
"Nyonya ada tamu di depan," kata seorang Art pada Sintia, setelah ia melihat ada seseorang yang ingin bertemu sang majikan.
"Ibu ke depan dulu ya," kata Sintia pada Risa.
Risa kini mulai melanjutkan pekerjaan yang tengah di lakukan oleh Ibu Sintia.
"Hey!"
Risa tidak perduli saat Hilman memanggil dirinya, ia terus saja memotong sayuran tanpa ingin mendengar Hilman.
Hilman bangun dari duduknya, kemudian berdiri di samping Risa, "Dasar tuli!" kata Hilman kesal.
Risa masih terus memotong sayuran tanpa melirik Hilman sedikitpun, ia masih memilih fokus pada pekerjaan.
Hilman mendesus, dan tidak terima dengan Risa yang mengacuhkan dirinya, "Apa kau tuli, aku memanggilmu!" geram Hilman sambil menepuk pundak Risa.
"Aaaauuuu....." teriak Risa.
Hilman langsung menatap arah pandang Risa, dan ternyata tangannya mengeluarkan cairan merah.
"Sssstttt......" Risa meringis karena merasa cukup sakit.
Dengan cepat Hilman memegang tangan Risa, Hilman tahu itu terjadi karena kesalahannya, dan ia sangat menyesal sekali. Tidak lama berselang Hilman mengobati tangan Risa, bahkan sudah membungkus dengan perban dan lukanya juga hanya sedikit.
"Maaf," ucap Hilman masih dengan rasa bersalahnya.
"Sakit tau!" kesal Risa.
Hilman menggaruk tengkuknya, "Ya....." Hilman mengangguk, "Dan aku minta maaf," kata Hilman lagi mengulangi kata maafnya.
Risa mengerucutkan bibirnya, dan ia masih sangat kesal pada Hilman, "Lagian ngapain tepuk-tepuk punggung saya barusan!"
"Aku minta buatkan kopi, kau malah diam saja."
"Kopi?" Risa langsung melihat kearah meja makan, dan ia rasa di atas meja tersebut adalah secangkir kopi. Tapi anehnya cangkir itu sudah tertumpah, dan isinya pun habis berceceran di atas meja. Sampai menetes ke lantai.
__ADS_1
"Aku tidak sengaja," kata Hilman, sebab Risa hanya menatap kopi tersebut dengan bingung.
Risa kemudian menatap Hilman, dan ia merasa tidak masalah hanya menyeduh secangkir kopi. Lagi pula Risa sadar ia adalah seorang istri, walaupun Risa tahu Hilman tidak bisa menganggapnya layaknya istri.
"Ini," Risa memberikan secangkir kopi buatannya pada Hilman.
"Terima kasih," Hilman mengambil alih cangkir tersebut, dan berjalan kearah meja makan. Lalu meletakkannya, "Kopi tumpah maaf ya, kamu kurang enak. Makanya aku tumpahin," batin Hilman sambil menatap meja dengan tumpahan kopi karena di sengaja.
"Makasih doang!" gerutu Risa dari jarak beberapa meter.
Hilman yang sedang menyeruput kopi langsung menatap Risa, ia mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Risa, "Lalu?" tanya Hilman.
Risa memutar bola matanya dengan jenuh, "Bayar lah, tangan saya juga sudah luka karena anda tuan kaya!"
"Berhenti memanggilku tuan kaya!" tandas Hilman, "Aku tahu kau putri Tuan Arsielo Anderson!" papar Hilman.
Risa mangguk-mangguk, dan ternyata kini ia sudah salah memperkirakan bahwa Hilman tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Tapi sama sekali tidak menjadi masalah bagi Risa, menurutnya kekayaan Dad Arsielo Anderson bukanlah miliknya.
"Lalu kenapa kalau aku putri dari Dad Arsielo Anderson?" tanya Risa, "Yang banyak uang itukan Dad dan Kak Dev!" Risa seakan mengangkat bahunya sebab ia tidak merasa orang berada, karena kekayaan keluarganya.
Hilman sedikit terkejut mendengar jawaban Risa yang terdengar lucu, jika orang lain sibuk dengan kekayaan orang tua mereka tapi tidak dengan Risa. Rasa bersalah semakin terasa di hati Hilman sebab awalnya ia sudah menuduh jika Risa adalah wanita yang haus akan harta, namun nyatanya tidak sama sekali.
