
"Surprise!!!!!" seru Clarisa.
Clarisa baru saja sampai dari Italia, bersama dengan sang Mommy Citra yang juga berkunjung ke Indonesia. Keduanya datang tanpa memberitahu pada Devan, dengan alasan ingin memberikan sebuah kejutan.
"Waw....." Devan terkejut saat melihat kedatangan Clarisa dan Mom Citra, "What a great surprise!!!!" kata Devan sambil terkekeh.
Clarisa dan Mom Citra mulai berjalan masuk ke dalam ruang Devan, tidak dengan tangan kosong. Keduanya datang dengan membawa buah tangan tentunya.
"Mom ingin melihat dua cucu Mom," ujar Mom Citra penuh harap, sebab selama ini Devan tidak memberikan ijin padanya untuk melihat Derren dan Davina. Padahal Citra sangat ingin sekali, apa lagi saat Clarisa menceritakan tentang dua anak lucu itu. Sungguh semaki membuat hati Citra bergerak ingin memeluk dua cucunya.
Devan mengangguk, ia setuju dengan permintaan Mom Clarisa. Menurut Devan tidak ada salahnya, lagi pula ia ingin meminta Hanna untuk rujuk kembali. Apa lagi mengingat kejadian semalam, ia yakin Hanna sudah kembali menerima nya.
Melihat Devan mengangguk Citra tentu saja sangat bahagia, "O....senang sekali, Mom sudah bawakan makanan. Dan sebentar lagi kita belikan mainan juga," kata Mom Citra dengan senyuman.
"Pasti sekarang ini dua anak itu sudah semakin menggemaskan," tebak Clarisa sambil tersenyum ceria, "Kak Dev, ponsel ku tidak tahu di mana. Bisakah pinjamkan aku ponsel?" tanya Clarisa.
Devan mengambil ponselnya dari dalam saku, kemudian ia meletakkan nya di atas meja. Dengan hati yang bahagia Clarisa mendekati ponsel itu, namun kakinya tersandung.
"Aaaa....." teriak Clarisa.
Tubuh Clarisa langsung terduduk di atas pangkuan Devan, sebab Devan dengan cepat menarik Clarisa agar tidak terjatuh ke lantai.
Clek..
Pintu terbuka, seorang wanita dengan tubuh tinggi mulai masuk dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya.
Deg.
Senyum itu seketika memudar, menghilang saat melihat seorang wanita duduk di atas pangkuan Devan.
"Hanna," panggil Clarisa.
Semua mata langsung menatap arah pintu, termasuk juga Devan.
Citra pernah melihat fhoto Hanna pada bingkai fhoto yang terpajang di atas meja kerja Devan, tapi untuk bertemu langsung baru kali ini. Hingga ia menatap Hanna penuh tanya.
Clarisa urung dalam mengambil ponsel Devan, dengan buru-buru ia turun dari pangkuan Devan dan mengejar Hanna yang berdiri di daun pintu yang sudah tertutup.
__ADS_1
"Hanna, aku kangen," Clarisa langsung memeluk Hanna yang masih diam mematung.
Hanna tidak mengenali siapa wanita yang kini memeluknya, yang ada di pikiran Hanna kini siapa wanita yang duduk di pangkuan Devan barusan. Hanna yakin keduanya bukan sekedar teman.
"Hanna," Clarisa menyadarkan Hanna dari lamunannya, karena Hanna hanya diam mematung larut dalam pikiran nya.
Hanna masih menatap wajah Clarisa dalam jarak yang cukup dekat, ia masih bingung siapa wanita yang kini di dekatnya.
"Hanna, aku Risa," kata Clarisa lagi.
"Risa?" tanya Hanna sambil memperhatikan wanita di hadapan nya.
"Em," Clarisa mengangguk, rambut pirang lurus tergerai indah membuat pesona Clarisa semakin terpancar.
Hanna mulai menatap dengan jelas, sesaat kemudian ia ingat siapa Clarisa, "Risa," kata Hanna.
Clarisa mengangguk, ia bahagia karena Hanna sudah mengenalinya kembali.
"Risa," dengan cepat Hanna kembali memeluk Risa, rasa haru sungguh begitu terasa.
"Aku kangen banget," kata Clarisa sambil memeluk Hanna dengan erat.
