Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Dari mulut turun ke perut


__ADS_3

"Mama!!!! Papa!!!" seru Davina dan Derren saat melihat kedua orang tuanya yang sudah kembali pulang.


Semua tersenyum saat melihat raut wajah bahagia kedua bocah itu, berhari-hari tidak bertemu dengan kedua orang tuanya membuat perasaan rindu begitu besar. Apa lagi selama ini keduanya tidak pernah berjauhan dari Mama mereka.


"Anak Mama," Hanna langsung mengangkat tubuh gadis kecilnya, tapi setelah itu ia kembali menurunkan Davina.


"Mama Davi gendong," rengek Davina, sebab ia sudah terbiasa di gendong terlebih dahulu, jika Hanna baru pulang ke rumah.


Hanna mengangguk, tapi ia merasa sakit pada bagian perutnya, "Davi, Mama kecapean kayaknya, kamu udah besar banget Mama udah enggak kuat. Minta gendong sama Papa aja," jawab Hanna sambil menunjuk Devan.


Davina mengangguk, ia mengangkat tangannya dan Devan langsung menggendong nya. Kemudian Derren juga naik ke atas punggung Devan.


"Kak Derren sakit!!!" teriak Davina.


Derren tertawa karena baru saja mencubit pipi adiknya, walaupun ia naik di atas punggung Devan tapi tetap saja tangan usilnya bergerak pada Davina yang di gendong pada bagian depan tubuh Devan.


"Ada-ada saja anak-anak itu," Mama Sarah tersenyum melihat tingkah kedua cucunya.


"Ma, Hanna ke kamar dulu ya," pamit Hanna, ia ingin segera merenggangkan tubuhnya di atas ranjang.


"Iya," Mama Sarah tersenyum, kemudian ia menatap Mom Citra, "Ayo duduk jeng, anak-anak itu memang begitu," Mama Sarah menunjuk sofa.


Mom Citra dan Dad Arsielo Anderson perlahan duduk di sofa.


"Risa, anak Mama," Mama Sarah langsung memeluk Risa, dan Risa ikut duduk di samping nya, "Kamu apa kabar? Wajah kamu pucat sekali," kata Mama Sarah melihat wajah Risa.


"Ma, Risa pusing," kata Risa sambil memijat kepalanya.


"Ya, sudah. Kamu ke kamar, sudah di siapkan sama Art," Mama Sarah menatap Hilman yang masih berdiri, "Hilman, sebaiknya bawa istri kamu istirahat ya. Ada Adam juga di atas, kalau memang mau di periksa bisa minta di periksa," kata Mama Sarah.


Hilman mengangguk, ia memegang lengan Risa. Walaupun ia tidak tahu kamar yang di maksud oleh Mama Sarah tapi ia tetap mengangguk, sebab Risa pasti tahu.


"Jeng, gimana perjalanan nya?" Mama Sarah kini berfokus pada Mom Citra.


"Lumayan lah Jeng, tapi kalau kami tinggal di sini apa tidak merepotkan?" Mom Citra merasa tidak enak hati, sebab ia menumpang di kediaman Agatha Sanjaya.


Mama Sarah tertawa kecil mengerti dengan perasaan Mom Citra, akan tetapi ia juga tidak keberatan sama sekali, "Tidak sama sekali Jeng, malahan saya suka. Rumah ini jadi lebih rame."


"Kalau begitu Jeng juga harus datang ke Italia," ujar Mom Citra dengan tawanya.


"Waw, seperti setelah ini saya mau sekali Jeng," jawab Mama Sarah dengan antusias.


Tidak lama berselang Papa Agatha Sanjaya pulang ke rumah, sebenarnya ini bukan jam pulang kantor. Akan tetapi ia merasa tidak enak bila tidak kembali ke rumah, mengingat ada Dad Arsielo Anderson datang kerumahnya. Menurutnya kedatang keluarga kandung Devan sangat istimewa.

__ADS_1


"Tuan Arsielo Anderson," sapa Papa Agatha Sanjaya.


Dad Arsielo Anderson berdiri dari duduknya, sambil mengulurkan tangannya, "Apa kabar tuan Agatha Sanjaya."


Dua pasutri itu terus berbincang-bincang hangat, kebahagiaan terpancar jelas di raut wajah mereka. Begitu juga dengan Devan dan Hanna yang kini berada di kamar.


"Mas, bisa tolong ambilkan air minum?" pinta Hanna.


Devan tengah bermain bersama kedua anaknya di atas sofa, tetapi kini ia beralih menatap Hanna.


