Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Malak suami


__ADS_3

Selesai makan siang Risa dan Hilman keluar dari restoran, keduanya berjalan saling memegang tangan. Sampai akhirnya Hilman membuka pintu mobil untuk Risa, setelah menutup kembali Hilman juga masuk lalu duduk di kursi kemudi.


"Mas, masih ada kerjaan?" tanya Risa.


Hilman yang tengah mengemudi sekilas menatap Risa, "Ada," jawab Hilman.


"Mas, Risa capek banget. Risa pulang duluan ya? Naik taxi aja," pinta Risa.


Hilman tidak menjawab ia terus saja mengemudikan mobilnya, sampai akhirnya keduanya sampai di rumah.


"Yuk turun," kata Hilman.


Risa mengangguk, dan ia langsung turun. Setelah itu ia berjalan di depan Hilman.


"Risa," panggil Ibu Sintia dari arah belakang, dan Ibu Sintia segera berjalan ke arah Risa.


"Kenapa Bu?" tanya Risa yang berhenti melangkah.


"Karena kamu sudah pulang, tolong bantu Ibu membuat kue ya," pinta Ibu Sintia sambil tersenyum, kemudian tiba-tiba matanya melihat ada tanda aneh di tengkuk Risa, "Leher kamu kenapa?" Ibu Sintia masih belum mencerna dengan baik, dan dengan bodohnya malah bertanya.


Risa menatap Hilman yang berdiri tidak jauh darinya, "Mas Hilman Bu, enggak tahu tempat banget. Dan gara-gara tanda macan ini Risa malu banget di kantor," adu Risa sambil menatap Hilman dengan tajam.


Hilman langsung menyentil jidat Risa, setelah itu ia langsung menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamar.


"Ibu....." seru Risa mengadu pada Ibu Sintia.


"Hehehe......" Ibu Sintia mendadak terkekeh, karena kelucuan Risa dan Hilman, "Kenapa mereka mendadak menggemaskan," gumam Ibu Sintia, kemudian ia menatap Risa kembali, "Risa sini," Ibu Sintia langsung menarik Risa ke dapur.


"Bu Risa ganti baju dulu ya," pinta Risa saat tangannya di tarik menuju dapur.


"Nanti saja," Ibu Sintia mengambil tas tangan milik Risa dan meletakan nya asal di atas meja makan, "Kamu duduk dulu," Ibu Sintia menarik kursi meja makan dan meminta Risa untuk duduk.


"Bu minumnya ada nggak sih Bu," pinta Risa setelah ia duduk, namun tenggorokan nya terasa kering.


"Ada," Ibu Sintia mengangguk dan mengambil air putih, "Ini," Ibu Sintia meletakan di atas meja.


Risa langsung meneguk air tersebut, "Makasih Bu," rasa haus Risa sudah hilang, namun ia bingung mengapa Ibu Sintia menariknya ke dapur, "Ibu mau bicara apa?"


Ibu Sintia tersenyum dan ia juga ikut duduk di kursi bersebelahan dengan Risa, "Risa," panggilan Ibu Sintia.

__ADS_1


"Ibu mau ngomong apa, dari tadi Risa....Risa terus," omel Risa sambil tangannya mengambil satu buah apel dan langsung memakannya, bukannya Risa marah tapi Risa memang seperti itu. Ia memang terlihat ketus sebab ia sudah menganggap Ibu Sintia sama seperti Mom Citra.


Ibu Sintia menarik nafas, karena pertanyaan nya mungkin sedikit aneh. Tapi tidak, ini sangat aneh. Namun, karena penasaran ia harus bertanya, "Risa," panggil Ibu Sinta dengan ragu.


"Ibu mau ngomong apa sih?" tanya Risa yang malah bingung pada Ibu Sintia.


"Em, enggak jadi deh," Ibu Sintia merasa bingung antara bertanya atau tidak.


"Yah Ibu," Risa menunjukkan wajah kecewa.


"Huuuufff....." Ibu Sintia menarik nafas, dan kali ini ia harus bertanya, "Risa kamu dan Hilman?" Ibu Sintia menggabungkan kedua tangannya, berharap Risa mengerti.


Risa malah bingung dengan pertanyaan Ibu Sintia, "Apanya Bu, kalau nanya yang jelas Bu," kesal Risa, sebab ia tidak mengerti.


