
Langit seakan runtuh, bumi seakan hancur. Kilat seakan menggelegar, menggema dengan penuh cahayanya yang saling bersambut. Perasaan seakan tidak karuan seiringan dengan rasa penyesalan yang tidak bisa di katakan, sesal, sakit, seakan menjadi satu.
Perasaan Sarah kini terasa semakin perih setelah tahu kenyataan yang sesungguhnya, hidup dalam bayang-bayang penyesalan yang tidak berkesudahan itulah yang akan di rasakan oleh wanita tua yang sudah senja karena usia yang mulai lapuk. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, ia akan menyakiti hati anak yang sudah di lahirkan nya.
Bertahun lamanya ia mencari jejak putri yang hilang saat masih berusi tiga tahun, hingga tanpa di duga takdir membawa Hanna masuk ke tengah-tengah keluarga mereka. Siapakah saat itu yang menjadi pembela Hanna, hanya Devan yang terus dilanda bingung karena harus memilih Istri atau ibu angkatnya. Lalu bagaimana dengan Sarah, ialah yang selalu memusuhi Hanna karena ingin menuruti keinginan Diana orang yang mengaku sebagai pendonor ginjal saat ia tengah terbaring lemah di rumah sakit. Dan saat ini semua terbuka dengan jelas, ternyata wanita yang ia lukai adalah darah dahinya sendiri, wanita yang sudah menjadi penyelamat nyawanya.
"Kenapa selama ini kau hanya diam Hanna?" tanya Mama Sarah.
Ruang rumah sakit seakan menjadi saksi saat melihat air mata Mama Sarah mengalir dengan banyaknya, rasa sakit dan bersalah terus saja menjadi benalu dalam setiap nafas yang akan ia hirup.
"Kenapa kau diam, kenapa di saat Mama dulu selalu menyakiti mu kau hanya diam?" tanya Mama Sarah lagi.
Flashback on.
Beberapa tahun yang lalu, Hanna bersama dengan seorang pemilik panti asuhan tempat ia di besarkan tengah berjalan kaki menyusuri jalanan. Keduanya sedang berjalan menuju apoteker, untuk seorang anak panti yang sedang demam. Namun, saat di tengah jalan tiba-tiba ibu panti memegang dada.
"Hanna," Ibu panti tersebut meremas dadanya.
"Ibu," Hanna panik dan sangat ketakutan, sampai akhirnya sebuah mobil bersedia memberikan tumpangan pada Hanna untuk membawa Ibu panti ke rumah sakit.
Dokter memberitahukan jika Ibu panti harus melakukan operasi, karena mengalami komplikasi. Namun, saat itu hujan sedang derasnya. Hanna berusaha menghubungi suami dari Ibu panti, namun entah apa sebabnya panggilan nya tidak bisa terhubung.
__ADS_1
"Saudari Hanna, bisakah segera urus administrasi agar pasien bisa di tangani?" tanya sang dokter.
Beberapa saat kemudian di saat kesulitan tengah melanda, tiba-tiba seorang pria mendatangi Hanna, "Kalau kau butuh uang kau akan mendapatkan, asal kau bersedia menjadi pendonor," kata pria tersebut.
Hanna terdiam sejenak, ia tidak tahu harus bagaimana mengingat Ibu panti sudah merawat nya dari kecil dengan penuh kasih sayang. Hanna bersedia dan menyanggupi tawaran tersebut, sampai pada akhirnya ia melihat dari pintu kaca seorang wanita tengah berbaring di sana. Dia adalah Mama Sarah.
Dua puluh menit berlalu, bagai keajaiban yang datang dokter mengatakan keadaan Ibu panti sudah membaik. Bahkan tidak ada yang harus di khawatirkan, hingga tidak harus melakukan tindakan operasi. Yang artinya Hanna pun tidak perlu mendonorkan ginjal nya, namun entah mengapa perasaan Hanna tidak tenang saat melihat wajah pucat Mama Sarah, ia merasa wajah Mama Sarah sering hadir di mimpinya hingga Hanna tetap bersedia menjadi pendonor.
