
"Sayang?" Devan melihat bajunya yang terkena muntahan Hanna, ia terlihat geli sekali dengan muntahan itu.
"Maaf, aku bener-bener enggak kuat nahan," kata Hanna, ia juga merasa sedikit bersalah. Tapi mau bagaimana lagi akhir-akhir ini ia memang sering mual, dan tidak suka dengan sesuatu yang berbau tajam.
"Ya sudah tidak apa, Mas mandi dulu ya sayang," Devan menarik Hanna untuk pindah dari daun pintu, kemudian ia membuka pintu, "Biar Bik Sumi saja yang membersihkan muntahan ini," kata Devan karena ia tau pasti Hanna sudah berpikir untuk membersihkan semua itu. Setelah mengatakan itu Devan berniat pergi, namun karena Hanna hanya diam di tempatnya Devan kembali berbalik, "Aku mencintai mu, dan akan aku buktikan!" kata Devan. Setelah itu ia benar-benar pergi dari hadapan Hanna.
Hanna benar-benar bingung, penyebab perubahan Devan. Entah apa yang merasukinya hingga Devan bisa begitu aneh, tapi lucunya Hanna suka kata cinta yang di ucapkan Devan.
Devan memasuki kamarnya, dan melihat Diana tengah berdandan di depan cermin. Bibir Devan tersenyum miring, dan melewati Diana begitu saja. Karena ia lebih memilih segera menuju kamar mandi.
"Hanna!" Diana meremas tangannya karena ia tahu Devan kini pasti tengah berpikir hal yang buruk tentang dirinya, di tambah lagi tatapan Devan yang terlihat mengejek dirinya.
Tidak berselang lama Devan keluar dari kamar mandi, berikut dengan pakaian bersih di tubuhnya. Tidak ingin berbasa-basi Devan masih saja sama, ia keluar dari kamar tanpa satu patah kata pun.
Semua berkumpul di meja makan, untuk sarapan bersama.
"Ayo semua duduk ya, semua kita makan untuk merayakan kehamilan Diana," ujar Sarah dengan senyum bahagia.
Semua duduk di kursi meja makan tidak terkecuali Agatha, dan mereka mulai menikmati sarapan nya dengan begitu baik.
"Aduh Pa, sebentar lagi kita bakalan nambah anggota keluarga lagi," oceh Sarah.
Tidak lama berselang Hanna melewati meja makan, "Hanna," terdengar suara Devan.
Semua mulai melihat ke arah Hanna, hingga Hanna pun urung dalam melangkahkan kakinya. Dan memutar lehernya mencari siapa yang memanggil namanya, namun netral nya melihat orang yang cukup ia benci. Tapi juga ada yang lainnya Agatha.
"I....iya tuan," jawab Hanna dengan terpaksa, karena ada Agatha di sana.
Devan melihat Ma Sarah, "Ma ini hari untuk merayakan kehamilan Diana kan?" tanya Devan.
"Iya," Mama Sarah mengangguk dengan serius.
Devan kembali melihat Hanna, "Ayo makan, kita merayakan kehamilan Diana," kata Devan dengan suara beratnya.
__ADS_1
"Ti....tidak usah tuan," Hanna ingin sekali mencakar wajah Devan, lihatlah dengan santainya Devan mengajaknya untuk merayakan kehamilan Diana, "Dasar iblis, sengaja dia mau pamer kehamilan istri tercinta nya, tunggu saja sebentar lagi aku akan pergi dengan membawa anak ku," batin Hanna.
"Devan!" Diana mengeratkan giginya, ia benar-benar kesal pada Devan.
"Ma, Devan tidak salahkan mengajak Hanna untuk merayakan kebahagiaan ini bersama," ujar Devan, tanpa perduli tatapan kekesalan Dia yang duduk di samping nya.
"Iya sih," Sarah bangun dari duduknya, "Hanna kemari, kita makan bersama," kata Sarah.
"Tidak usah Nyonya," tolak Hanna. Semua di kursi meja makan itu tidak memikirkan perasan nya pikir Hanna.
"Tidak apa," Sarah dengan cepat berjalan kearah Hanna dan menarik Hanna untuk ikut duduk bergabung bersama yang lainnya, "Duduk dan tidak baik menolak," kata Sarah dengan ramah.
Hanna terpaksa duduk, ia bukan melihat makanan yang tertata rapi di hadapannya. Melainkan melihat Devan yang duduk di hadapannya.
