Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Derren yang lucu


__ADS_3

Sementara di tempat lainnya, ada seorang wanita yang sedang mengandung enam bulan yang tengah kesulitan menggendong anaknya. Dia adalah Hanna.


Hanna kini tinggal di perumahan sederhana, bahkan ia hanya mengontrak di sana. Hari-hari Hanna adalah bekerja, dengan bakat menjahit yang ia miliki ia bisa menghasilkan rupiah. Walaupun tidak seberapa tapi mampu untuk membayar kontrakan, dan juga memenuhi kebutuhannya dengan Derren. Hanna yang terbiasa hidup dengan pas-pasan tidak merasa sulit dengan keadaannya sekarang, karena hidup susah baginya biasa.


Sebenarnya Hanna bisa saja menerima bantuan Adam, akan tetapi ia tidak mau. Karena Hanna tidak ingin berhutang Budi pada orang lain, lagi pula Hanna ingin hidup mandiri dengan hasil jeripayah nya sendiri. Bahkan walaupun Derren kini minum susu formula, ia masih mampu membelinya. Walaupun susu formula itu hanya yang cukup murah dan kwalitas standar pula. Tapi Hanna tetap bersyukur paling tidak Derren masih bisa minum susu.


Semenjak ia positif hamil, Hanna memang tidak lagi memberikan asi untuk Derren. Karena itu tidak di perbolehkan, hingga ia memberikan susu formula. Dan Derren seperti mengerti akan keadaannya, Derren minum susu Formula dengan baik. Bahkan tidak menolak seperti dulu yang yang dikatakan Diana dan Devan, tentang Derren yang tidak mau minum susu formula.


"Derren, ini susunya Nak," Hanna menggerak-gerakkan botol susunya di hadapan Derren.


Derren tersenyum dan menampakan dua gigi bagian bawahnya yang sudah tumbuh, ia merangkak dan berusaha mendekati Hanna.


Hanna mendudukan dirinya di karpet bulu yang berharga cukup murah itu, sedetik kemudian Derren mendekat padanya dan memegang tangan Hanna.


"Mammmma....." Derren yang masih mengoceh dan sudah mampu mengucapkan kata Mama walaupun tidak terlalu jelas. Tapi ia terlihat semakin pintar, dan tidak terlalu sulit untuk mengurus nya.


"Apa sayang," Hanna mengangkat Derren, dan membaringkan Derren. Kemudian Hanna juga ikut berbaring di samping Derren, "Buka mulutnya," perintah Hanna.


Derren membuka mulut dan tidak sabar untuk meminum susu formula yang terisi penuh pada botol susunya.


"Baca doa dulu," kata Hanna.


Kemudian Derren mulai meminum susu formula nya dengan lahap, Hanna melihat pipi cabi Derren dan mengecupnya sampai beberapa kali. Bahakan tingkah Derren semakin menggemaskan. Tidak berselang lama Derren tertidur dengan lelap, kemudian Hanna menyelimuti Derren dan ia bangun karena harus segera menyelesaikan pesanan baju milik pelanggan nya.


Dan dalam waktu yang bersamaan Adam datang.


"Assalamualaikum...." kata Adam sambil membawa mainan untuk Derren.


"Waalaikumusalam," jawab Hanna.


Adam tidak di perbolehkan Hanna masuk, dan Adam pun mengerti. Hanna menjelaskan ia adalah seorang janda dan Adam seorang lelaki yang belum beristri dan datang sendiri, jadi Hanna sudah mengatakan jika Adam boleh jika ingin melihat Derren. Tapi cukup sampai di teras rumah saja, dan Derren yang akan dia bawa keluar.

__ADS_1


"Derren mana Han?" tanya Adam, sambil ia duduk di kursi yang ada di teras rumah.


"Derren baru aja tidur," jawab Hanna yang hannya berdiri saja di depan pintu.


"O....ini ada mainan untuk Derren," Adam meletakan nya di atas meja.


"Terima kasih," kata Hanna terharu.


"Enggak papa, buat ponakan," kata Adam tersenyum. Sebab ia memang menyayangi Derren sebab wajah kecil Derren sangat mirip dengan photo, wajah kecil Kakaknya Raisa.


"Assalamualaikum," sapa seorang tetangga yang mulai melihat Hanna dan Adam.


