Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Penting


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 09:00 Hanna terus berjalan menyusuri jalanan, gelapnya malam diterangi lampu jalanan menuntun kakinya terus melangkah tanpa arah. Sampai akhirnya ia menyadari ada yang mengikuti dirinya berjalan, seketika Hanna berhenti melangkah. Dengan cepat ia berbalik dan ternyata Devan yang mengikuti dirinya, tidak ada kata yang keluar dari mulut Hanna. Ia kembali berbalik dan lanjut berjalan lagi, namun beberapa langkah kemudian ia kembali berhenti lalu dengan kesal yang semakin membuncah ia berbalik.


Devan dengan tubuh tinggi, tegap, dan mata setajam elang yang berjalan di belakang tubuh Hanna juga ikut berhenti melangkah. Wajahnya terlihat hanya datar saja dan diam tanpa kata saat mata Hanna menatapnya kesal.


Dari kejauhan sebuah taxi melaju dengan kecepatan sedang, seketika tangan Hanna bergerak melambai. Untuk menghentikan lajunya, tidak berselang lama taxi tersebut berhenti. Hanna bergegas mendekat dan tangannya bergerak berusaha membuka pintu taxi, namun sayang, semua tidak bisa berjalan mulus seperti apa yang di pikirkan Hanna. Sebab Devan meminta taxi itu untuk segera pergi, hingga membuat emosi Hanna sampai di ubun-ubun.


"Mas mau nya apa sih?!" geram Hanna, nafasnya naik turun, seiring dengan emosi yang terus semakin membuncah.


Devan hanya diam tanpa berbicara apapun, dan itu semakin membuat Hanna kesal. Sampai akhirnya Hanna kembali berjalan, dan Devan mengikutinya dari belakang.


Hanna tidak lagi memperdulikan Devan, kini ia terus berjalan sambil melihat taxi ataupun kendaraan umum yang akan membawanya pulang. Sampai akhirnya matanya melihat ada taman kota dengan danau buatan di tengah-tengah, kaki Hanna dengan cepat mengarah ke sana dan duduk di atas kursi putih yang cukup nyaman untuk memandang indahnya malam.


Tidak berselang lama Devan juga berdiri di belakang kursi yang di duduki Hanna, dengan diam tanpa bicara. Devan dengan wajah dingin dan sedikit bicara itu juga sangat tertutup membuatnya cukup sulit untuk berbicara, bagi Devan penjelasan bukan sebuah keharusan. karena yang membuktikan adalah setiap perlakuan.


"Ngapain masih ngikutin?" mata Hanna menatap ke arah depan, dengan tubuh sedikit condong ke depan dan tangan yang memegang sisi kursi.


Devan memasukan kedua tangannya kedalam masing-masing saku celana nya, ia hanya menatap danau buatan yang terbentang indah di hadapan nya.


Hanna yang butuh jawaban seketika memutar leher ke arah kiri, dimana ada Devan di sana, "Ngapain masih di sini?!" omel Hanna, "Dasar tidak jelas!" gerutu Hanna.


Devan kini beralih menatap Hanna, kemudian kakinya berjalan mendekati kursi yang di duduki Hanna. Perlahan Devan duduk di samping Hanna.


"Kenapa duduk di sini?!" kesal Hanna. Ia menatap Devan dengan mata yang tajam dan juga ada kemarahan.


Devan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, ia melipat kedua tangannya di dada. Kemudian membalas tatap Hanna.


Entah apa yang Hanna rasakan, dengan cepat Hanna memutuskan pandangannya menatap manik mata Devan. Rasanya tatapan itu sama seperti saat dulu Devan melamar dirinya, hingga Hanna tidak ingin lagi membalas tatapan Devan.


Lama keduanya diam tanpa ada yang memulai pembicaraan, sampai akhirnya malam semakin larut dan Hanna bergegas bangun dari duduknya. Namun saat Hanna sudah berdiri tangan Devan dengan cepat memegang pergelangan tangan Hanna.


"Lepas!!" Hanna berusaha melepaskan tangan Devan, tapi cukup sulit.


"Duduk di sini, tidak usah banyak berontak. Aku masih sangat hafal bentuk tubuh mu!" tegas Devan.


Glek.

__ADS_1


Hanna menarik nafas, dan membuang pandangannya ke arah lain, "Ngapain bahas yang begitu! Lepaskan!" pinta Hanna lagi, sambil berusaha melepaskan tangan Devan..


