masih terlalu kecil dan tidak mengerti apa-apa.


"Papa di rumah sakit, nanti kalau Papa sudah sembuh....pasti Papa dateng buat main sama Derren," jelas Hanna, ia berjongkok agar imbang dengan putra sulung nya.


Derlen mau Papa tekalang," kata Derren yang terus merengek.


"Iya," Hanna memeluk Derren, dan berusaha menenangkan sang anak.


Sampai akhirnya Derren dan Hanna mendengar suara Devan.


"Assalamualaikum," ucap Devan yang berdiri di depan pintu.


Derren sangat mengenal suara itu, itu suara Papa nya yang ia rindukan karena berhari-hari tidak berjumpa.


"Papa!!!!" seru Derren.


Derren langsung melepaskan diri dari pelukan sang Mama, ia berlari cepat menuju Devan.


"Anak Papa," ujar Devan seraya tersenyum lembut, dengan cepat Devan langsung menggendong Derren. Devan juga mencium pipi cabi sang putra yang juga sangat ia rindukan sekali, "Papa kangen," ujar Devan.


"Hehehe......" Derren tersenyum sambil menunjukan dua baris gigi nya yang hampir sudah tumbuh semua.


"Papa kangen," kata Devan lagi yang terus memeluk Derren dengan erat.


Hanna hanya menatap dari dalam, setelah itu ia masuk ke kamar melihat putrinya. Meninggalkan Derren dan Devan berdua saja.


"Kamu enggak kangen-kangenan sama Papa nya Derren Han?" tanya Risa dengan mengejar Hanna.


"Jangan ngaur!" kesal Hanna, "Biarkan saja kalau Derren sama Davina ketemu sama Papanya. Tapi aku kan enggak," kata Hanna lagi.


"O," Risa mengangguk sambil senyum-senyum.


"Kamu kesambet ya?" tanya Hanna yang kesal pada Risa yang mengejek dirinya.

__ADS_1


"Lho kok aku kesambet?" tanya Risa balik.


"Mana tau, atau kamu yang mau sama Papa nya Derren," tebak Hanna, "Kalau mau aku dukung," tambah Hanna lagi.


"Enak aja, aku ini masih ting-ting ya Han. Aku enggak akan mau sama duda, lagian kamu aneh-aneh aja," kata Risa yang memang tidak pernah tertarik pada Devan.


"Assalamualaikum," ucap seorang wanita dari arah luar.


"Waalaikumusalam," jawab Hanna, "Kamu gendong Davina, itu kayaknya pelanggan aku yang mau ambil gaun," kata Hanna dan segera memberikan Davina pada Risa, kemudian Hanna bergegas keluar dari kamar, "Mbak Kiara," kata Hanna tersenyum ramah, "Masuk Mbak," kata Hanna.


"Terima kasih," Kiara masuk dan melihat-lihat banyak manekin yang di pakaikan gaun yang begitu indah sekali, "Bagus sekali gaun ini Han," Kiara sampai takjub melihat hasil jahitan Hanna.


"Mbak bisa aja, mujinya berlebihan," kata Hanna yang malah merendah.


"Aku serius Han," Kiara kembali melihat-lihat beberapa gaun, "Han, gimana kalau kita kerja sama. Aku kan mengelola sebuah butik, dan desainer aku yang lama mengundurkan diri. Ada sih desainer lain, tapi enggak terlalu ok. Mungkin kalian bisa kerja sama, lagian juga ya Han. Ini gaun yang kamu jahit juga pesanan pelanggan aku," ujar Kiara dengan senyuman.


Hanna diam dan menimbang permintaan Kiara, ia tidak langsung memutuskan. Karena mungkin bekerja terikat dengan orang lain cukup rumit, tapi ia pun butuh uang untuk mencukupi kebutuhan kedua anaknya.


"Kamu enggak usah takut Han, gaji kamu besar. Aku jamin itu. Apa lagi kalau sampai gaun kau ikut kompetisi dan menang, kamu dapat riwatd. Jangankan ikut begitu Han, kalau pelanggan puas saja kamu sudah dapat bonus," jelas Kiara yang berusaha meyakinkan Hanna.


"Apa iya Mbak?" tanya Hanna.