"Waalaikumusalam Bu Neng," jawab Hanna dengan ramah.


"Gaun saya udah siap belum?"


"Udah Bu, ayo kita lihat kedalam," Hanna mempersilahkan ibu tersebut masuk, kemudian memperlihatkan baju yang sudah selesai ia jahit milik ibu tersebut.


"Wah....cantik sekali, ini sudah seperti jahitan baju-baju mahal itu. Jahitannya rapi begini," kata ibu itu lagi terlihat bahagia melihat hasil kerja Hanna.


"Hanna yang di depan suami kamu ya? Ganteng banget sih," tanya si Ibu yang dari tadi penasaran.


"Em...." Hanna sebenarnya malas membahas perihal suami, tapi ibu tersebut terlihat sangat penasaran, "Bukan Bu, saya ini seorang janda. Saya sudah bercerai dari suami," jelas Hanna.


"Lho...." Ibu tersebut melihat perut buncit Hanna, "Tapi kamu sedang hamil Han?"


"Iya Bu, tapi bagaimana lagi. Kami memutuskan untuk bercerai," kata Hanna lagi, ia tidak ingin membicarakan keburukan orang lain. Lagi pula bagi Hanna Devan hanyalah masa lalu saja.


"Maaf ya Ibu enggak maksud apa-apa," sang Ibu merasa tidak enak, karena bertanya tentang masalah pribadi Hanna, "Saya cuman kasihan aja, kamu sedang hamil begini, terus momong anak kecil," jelas si ibu lagi.


"Iya Bu, tidak apa. Hanna senang dan tetap bersyukur kok Bu," Hanna tersenyum ramah dan tidak tersinggung sama sekali.

__ADS_1


"Ya udah, bajunya ibu bawa pulang ya," si Ibu melunasi sisa pembayaran baju dan ia berpamitan pergi, "Assalamualaikum."


"Waalaikumusalam...."


Sementara di tempat yang lainnya tapi masih dengan waktu yang sama, Devan masih berusaha melarikan diri. Keringat Devan sudah cukup banyak, bahkan sudah membanjir di dalam bajunya. Hanya karena dari tadi terus berusaha menghindari sang Nenek yang terus minta di nodai.


"Sayang ayo dong, jangan main petak umpet terus..." ujar sang Nenek.


"Dasar gila!" geram Devan.


"Sayang ayo tunggu apa lagi, cepat nodai aku," kata sang Nenek yang ingin memeluk Devan.


"Hey menjauh!" geram Devan, "Mana kunci pintu ini!" Devan berusaha membuka pintu, tapi tidak bisa karena terkunci.


"Kuncinya di sini," Nenek itu menunjukan kantong celananya, dan di sanalah ia menyimpan kuncinya, "Ayo mendekat," kata Nenek itu lagi.


"Berikan!"


"Sayang peluk aku," Nenek itu mengejar Devan, tapi Devan dengan cepat berlari hingga ia berhasil menghindar sang nenek, "Sayang kau sedang mengajak ku bermain ya?" tanya Sang Nenek sambil mengkedipkan sebelah matanya.


"Sssstttt....." Devan mendesis karena ia malah geli melihat Nenek yang begitu bernafsu padanya itu. Bahkan Devan ingin sekali muntah.


"Sayang," Nenek itu berusaha memeluk Devan.


Devan melihat ada jendela, dan langsung saja ia menaiki nya dan meloncat keluar.


"Sayang, jangan tinggalkan aku....." kata Nenek itu dengan rasa sedihnya.


"Dasar gila...."


"Suami ku, sayang ku!!!!" teriak Nenek itu lagi.

__ADS_1


Devan cepat-cepat pergi dan masuk kedalam mobilnya, setelah itu ia cepat-cepat mengemudikan mobil nya, "Sial!" Devan memukul kemudi. Karena Adam benar-benar mengerjainya habis-habisan.


Devan menginjak gas dengan penuh, hingga kecepatan mobil itu benar-benar tinggi. Ia ingin meluapkan segala kekesalannya. Hingga ia sampai di rumah, dan memarkirkan mobilnya, "Huuuueek....." Devan langsung muntah tepat di depan mobil, ia mual mengingat wajah sang Nenek yang hampir saja mengecup pipinya.


__ADS_2