"Aku mau minum obat, kepalaku pusing banget," kata Hanna lagi.


Devan mengangguk, sebelum bangun ia mengacak gemas kepala kedua anaknya terlebih dahulu. Sebenarnya Devan bisa saja meminta Art untuk mengambilnya, akan tetapi ia ingin memanjakan istrinya. Namun, saat berada di depan pintu kamar, tanpa sengaja ia melihat Adam.


"Sudah lama sampai?" tanya Adam.


"Barusan."


"Kak Hanna di mana?" tanya Adam lagi.


"Di dalam, kepalanya pusing," jawab Devan dengan tangan menunjuk kedalam.


Adam mengangguk, ia kemudian masuk ke kamar Hanna. Devan juga kembali masuk tanpa mengambil air yang sebelumnya di minta Hanna.


"Kenapa Kak?" tanya Adam.


Devan seketika teringat, padahal tadi ia sudah lupa, "Mas lupa."


"Tunggu dulu, jangan minum obat dulu," Adam segera menuju kamarnya, ia mengambil beberapa alat medis dan kembali ke kamar Hanna. Setelah memeriksa keadaan sang Kakak Adam tersenyum, "Malangnya nasibku," kata Adam dengan mendesus.


Hanna dan Devan langsung saling melihat, kemudian keduanya kembali melihat Adam dengan bingung dan bertanya-tanya.


"Adam kau bicara apa?" tanya Hanna.


"Kau ya Kak Hanna, di senggol dikit sama Kak Dev langsung tumbuh benjolan di depan ini," omel Adam.


Hanna dan Devan semakin di buat bingung, bahkan wajah Adam terlihat sangat murung.


"Kalau bicara yang jelas!" geram Hanna.


Adam beralih menatap Devan yang berdiri di samping nya, "Kau lihat Kak Dev," Adam menunjuk Hanna, "Istri mu garang sekali!" tambahnya lagi.


"Dasar tidak jelas!" gerutu Hanna.

__ADS_1


Adam tidak perduli dengan ocehan Hanna, ia hanya melihat Devan, "Istri mu ini sedang hamil Kak Dev, jadi jaga baik-baik!" Adam langsung melengos pergi.


Devan dan juga Hanna masih diam, keduanya masih mencerna kata-kata Adam.


"Sayang, kau hamil lagi?" tanya Devan dengan raut wajah bahagia.


"Kok bisa?" Hanna dengan bodohnya malah bertanya.


Devan kini malah tercengang dengan pertanyaan Hanna, "Sejak kapan kau jadi tidak waras?" tanya Devan bingung.


Wajah Hanna memerah, bahkan telinganya seakan mengeluarkan asap saat mendengar pertanyaan Devan, "Maksud Mas apa? Aku gila?" seru Hanna.


Davina dan Derren yang sibuk bermain beralih menatap kedua orang tuanya yang tengah berdebat.


"Sayang, ada anak-anak," Devan menunjuk kedua anaknya yang menatap mereka bingung.


Hanna mengusap dadanya, ia menyadari kesalahannya, dengan perlahan ia berusaha mengendalikan kemarahannya pada Devan.


"Mama sama Papa kenapa?" tanya Derren.


"Davina sama Derren bakalan punya adik lagi," kata Devan.


"Adik?" Davina mulai bingung.


"Iya," Devan tersenyum sambil mengangguk.


"Mana?" tanya Davina lagi.


"Di perut Mama," Devan menunjuk perut Hanns.


Davina langsung berlari kearah Devan, kemudian ia naik ke arah ranjang, "Mama apa bener adik bayi nya di perut Mama?"


"Iya," jawab Hanna dengan lembut.


Davina menggaruk kepalanya, "Dari mana masuknya? Kok bisa ada di perut Mama?" Davina terus menatap wajah kedua orang tuanya dengan bingung, dan ia sangat membutuhkan jawaban.


Devan berulangkali mengusap wajahnya, sedangkan Hanna meneguk saliva.


"Lewat mulut Mama kali Davina," timpal Derren.


"O," Davina mengangguk, "Masuk lewat mulut, terus turun ke perut, gitu ya Ma?" tanya Davina pada Hanna.


Hanna seketika merinding mendengar ocehan tidak jelas Davina, "Pa, jawab," kata Hanna pada Devan, karena ia tidak memiliki jawaban.

__ADS_1


Devan mengangkat kedua tangan, ia juga tidak punya jawaban, "Davina keluar dulu ya, Mama mau istirahat," Devan ingin mengalihkan pertanyaan Davina.


"Oya Pa."


__ADS_2