"Aku mau mendonorkan ginjal ku, tapi dengan syarat kau tidak perlu memberiku imbalan," kata Hanna yang memberikan penawaran.
"Kau yakin?" tanya Taha sedikit terkejut, mengingat semuanya butuh uang dan Hanna malah menolak, "Tapi kau tidak boleh mengatakan pada siapapun," tegas pria tersebut.
Hanna mengangguk setuju, operasi segera di lakukan mengingat keadaan Mama Sarah yang terus memburuk. Sampai akhirnya operasi selesai.
Hanna mengangguk, ia semakin bingung pada dirinya sendiri mengapa bisa ia mendongakkan ginjalnya pada orang yang tidak ia kenal sama sekali.
Waktu seakan berlaku dengan begitu cepat, banyaknya masalah dan juga seakan menjadi jalan hingga Hanna terkejut saat pertama kali melihat wajah Mama Sarah. Namun saat itu keadaannya Mama Sarah menjadikan dirinya sebagai musuh, hingga satu persatu misteri mulai terkuak dan ia adalah putri dari Mama Sarah. Di saat itu pula Hanna hanya diam tanpa bicara, karena takut Mama Sarah semakin merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi. Lalu Hanna hanya bungkam tanpa ada keinginan untuk mengatakan kenyataan tersebut pada Mana Sarah.
Flashback off
"Tidak apa Ma, semua sudah berlalu," Hanna memeluk Mama Sarah.
__ADS_1
"Entah hukuman seperti apa yang harusnya Mama terima Hanna, tapi Mama sangat malu sekali," lirih Mama Sarah dengan suara yang bergetar, "Tapi kenapa kamu tidak memberitahu semua ini?"
"Hanna tidak mau merusak kebahagiaan yang sudah ada Ma, Hanna tidak mau Mama merasakan rasa bersalah," jawab Hanna menyampaikan alasannya.
"Oma!!!" seru Davina dan juga Derren, keduanya yang dari tadi hanya duduk di luar langsung masuk bersama dengan Risa juga.
"Cucu Oma," Mana Sarah semakin tidak bisa menahan air mata saat melihat kedua cucunya, dua anak kecil itu ikut menjadi korban karena dirinya yang ternyata selama ini membela seorang pembohong besar.
Agatha yang juga melihat wajah sedih istrinya juga ikut merasa bersedih. Namun, memang begitu adanya dan ia sangat bersyukur keluarga mereka kini bisa berkumpul bersama.
"Risa terima kasih selama ini kamu selalu ada buat Hanna," lirih Sarah.
"Enggak papa kok Ma, Risa cuman hutang budi sama Hanna," ujar Sarah.
"Hutang budi?" Hanna menatap Risa dengan bingung, bahkan semua juga ikut bingung.
"Iya, saat itu pagi hari aku sedang membuang sampah. Dan tiba-tiba ada sebuah mobil yang lewat dan langsung mengarah pada ku, entah apa yang terjadi setelah itu aku tidak tahu. Tapi saat di rumah sakit aku sudah setengah sadar, di saat dokter mencari stok kantung darah yang sudah habis Hanna menawarkan dirinya. Padahal waktu itu ia baru selesai operasi dan setelah menginap di rumah sakit paginya ia harus pulang. Namun, pagi itu Hanna justru mendonorkan darah untuk ku," jelas Risa.
Deg.
Hilman yang berada di pintu mendengar dengan jelas apa yang di katakan oleh Risa, awalnya Hilman tengah rapat. Tapi seorang bodyguard melaporkan padanya, Risa yang pergi ke rumah sakit. Lantas Hilman meninggalkan pekerjaan dengan buru-buru ia menyusul Risa, pikiran Hilman justru Risa tengah mengalami kecelakaan ataupun jatuh sakit. Namun, sampai di sana ia begitu tercengang seketika mendengar cerita Risa ia mengingatkan kembali saat-saat pagi itu. Lantas apakah hubungan Hilman dengan kecelakaan yang di alami Risa saat itu.
__ADS_1
"Om Hilman," seru Derren sambil menghambur memeluk Hilman.
Semua mulai melihat arah pintu dan baru menyadari kedatangan Hilman.