"Ya ampun punya mantu polos begini ada enaknya, ada kesalnya," gumam Ibu Sintia, "Maksud Ibu, kamu dan Hilman udah bikin cucu buat Ibu?" wajah Ibu Sintia memerah, karena pertanyaan nya sendiri. Tapi Ia harus bertanya, kalau tidak ia berencana untuk mengisi gelas Hilman dengan obat perangsang. Sebab Ibu Sintia tidak mau kehilangan Risa sebagai menantu nya.


"O," Risa terlihat santai, menurutnya itu pertanyaan hanya biasa saja.


"Apanya yang O!!!" kesal Ibu Sintia, "Di jawab dong!" Ibu Sintia sebenarnya mati-matian menahan malu, tapi Risa terlihat santai tanpa beban.


"Ibu tahu?" tanya Risa dengan wajah serius nya.


"Mas Hilman tadi malam bikin Ris...." tiba-tiba mulut Risa tertutup oleh sebuah tangan hingga ia tidak bisa lagi berbicara, "Mmmm...." Risa ingin di lepaskan.


"Ikut," Hilman langsung membawa Risa pergi.


"Risa mau bilang apa ya," gumam Ibu Sintia bingung, "Mungkin saja mereka sudah," Ibu Sintia tersenyum, "Aku akan punya cucu," Ibu Sintia tersenyum bahagia.


Hilman langsung melempar Risa ke atas ranjang, karena ia sangat kesal sekali.


"Aduh apasih!" kesal Risa, walaupun tidak sakit tapi ia marah pada Hilman.


"Kalau kamu cerita ke Ibu, abis kamu sama Mas!" ancam Hilman.


"Ibu!!!" seru Risa.


Hilman cepat-cepat menutup pintu kamar, agar suara Risa tidak terdengar ke luar.


"Enggak ada Ibu-ibu!!!" jawab Hilman.

__ADS_1


"Nanti Risa bilang sama Ibu, Mas udah buat Risa pingsan!" kata Risa yang juga mengancam Hilman.


"Sekalian bilang, kamu keenakan pas Mas masuk!" kata Hilman, "Peraktek kan juga teriakan kamu!" geram Hilman, "Mau Ibu tahu?" Hilman naik ke atas ranjang dan menindih Risa.


Risa menggaruk kepalanya, kemudian ia menggeleng, "Enggak, malu tau Mas!"


"Makanya, jangan bilang ini rahasia kita berdua," kata Hilman lagi tanpa pindah dari posisi nya.


"Em...." Risa mengangguk, dan mendorong Hilman agar bangun dari atas tubuhnya. Setelah Hilman turun Risa duduk dan memegang sebuah dompet kulit dengan harga murah, "Dompetnya harga kaki lima ya," ejek Risa.


Hilman yang duduk di sisi ranjang langsung melihat Risa, dan ternyata ada dompetnya di sana, mungkin Risa mengambil nya dari saku celananya barusan, "Kembalikan," pinta Hilman.


Risa menggeleng, tangannya bergerak membuka dompet tersebut dan mengambil satu buah black card, dan satu buah ATM.


"Kau mau apa?" tanya Hilman bingung.


"Ini!" Risa memberikan dompetnya pada Hilman.


"Itu?" Hilman menunjuk card miliknya yang di pegang Risa.


Risa langsung menyimpan nya ke dalam saku blazer miliknya, dan menepuk-nepuk dari luar, "Ini udah punya Risa."


Hilman mengangkat sebelah alisnya, karena terkejut mendengar kata-kata istri anehnya, "Sejak kapan?" tanya Hilman sambil terkekeh.


"Ish....." Risa mengibaskan tangannya, "Risa kan udah jadi istri Mas yang sebenarnya, Mas juga harus jadi suami yang sebenarnya. Risa kan juga butuh uang, buat, ke salon, beli skincare, belanja," jelas Risa dengan senyum miring.


"Hehehe....." Hilman malah gemas pada Risa, jika istri di luar sana akan malu-malu untuk menerimanya maka berbeda dengan Risa. Risa justru langsung mengambil sendiri, dan itu bukan masalah untuk Hilman, "Itu namanya malak!" Hilman mengetuk kepala Risa.


"Abis suaminya enggak peka kalau istri itu butuh uang buat kecantikan, dll!"


"Dll?"


"Dan lain lain!" jelas Risa.


"Ahahahhaha......" Hilman benar-benar di buat terhibur oleh Risa.


"Mas harus rajin kerja, ada anak orang yang harus di biayai!" omel Risa.


"Dasar tukang malak suami!"

__ADS_1


"Au....sakit Mas!!!"


__ADS_2