"Aku hanya sedang melanjutkan studi, dan mana dua bocah kesayangan ku. Derren dan Davina?" tanya Clarisa dengan antusias.
"Mereka di rumah, kamu di sini?" tanya Hanna bingung.
Clarisa menarik Hanna untuk masuk, kemudian ia mendekati Citra, "Hanna, ini Mom Citra. Dia adalah Mom Kak Dev," jelas Clarisa.
Hanna menatap Mom Citra dengan senyum kecut, bukan karena tidak suka. Tapi pikiran negatif kini semakin menyelimuti perasaan nya, panggilan Clarisa yang dulu tuan kini berubah menjadi Kakak. Dan bahkan Clarisa yang memperkenalkan dirinya pada Ibu kandung Devan, artinya Clarisa sudah sangat kenal dengan anggota keluarga Devan.
"Can I hug you?"
Hanna mengangguk lemah, tapi Citra tersenyum dan ia langsung memeluk Hanna. Seseorang yang sudah melahirkan dua orang cucunya.
"O....aku jadi pengen di peluk juga," Clarisa menatap Devan yang tengah tersenyum menatap Mom Citra yang tengah memeluk Hanna, "Apa Kak Dev juga mau ku peluk?" tanya Clarisa.
"Kenapa tidak," jawab Devan.
__ADS_1
Deg.
Jantung Hanna berdetak kencang, satu butir air matanya jatuh menetes dengan begitu saja. Yang ia rasakan hanya sebuah kesakitan yang tidak bisa di katakan, melihat Devan di peluk Clarisa. Bahkan Devan dengan senang hati menerima Clarisa memeluknya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Mom Citra.
Hanna dengan cepat mengusap air matanya, kemudian ia memasang senyum untuk tetap biasa saja.
"Iya," kata Hanna dengan yakin.
Clarisa masih duduk di atas panggung Devan, sambil memegang ponsel Devan karena ia lupa di mana terakhir meletakan ponselnya. Sedangkan ia dan Devan memang sudah terbiasa manja, Clarisa hanya biasa saja sebab ia pikir Devan pasti sudah menceritakan tentang dirinya. Jadi tidak masalah jika ia duduk di pangkuan sang Kakak.
Dreet.
Ponsel Clarisa berbunyi.
"Oh.... Clarisa, ternyata ponsel mu ada di tas Mom," Citra langsung mengambil ponsel Clarisa dari dalam tas nya.
"Iya hehehe, tadi aku sendiri yang memasukkan nya ke sana," Clarisa seketika mengingat ternyata ia yang salah, karena lupa. Dengan cepat Clarisa bangun dari pangkuan Devan dan mengambil ponselnya.
"Saya permisi dulu, ada pekerjaan yang harus saja kerjakan," pamit Hanna.
Citra dengan cepat memegang lengan Hanna, "Em, tidak bisakah kita berbicara sebentar?" pinta Mom Citra penuh harap, "Aku ingin berbicara dengan mu," tambah Mom Citra lagi.
Hanna tersenyum, "Lain waktu saja Tante, Hanna sedang ada pekerjaan," tolak Hanna.
Dengan berat hati Mom Citra mengangguk lemah, "Padahal saya ingin bicara banyak hal," kata Mom Citra lagi, bahkan ia ingin meminta Hanna untuk kembali menjadi istri anaknya. Citra sangat tidak tega melihat Devan yang seakan mati rasa, karena tidak tertarik pada wanita di luar saja. Sebab tidak bisa melupakan masa lalu yaitu Hanna.
"Lain waktu saja Tante."
Citra lagi-lagi dengan berat hati mengangguk, "Tapi apa boleh saya melihat kedua cucu saya?" tanya Citra lagi.
Hanna mengangguk, "Tentu saja, sekarang mereka ada di rumah. Kapan saja kalau mau, Tante boleh temui mereka," jawab Hanna.
"Kau ternyata baik sekali," ujar Citra tersenyum.
"Permisi," pamit Hanna.
__ADS_1
"Hanna, nanti aku ke kantor mu ya. Aku mau bercerita banyak hal yang membahagiakan," kata Clarisa dengan senyuman.
"Iya, permisi," Hanna mengangguk dan buru-buru pergi, seketika ia meneteskan air mata yang dari tadi ia tahan mati-matian. Bukankah Devan hanya sekedar mantan, tapi mengapa rasanya begitu menyakitkan.