"Iya Bu?" Hilman langsung melihat Ibu Sintia, begitu juga dengan Risa.
"Di depan ada Prea, tolong selesaikan masalah ini. Jangan sampai rumah tangga kalian rusak karena mantan!" kata Ibu Sintia memberikan peringatan.
Hilman sangat tidak bersemangat saat mendengarkan nama wanita yang di sebutkan oleh Ibu Sintia.
"Suruh saja pergi Bu," jawab Hilman.
"Kamu temui dia, jelaskan kamu sudah menikah. Dan minta dia tidak datang lagi ke rumah ini, Ibu pusing melihat wajah nya itu!" titah Ibu Sintia.
Dengan malas Hilman bangun dari duduknya, kemudian ia menarik Risa agar ikut bersamanya menuju ruang tamu.
"Sayang," Prea langsung menghambur ke pelukan Hilman.
__ADS_1
Dengan cepat Hilman langsung mendorong Prea agar tidak memeluk dirinya.
"Sayang, kamu kenapa sih?" tanya Prea seakan bingung.
"Ada apa kau datang ke sini?" tanya Hilman dengan wajah datarnya.
"Ya ampun sayang," Prea masih mencoba memeluk Hilman kembali, tapi di tolak Hilman.
"Tolong menjauh, dan hargai istri ku!" tegas Hilman menatap Risa yang berdiri di sampingnya.
Prea langsung menatap Risa, mulai dari atas sampai ke bawah. Prea tersenyum remeh saat melihat sendal jepit yang di gunakan Risa, dan itu harganya mungkin hanya di bawah Rp50.000 saja.
"Istri mu model begini?" tanya Prea tersenyum remeh, "Rendah sekali selera mu!" Prea seakan tersenyum dan merasa Risa bukanlah saingan yang tepat untuknya.
Risa yang dari tadi tidak perduli sama sekali dengan masalah Prea dan Hilman kini beralih menatap Prea, rasanya Risa cukup geram dengan hinaan Prea.
Prea juga terus melihat penampilan Risa, "Apa yang kau lihat dari wanita ini, oh....aku dengar-dengar dia ini mantan pembantu bukan?" tanya Prea lagi dengan penuh bahagia, sebab ia merasa di atas angin.
Risa menatap Prea dengan tajam, jika orang sudah menjual mengapa tidak di beli. Itulah yang menjadi patokan selama Risa masih bernafas, dengan cepat Risa memeluk lengan Hilman.
Hilman terkejut saat Risa memeluk lengannya, bahkan Risa seakan terlihat begitu manja.
"Mas," Risa berdiri di depan Hilman, "Dia siapa?" tanya Risa lagi dengan suara manjanya, bahkan ia terlihat begitu tenang. Perlahan tangan Risa mulai melingkar di tengkuk Hilman.
"Em," Hilman mendadak merasa suhu berubah menjadi panas, Risa saat ini membuatnya seperti kepanasan.
"Mas?" tanya Risa lagi dengan suara manjanya, sebab Hilman masih diam saja.
"Dia...." Hilman benar-benar merasa salah langkah, sebab tadinya ia pikir Risa bisa membuat Prea pergi. Tapi kini justru ia yang di buat panas dingin, "Dia hanya masa lalu," jawab Hilman dengan berulangkali meneguk saliva.
"O...." Risa mangguk-mangguk, dan ia melepaskan Hilman. Setelah itu Risa menatap Prea. Tapi Risa menarik tangan Hilman agar tetap melingkar di pinggang nya, dan Risa berdiri sambil bersandar di dada bidang Hilman. Matanya menatap Prea, yang menatap tidak suka, "Kau sangat mengganggu kami, jika kau mau mengucapkan kata selamat untuk pernikahan kami, silahkan katakan sekarang lalu pergi," Risa menunjuk arah pintu, "Karena kami juga mau ke kamar dan kau pasti paham bukan?" suara Risa terdengar lembut, tapi mungkin cukup menyakitkan bagi Prea.
"Kau!!!"
"Silahkan, pintunya di sebelah sana..."
__ADS_1
*
Tolong like dan Vote ya Kakak yang baik hati, terima kasih