Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Menunggu


__ADS_3

Empat hari sudah berlalu Risa terus berdiri di depan pintu gerbang untuk menunggu Hilman pulang, namun sampai hari ini Hilman sama sekali belum kembali. Tidak ada kata lelah Risa yang bosan berdiri kini duduk sambil menantikan Hilman tanpa kata menyerah pada dinginnya malam.


"Risa," Ibu Sintia sangat kasihan pada Risa, ia cepat-cepat keluar dari rumah dan menyusul Risa menuju gerbang.


"Iya Bu," Risa tersenyum melihat Ibu Sintia.


"Kamu masuk ya, ini sudah malam," pinta Ibu Sintia.


"Sebentar lagi saja ya Bu, mungkin nanti Mas Hilman pulang," kata Risa dengan terus menyemangati dirinya.


"Hari sudah gelap, mau hujan lagi," Ibu Sintia mengerti dengan perasaan Risa, bahkan ia ingin menangis melihat wajah Risa yang sudah tidak sabar menunggu kepulangan Hilman, "Kalau kamu tidak masuk, kasihan anak kamu. Gimana dong?" tanya Ibu Sintia agar Risa mau di ajak masuk.


Risa memegang perutnya, ia mengangguk dan merasa apa yang di katakan oleh Ibu Sintia memang benar, "Ya udah Bu," Risa setuju untuk masuk.


Sampai di kamar Risa tidak langsung tidur, ia masih memeluk tastpack sebab begitu Hilman pulang ia akan segera menunjukan nya.


Malam semakin larut, Risa sudah tidak bisa lagi menahan kantuk. Ia berbaring di atas ranjang sambil menggenggam erat tastpack.


Pukul 03:20 dini hari, Hilman pulang dengan tubuh lelahnya. Ia melepaskan sepatu dengan buru-buru dan juga melempar jasnya sembarangan. Dengan cepat ia langsung naik ke atas ranjang dan mengecup wajah Risa, selama beberapa hari tidak melihat Risa ia merasa rindu yang sangat besar.


"Mas," Risa langsung terbangun dan melihat Hilman tengah memeluknya, "Mas udah pulang?" Risa langsung memeluk Hilman dengan begitu erat nya.


"Proyek Mas berhasil Risa," kata Hilman dengan bahagia.


"Selamat ya Mas," kata Risa dengan tidak kalah bahagia, "Mas Risa mau bilang sesuatu," kata Risa dengan bahagia.


"Apa?" tanya Hilman.

__ADS_1


Risa melihat Testpack di tangannya tidak ada, dan ia ingin mengangkat selimut mungkin terlepas dari tangannya saat tertidur.


"Risa kau mencari apa?" tanya Hilman bingung.


"Risa nyari," Risa terus berusaha menemukan benda kecil namun bermakna begitu besar.


"Nanti saja ya, Mas rindu sekali," Hilman langsung menindih Risa dengan cepat bahkan tanpa menunggu apa yang ingin di katakan oleh Risa.


Risa tidak lagi bisa berbicara, ia hanya menerima saat Hilman menginginkan dirinya. Padahal ia ingin sekali mengatakan kehamilannya secara langsung saat ini juga.


"Mas," Risa merasa sakit saat Hilman menindih bagian perutnya, keringat yang meluncur begitu saja bersamaan dengan rasa sakit.


"Maaf," Hilman ingat saat dulu pertama kali ia menyentuh Risa seperti manusia yang tidak terkendali, dan Hilman tidak lagi terburu-buru hingga ia mulai berhati-hati.


"Sssstttt....."


Pukul 08:00 Risa terbangun, dan ia lagi-lagi tidak melihat Hilman ada di sampingnya. Padahal Risa sudah menemukan testpack yang ia cari dari subuh tadi, "Mungkin Mas Hilman di kamar mandi," kata Risa yang masih berpikir positif, lama ia menunggu tapi Hilman tidak juga keluar. Akhirnya Risa turun dari atas ranjang dan memutar gagang pintu kamar mandi, matanya melihat kamar mandi yang kosong. Dengan cepat ia keluar dari kamar dan mencari keberadaan Hilman di setiap sudut rumah, tapi Hilman tidak juga ada.


