
Hari-hari terus berlalu, Hilman dan Risa terus saja semakin akrab walaupun setiap kali keduanya selalu adu cekcok. Namun, bersamaan itu juga keduanya tidak bisa saling berjauhan. Sehingga gosip di kantor semakin menjadi-jadi, mulut para karyawan mulai membicarakan mengenai kedekatan antara Presdir mereka dan juga asistennya yang semakin tidak wajar begitu terdengar panas di telinga.
Risa sudah sering mendengar mengenai omongan karyawan tentang dirinya dan Hilman, tapi Risa merasa tidak penting dan tidak perlu di perhatikan sama sekali.
"Apa iya dia begitu?" tanya Lidya.
"Iya, waktu itu aku enggak sengaja lihat kalau Risa duduk di atas pangkuan Presdir kita," kata Keyra lagi.
"Masa sih?" tanya Dara yang juga ikut penasaran, "Tapi mungkin mereka pacaran kali, ya enggak masalah lah ya, itu kan urusan mereka," tambah Dara lagi yang tidak ingin terlalu ikut campur dalam urusan Presdir mereka, apa lagi itu bisa berpengaruh terhadap pekerjaan.
Keyra mengibaskan tangannya, ia merasa semua belum selai, "Dara, Bos bukannya udah nikah?" tanya Keyra lagi.
"Iya, atau mungkin Risa itu istrinya Bos?" tebak Lidya, sebab mereka tidak pernah tahu siapa istri Presdir mereka. Bahkan sampai saat ini Hilman tidak pernah mengenalkan istri nya.
"Enggak mungkin," tegas Keyra, "Kalau dia istri bos ngapain coba dia kerja, apa lagi dia itu jadi OG kan?" tanya Keyra mengingat saat awal Risa bekerja di perusahaan.
"Ah.... bingung gua!" kata Dara, "Tapi ini bukan urusan kita."
"Kalian ngomongin apaan sih?" tanya Elisa yang ikut bergabung.
"Lu tahu kan asisten bos?" tanya Keyra.
"Risa," jawab Elisa.
"Nah bener, lu ngerasa nggak sih dia itu ada main sama Bos?" tanya Keyra.
Elisa mengangguk, "Kemarin gue lihat di tangga darurat, kalau bos sama Risa sedang bercumbu mesra banget. Dan gue takut ketahuan dong, jadi gue pergi aja takut di pecat," kata Elisa.
"Nahkan," Keyra tersenyum bangga, karena apa yang ia katakan tidak salah.
"El, jangan ngomong sembarangan. Ini bos lho..." kata Dara yang tidak ingin terkena masalah.
"Enggak, gue serius," jawab Elisa dengan yakin.
Semua mendadak diam saat Risa melewati ke empat nya.
"Ini dia wanita penggoda itu," kata Keyra.
__ADS_1
"Huss....jangan gitu kita belum tahu yang sebenarnya," Dara menyenggol Keyra, karena ia tidak suka orang yang asal menuduh.
"Hey lu itu wanita penggoda suami orang kan?" tanya Keyra dengan suara cukup kencang.
Risa berhenti melangkah, ia berbalik ke belakang dan melihat ada banyak karyawan yang melihat kearah nya. Risa bukan wanita cengeng yang diam bila di ejek, ia kembali berjalan ke arah Keyra.
"Ada masalah apa?" tanya Risa.
Meta yang melihat dari kejauhan langsung berlari kearah Risa, "Ada apasih?" tanya Meta.
"Ini teman lu, udah jadi rahasia umum di kantor ini kalau dia itu ada main sama bos!" jelas Keyra.
Meta tidak ingin ada salah paham, dan ia tahu Risa adalah wanita baik-baik. Ia melihat Risa dan ingin meluruskan segala nya, apa lagi mengingat posisi Risa sebagai asisten Presdir. Tentu saja kemana Presdir mereka pergi Risa akan ikut juga.
"Risa kamu enggak ada main sama Bos kan?" tanya Meta, "Maaf kalau pertanyaan aku menyinggung perasaan kamu, tapi semua harus di selesaikan. Dan jelaskan kalau kau tidak ada hubungan dengan bos," kata Meta lagi.