"Duduk," pinta Devan.


Setelah menimbang beberapa saat akhirnya Hanna memutuskan untuk duduk kembali pada kursi, dan Devan juga duduk di samping Hanna. Jika Hanna hanya menatap kedepannya lain halnya dengan Devan yang menatap Hanna.


"Lepas!"


Perlahan Devan mulai melepaskan tangan Hanna, setelah ia melihat Hanna duduk di samping nya.


"Cepat bicara! Dari dulu sampai sekarang diam mu itu tidak pernah berubah Mas!!"


Devan terus menatap Hanna dengan bibir yang sedikit tertarik pada sudut nya, "Sepertinya kau masih sangat tahu tentang aku," ucap Devan.


Hanna masih menunggu kata yang keluar dari mulut Devan, tapi Hanna hanya diam tanpa bertanya.


"Katakan kenapa saat ini kau marah?" tanya Devan.


Hanna seketika memutar lehernya, dan memberikan senyum miring pada Devan, "Masih bertanya!"


Hanna hanya diam, karena kesal pada Devan. Pertanyaan Devan seakan seperti Devan tidak tahu apa-apa.


"Apa hubungannya dengan ku? Kenapa kau marah pada ku?" tanya Devan lagi.


Hanna melihat Devan, "Apa Mas tidak dengar kata-kata Diana?"


"Iya, lalu masalah nya?" tanya Devan lagi, "Apa kau cemburu?" tebak Devan.


Deg.


Pertanyaan Devan seakan membuat Hanna menjadi tegang, tapi kini Hanna juga mulai sadar ia bukan siapa-siapa untuk Devan.


"Jangan asal bicara!" elak Hanna.


"Lalu kenapa kau marah?" tanya Devan lagi.

__ADS_1


"Aku kesal di sebut pelakor. Aku tidak mau di tuduh merusak hubungan orang! Pergi dari sini, kenapa kau tidak mengejar istri mu!"


"Istri?" tanya Devan balik.


"Mas!" Hanna menaikkan nada bicara, sambil menatap Devan dengan tajam. Karena kesal pada Devan yang minim dalam berbicara.


"Kami sudah sah bercerai!" timpal Devan dengan cepat, padahal Hanna masih akan berbicara.


Mendengar kata-kata Devan, Hanna seketika diam tampa berbicara. Ia masih menatap Devan dengan bingung.


"Aku dan Diana sudah sah bercerai, kami tidak memiliki hubungan lagi. Dan anak yang dia bawa pun bukan anak ku!" jelas Devan.


Hanna terkejut mendengarnya, tapi rasanya pendengaran nya masih cukup baik. Hingga ia yakin dengan apa yang di dengar, "Jangan asal bicara, dulu juga kau tidak mengakui Davina!" tegas Hanna dengan menitikberatkan air mata.


Devan mengerti dengan perasaan Hanna, ia menatap Hanna yang tengah menatapnya pula. Masih dengan mata Hanna yang berkaca-kaca.


"Aku memang bersalah, aku sadar. Maaf ku pun tidak akan bisa untuk menghapus sakit di hati mu, tapi aku sudah menyandang status duda sejak beberapa tahun lalu," jelas Devan.


"Kenapa Mas diam saat tadi, saat Diana mengatakan aku ini mendekati suami orang!"


"Mau sampai kapan berdebat dengan Diana?" tanya Devan, "Tidak akan ada habisnya berdebat dengan orang yang tidak penting!" tegas Devan lagi sambil menatap Hanna.


Hanna diam saat mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Devan, "Iya, lalu kenapa Mas mengikuti ku, sampai di sini! pantas saja dari tadi Mas hanya diam. Karena memang aku tidak penting!"


"Kau mau menjadi sesuatu yang penting dalam kehidupan ku?!" tanya Devan seketika.


Deg.


Hanna seakan tidak mampu berkata-kata, pertanyaan demi pertanyaan yang di lontarkan oleh Devan seakan membuatnya menjadi bingung.


"Tapi dari dulu sampai sekarang sama saja Hanna, kau masih terlalu penting untuk ku!" papar Devan.


*


Jeng, jeng, jeng.

__ADS_1


Like dan Vote Otor balik lagi.


__ADS_2