"Iya, coba kamu pikirkan. Ini tawaran bagus. Kalau kamu setuju aku yang bakalan rekomendasi kamu ke atasan," Kiara memberikan kartu namanya pada Hanna, "Panggil Kiara aja, biar lebih enak. Kita kerjanya nanti enggak ada atasan dan bawahan. Semuanya rekan kerja dan harus kerja sama dengan baik," jelas Kiara lagi.


"Jangan kelamaan, kesempatan enggak datang dua kali," Kiara tersenyum dengan yakin pada Hanna, "Mana gaun nya," pinta Kiara.


Hanna mengambilnya, dan memberikan nya pada Kiara.


"Ini uang sisanya," Kiara memberikan uang nya pada Hanna, karena memang ada panjar saat akan menjahit. Lalu di lunasi setelah gaun selesai di jahit.


"Aku harus hati-hati banget Kiara, sama gaunnya. Soalnya harga bakalnya mahal banget," kata Hanna, "Apa nanti di butik juga aku bakalan rancang gaun dengan kain nya mahal-mahal?" tanya Hanna.


"Iya, tapi nanti lama-lama kamu bakalan terbiasa. Lebih baik kamu pikirkan baik-baik, aku juga dulu itu orang susah. Sekarang aku udah bisa bikin rumah buat orang tua, bisa beli mobil," kata Kiara pada Hanna.


"Besok aku datang ke butik nya ya," kata Hanna tersenyum lembut.


"Di tunggu," Kiara pergi dan ia dengan senang hati besok menunggu kedatangan Hanna.


Hanna sejenak diam dan memikirkan tawaran dari Kiara, "Enggak ada salahnya mencoba," gumam Hanna.


"Mama," seru Derren.

__ADS_1


Hanna tersenyum dan ia menatap keluar sambil melihat Derren.


"Ma main yuk," kata Derren.


"Main apa?" tanya Hanna.


"Main kuda-kudaan, Derren udah naik. Papa jadi kudanya, tekalang Mama naik Papa jadi kudanya," pinta Derren.


Glek.


Hanna meneguk saliva mendengar permintaan putranya, bocah ingusan itu tampaknya terlalu polos.


Begitu juga dengan Devan, ia juga terkejut dengan permintaan Derren, "Mama sama Papa udah sering main kuda-kudaan," timpal Devan.


Hanna semakin terkejut mendengar kata yang di ucapkan oleh Devan, "Mas kalau ngomong jangan asal!" geram Hanna.


"Mmmmfffffpp....." Risa menutup mulut sambil menahan tawa, ia mendengar pembahasan Hanna dan Devan. Sebab ia duduk di kursi sambil memangku Davina yang sudah berusia tiga bulan.


"Apanya yang asal?" tanya Devan balik.


"Kamu ngomong sering main kuda-kudaan sama aku!" geram Hanna.


Devan mendekati Hanna, ia mendudukkan Derren pada kursi yang ada di teras. Lalu kembali mendekati Hanna.


"Enggak usah dekat-dekat!" Hanna mencoba untuk menjauh.


"Siapa yang mau dekat-dekat!" kata Devan memberi alibi, padahal ia sangat senang bila berdekatan dengan Hanna, "Aku bilang begitu agar Derren tidak lagi meminta mu untuk main kuda-kudaan, kamu mau main kuda-kudaan sama aku?"


Hanna mengeluarkan keringat sambil menggelengkan kepalanya.


"Makanya jangan mikir aneh-aneh, atau kau sedang mengingat masa main kuda-kudaan saat kita dulu?" tanya Devan penuh curiga.


Mata Hanna seketika melebar, ia terkejut mendengar perkataan Devan, "Enak aja!" dengan cepat Hanna pergi, karena tidak ingin terus di tanyai hal aneh oleh Devan yang akan membuatnya berkeringat dingin. Hanna langsung masuk kedalam kamar.


Risa menyusul Hanna, "Busuk-busuk kapal di laut pasti masih ada pakunya yang tertinggal ya Han," kata Risa santai.


"Maksud kamu?!"


"Enggak papa, cuman ya walaupun udah cerai. Dan enggak cinta masa-masa indah nya pasti masih bisa di bayangkan," jawab Risa.


"Kurang asem!" Hanna melemparkan sebuah lipstik pada Risa.

__ADS_1


"Ahahahhaha......" Risa tertawa karena melihat Hanna kesal. Dan ia segera keluar dari kamar .


__ADS_2