"Risa kamu nyari Hilman Nak?" tanya Ibu Sintia.


"Iya Bu," jawab Risa.


"Hilman subuh-subuh tadi berangkat ke LA, dia bilang ke Ibu buat bilang ke kamu. Soal nya kamu nyenyak sekali tidur, jadi dia tidak tega kalau harus membangunkan mu," kata Ibu Sintia.


Risa mengangguk, ia lagi-lagi hanya bisa meremas tastpack di tangannya, "Bu Risa ke kamar dulu, Risa mau mandi," pamit Risa.


Ibu Sintia mengangguk, ia mengerti apa lagi saat melihat di tengkuk Risa ada tanda yang mungkin baru saja dibuat Hilman. Ibu Sintia juga yakin Hilman sudah tahu tentang kehamilan Risa, dan ia yakin Hilman tidak akan lama-lama di luar negeri.

__ADS_1


Risa mulai mengguyur tubuhnya di bawah air shower, meluapkan rasa kesalnya yang tidak bisa ia katakan saat ini. Menangis dengan sekencang mungkin agar tidak terus merasa terbeban, dan ia sadar jika ada nyawa lain di dalam dirinya. Ia tidak ingin egois dan Risa cepat-cepat memakai handuk.


Hari ini Risa tidak memakan satu biji nasi pun ia hanya berbaring di atas ranjang. Dengan segala perasaan yang tidak karuan, "Kenapa aku jadi sering murung begini," Risa mulai berbicara dengan dirinya sendiri, sebab ia sadar bersedih dan murung bukanlah dirinya.


"Risa," Ibu Sintia masuk ke kamar Risa dengan buru-buru, dan ia melihat Risa yang sedang terbaring di atas ranjang, "Risa Tante Meyda masuk rumah sakit, dan Ibu di minta ke Bandung. Kamu bolehkah ibu tinggal dulu, kasihan Tante Meyda dia itu sedang ada masalah dengan suaminya dan tidak ada yang menunggui nya," kata Ibu Sintia.


"Iya Bu enggak papa kok," Risa tahu Tante Meyda dengan rumah tangganya yang berada di ujung tanduk, akibat suaminya yang berselingkuh.


"Tapi kamu serius enggak papa?" Ibu Sintia juga ragu untuk meninggalkan Risa di rumah, "Ibu tidak usah pergi, kamu juga sepertinya sedang tidak enak badan," kata Ibu Sintia lagi.


Risa langsung berdiri, dan ia tersenyum melihat bertapa tulusnya Ibu Sintia, "Ibu pergi aja buat jenguk Tante Meyda, kasihan dia Bu. Di sini ada banyak Art ada Mbok Minah juga kan Bu," Risa terus meyakinkan Ibu Sintia jika ia tidak apa-apa.


Ibu Sintia terdiam dan menatap Risa, "Tapi, kamu yakin?"


"Dari kemarin juga Risa enggak kenapa-kenapa kan Bu?"


Ibu Sintia mengangguk lemah, kemudian ponselnya berdering dan tertulis nama Meyda.


"Kan Tante Meyda nelpon Ibu, udah Ibu pergi aja. Kasihan kan Bu Tante Meyda, udah Ibu pergi aja takutnya Tante Meyda kalut sampai melukai dirinya sendiri kan gimana Bu," Risa terus berusaha untuk membuat Ibu Sintia tetap pergi, lagi pula ia hanya merasa tidak enak badan. Dan setelah beristirahat ia yakin akan segera pulih.


"Baiklah, kalau ada apa-apa cepat kasih kabar Ibu ya," Setelah Risa cukup meyakinkan dirinya, akhirnya Ibu Sintia memutuskan untuk pergi ke luar kota, karena mengingat adik bungsunya yang tengah mengalami masalah yang cukup serius akan rumah tangga nya.


"Iya Bu, Risa enggak papa kok."


*


Tolong Vote, tolong Vote tolong Vote.

__ADS_1


__ADS_2