"Risa, aku enggak ada niat ikut campur. Aku juga enggak percaya dengan kata-kata Keyra, tapi aku sempat lihat kamu dan bos di tangga darurat," kata Dara lagi.
"Jawab aja!" sergah Keyra, senyuman miring dan juga perasaan yang merendahkan Risa seakan menjadi sebuah kebanggaan baginya.
"Memangnya kenapa kalau aku ada hubungan dengan bos?" tanya Risa sambil mengepalai kedua tangannya yang menggantung.
"Lihat kan? Kalian dengarkan?" Keyra tersenyum remeh pada Risa, "Dia ini ada main dengan Presdir."
"Risa."
"Masalah nya di mana, kenapa kalau aku ada main dengan Presdir?" tanya Risa geram.
"Dia itu sudah beristri!" jawab Keyra.
"Lantas kenapa kalau dia sudah beristri?" tanya Risa lagi.
Keyra mengambil alih sebuah timba dari tangan sebuah OB, dengan cepat ia menyiram air nya pada Risa.
Byurrr...
Baju Risa basah seketika.
__ADS_1
"Ahahahhaha....belagu sih," kata Keyra dengan bahagia.
"Keyra lu apaan sih!" geram Meta.
Risa sangat marah sekali saat air kotor itu mengguyur tubuhnya, dengan cepat ia menghubungi Hilman.
Hilman yang tengah berada di ruangan nya segera menjawab panggilan telpon dari Risa, "Kenapa?" tanya Hilman.
"Mas cepat ke loby," kata Risa dengan suara bergetar, karena ia ingin sekali menangis air yang mengguyur tubuhnya sangat kotor dan Risa ingin sekali muntah.
Hilman cepat-cepat bangun dari duduknya, ia merasa panik saat mendengar suara Risa. Mata Hilman seketika di suguhkan dengan pemandangan yang mengerikan, Risa yang berdiri di antara banyaknya karyawan dengan tubuh basah kuyup.
Semua karyawan mulai panik, saat melihat Hilman yang datang ke loby.
"Mas, dia mengatakan aku ada main dengan mu," kata Risa pada Hilman.
"Mas?" Meta dan lainnya bingung dengan panggilan Risa, dan mungkin saja Risa sudah cukup dekat dengan Presdir mereka.
"Kenapa?" wajah Hilman terlihat dingin, ia menatap satu-satu wajah karyawan nya dengan penuh tanya. Karena tidak ada yang berbicara Hilman langsung mendekati Risa dan memeluk istrinya.
Semua semakin terkejut saat melihat Risa di peluk oleh Hilman, pertanyaan demi pertanyaan kian membuat otak mereka berpikir keras untuk menemukan jawaban tanpa berani bertanya.
"Wanita itu mengatakan aku ini ada main dengan mu," adu Risa sambil memeluk Hilman.
"Semua yang ada di sini dengarkan baik-baik, terutama kau!" tangan kiri Hilman menunjuk Keyra, "Risa adalah istri ku, jangan pernah kalian memperlakukan nya seperti ini lagi ingat!" tegas Hilman.
Semua terkejut saat Hilman mengakui Risa sebagai istrinya, terutama Keyra.
"Kau di pecat, dan angkat kaki sekarang juga dari sini!"
"Bos," Keyra langsung berlutut di bawah laki Hilman, di pecat dengan tidak hormat sama saja menghancurkan karirnya. Bahkan bisa saja ia tidak akan di terima di perusahaan mana pun.
"Pergi dari sini, aku tidak mengenal kata toleransi saat seseorang menyakiti istri ku. Dan kau lancang sekali," tegas Hilman dan ia langsung pergi sambil membawa Risa.
Tidak ada lagi yang berani berbicara, apa lagi saat melihat wajah Hilman yang tengah marah membuat rasa takut semakin besar. Menyesal pun sudah tidak ada artinya lagi.
"Kau salah mencari lawan Keyra," kata Meta sambil mengusap punggung Keyra dan ia juga pergi.
__ADS_1
Perlahan semua karyawan mulai membubarkan diri, Keyra hanya diam sambil menangis tanpa ada yang bisa menyelamatkan dirinya.