"Hanna, ayo makan," kata Sarah, karena ia melihat Hanna hanya diam saja. Bahkan tanpa menyentuh makanan nya.
"Hanna tersadar," ia mulai melihat makanan yang membuatnya merasa mual, bau makan itu sungguh membuat Indra penciuman nya tidak nyaman, "Huuueeekkkk....." Hanna menutup mulutnya, kemudian ia cepat-cepat bangun dari duduknya dan berlalu ke kamar mandi dapur, "Hueeekk..... huuueeekkkk....."
"Jorok sekali," kesal Diana, "Tidak sopan, apa dia pikir ini rumah nya," gumam Diana dengan tangannya mulai meneguk air putih.
"Kamu sih Dev, pakek ngundang babu itu....aku jadi enggak selera makan!" Diana bangun dari duduknya, "Ma, Pa, Diana sarapannya nanti saja," pamit Diana lalu pergi.
Hanna kini tidak lagi kembali ke kursi meja makan, ia lebih memilih kembali ke kamar dan sampai di kamar nya ternyata ada Risa di dalam kamarnya.
"Sa, kamu di sini?" tanya Hanna sambil memegangi perutnya, dan ia duduk di sisi ranjang.
"Iya, aku nyariin kamu, dari tadi.....muka kamu pucat Han?" tanya Risa.
"Aku pusing, mual juga, Sa," jawab Hanna.
"Kamu enggak hamil lagi kan Han?" tanya Risa.
Mata Hanna langsung melebar, ia bahkan sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Risa, "Sa, belikan aku testpack," pinta Hanna. Sebab ia juga sadar kalau belum mendapatkan tamu bulanan.
__ADS_1
"Han?" Risa menatap Hanna penuh tanya, "Kamu serius?" tanya Risa lagi.
"He'um," Hanna mengangguk, ia menggigit kukunya dan mulai panik, "Tolong ya Sa, jangan sampai ketahuan siapapun...." pinta Hanna penuh harap.
Dengan masih sedikit bingung dan berat hati, Risa mengangguk. Kemudian Risa keluar dari kamar Hanna, bahkan ia masih terlihat linglung.
"Han," Risa cepat-cepat memberikan testpack yang baru saja ia beli pada Hanna. Meskipun otaknya masih terlalu bingung.
"Makasih," tidak sulit memakai alat tersebut, ini bukan pertama kalinya Hanna menggunakan alat tersebut. Hingga tidak lama kemudian Hanna terduduk lemah di lantai, dengan tangannya melihat dua garis merah.
Risa merasa Hanna tidak juga keluar dari kamar mandi, ia menyusul masuk bahkan pintu terbuka lebar, "Hanna kamu enggak papa," Risa terkejut melihat Hanna duduk di lantai.
Hanna menatap Risa, dan tidak tahu harus berkata apa.
"Han?" Risa ikut berjongkok dan menggerakkan lengan Hanna.
"Sa," Hanna memberikan testpack di tangannya pada Risa.
"Hanna?" mulut Risa melebar, dan ia dengan cepat menutup mulutnya, "Kamu hamil anak siapa?" tanya Risa.
Deg.
Hanna langsung melihat Risa penuh luka, karena pertanyaan Risa memang membuat nya terluka. Hingga matanya berkaca-kaca dan sedetik kemudian cairan bening menetes begitu saja.
"Bukan Han," Risa sadar pertanyaan nya memang sangat aneh dan juga terkesan meremehkan Hanna, "Aku enggak maksud meremehkan kamu," Tapi sedetik kemudian Risa kembali menutup mulutnya, "Han, ini anak tuan Dev?" tanya Risa lagi.
"Hiks....hiks...." tangis Hanna pecah, karena ia benar-benar shock dengan kehamilan.
"Hanna, aku minta maaf....aku salah ya," Risa panik karena Hanna sampai menangis karena dirinya, "Maksud aku enggak sejahat itu kok, cuman aku kan tahu hubungan mu sama tuan Dev itu enggak baik-baik aja," jelas Risa lagi, dengan perasaan bersalah.
Hanna mengusap air matanya, ia melihat Risa, "Sa, tolong rahasiakan ini ya, aku enggak mau kalau sampai anak ini juga di ambil," pinta Hanna sambil menggenggam tangan Risa.
"Tapi, kalau enggak aku bilang juga semua orang akan tahu Han.....kan lambat laun perut kamu bakalan membesar," kata Risa.
__ADS_1
Hanna diam dan membenarkan apa yang dikatakan oleh Risa memang benar.
"Aku akan pergi dari sini secepatnya."