Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Bisakah?


__ADS_3

POV Clarisa Anderson.


Tatapan matanya mengarah pada ku, aku tidak mengerti apa maksud nya. Dia menatapku tanpa hentinya, dengan tangannya yang memegang pipiku. Bisakah kalian bayangkan perasaan ku saat ini? Aku Clarisa Anderson harus memberikan segalanya untuk dia suami ku.


Namanya Hilman, aku tidak tahu apakah dia mencintai ku atau tidak. Yang aku tebak tentu saja tidak, aku tidak pernah menuntut untuk dia mencintai ku. Sebab aku tahu aku yang maksa masuk dengan menawarkan diri menjadi bagian dari hidupnya, lalu apakah aku pantas memintanya untuk mencintai ku. Aku tidak tahu mengapa takdir membawa ku bertemu dengan nya, dengan mudahnya aku rela menggantikan Kakak ipar ku menjadi pengganti di hari pernikahan mereka. Apakah aku menyesal? Tentu saja tidak, ini demi aku yang ingin melihat dua keponakan ku bahagia. Aku wanita kuat yang tidak kenal lemah bersedia menikah dengan dia yang jelas-jelas mencintai Ipar ku sendiri. Bahkan dengan ikhlas dari awal menjadi istrinya, aku pun sudah siap jika harus memberikan diri saat malam dia menikahi ku.


Tatapan matanya semakin mengarah pada ku, aku membalasnya seolah aku sudah menunggu sejak lama. Padahal aku sedang berusaha untuk tetap tenang dan tidak gugup. Entah sadar atau tidak, tapi dia sangat kasar aku sendiri bingung padanya apakah ia sadar atau tidak. Tangan ku mencengkram spray dengan erat, demi meluapkan rasa sakit yang aku rasakan. Namun, setelah itu aku melihat sekeliling ku berputar dan aku mulai tidak ingat lagi apa yang terjadi.


POV Author


"Risa!!"


Wajah Risa yang memucat, seiring dengan kesadaran yang sudah hilang. Lalu apa yang bisa di lakukan oleh Hilman, ia sangat takut dan juga begitu panik. Karena kesalahannya yang bermain dengan begitu kasar, sebab ia memposisikan Risa adalah wanita yang sudah terbiasa dan juga sudah lihai. Namun ternyata ia salah, semua sangat berbeda dari apa yang ia pikirkan tentang Risa selama ini.


Hilman mengambil minyak angin, lalu mengoleskan pada bagian leher, tangan, tengkuk, dan juga pada hidungnya. Berharap dengan begitu Risa akan segera sadarkan diri, karena Risa tidak juga sadarkan diri akhirnya Hilman mengambil ponselnya dan mencari seseorang yang bisa membantunya saat ini.


Drettt.


Ponsel Adam yang tergeletak di atas meja mulai bergetar, "Apa kau merindukanku?" Adam yang menerima panggilan Hilman merasa aneh, sebab ini sudah sangat malam bahkan pukul 10:00 malam. Namun entah apa sebabnya Adam sangat bingung, hingga ia berbicara asal.


Hilman merasa sedikit lega saat Adam menjawab panggilannya, kalau tidak mungkin malam ini juga ia akan melarikan Risa ke rumah sakit. Dan apa lagi yang akan ia katakan jika dokter di rumah sakit bertanya penyebab Risa tidak sadarkan diri. Dan saat ini Pun sama, Hilman bingung bagaimana cara memberitahukan kepada Adam mengenai keluhannya saat ini.


Adam yang berada di seberang sana merasa kesal, karena Hilman belum juga berbicara mengenai tujuannya untuk menghubungi dirinya.


"Hilman, apa kau hanya ingin mendengar suara ku saja?" kesal Adam di seberang sana, karena ia ingin segera pulang ke rumah.


Dengan perasaan yang sedikit kesal Hilman memberanikan diri untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan, "Adam, bisakah kau ke rumah ku?" tanya Hilman dengan sedikit ragu.


"Apa Ibu mu sakit?" tebak Adam, sambil masuk ke dalam mobil miliknya. Kemudian ia mengemudikan nya, sebab ia sudah lelah seharian berada di rumah sakit. Dan ia butuh pulang ke rumah untuk beristirahat.

__ADS_1


"Bukan, Risa," mulut Hilman sulit sekali berbicara, tapi ia cukup panik saat melihat wajah pucat Risa, "Risa pingsang sudah hampir satu jam, dan aku takut," ujar Hilman mengatakan maksudnya.


"Baik tunggu aku di rumah mu," jawab Adam sebab rumahnya melewati rumah Hilman.


"Adam," panggil Hilman dari seberang sana.


"Aku akan segera sampai!" Adam ingin sekali segera mengakhiri panggilan itu, tapi Hilman masih ingin berbicara dan Adam dengan kesabaran sedikit menunggu, "Cepat bicara!" geram Adam, sebab tidak biasanya Hilman berbicara seperti itu.


"Kau jangan katakan ini pada siapapun, termasuk Ibu ku. Dan kau masuk lewat pintu belakang," pinta Hilman dengan rasa cemas yang semakin besar.


"Aneh sekali!" gerutu Adam, dan ia langsung mengakhiri panggilan sepihak. Adam terus memacu laju kendaraan nya di jalan, ia sekarang sangat penasaran mengapa Hilman begitu cemas namun harus di rahasiakan, "Apa Risa hamil?" gumam Adam, "Tapi tidak mungkin, mereka baru menikah," kata Adam lagi yang terus berdebat dengan dirinya sendiri.


Adam memarkirkan mobilnya di luar gerbang rumah Hilman, satpam sudah di beritahu perihal kedatangan Adam. Dan ia di minta untuk mengantarkan Adam ke dalam kamar Hilman, tanpa sepengetahuan Ibu Sintia.


"Ada apa?" Adam melihat Risa yang berbaring di atas ranjang, dengan selimut.


Hilman seketika melihat Adam, cepat-cepat ia bangun dari duduknya dan menarik Adam masuk. Tidak lupa Hilman mengunci pintu kamar dengan cepat, bahkan Adam di buat semakin bingung.


Adam tidak ingin banyak bertanya, ia berjalan mendekati ranjang dan ingin membuka selimut Risa. Karena ia harus memeriksa. Namun, tiba-tiba ada tangan yang menahan, dan itu Hilman, Adam kian menatap bingung.


"Aku mohon jangan!"


Adam urung membuka selimut dan menatap Hilman dengan bingung, "Maksud mu apa?" tanya Adam, "Aku harus memeriksa nya bukan?"


"Iya, tapi.....kau cukup membuatnya sadar," kata Hilman, "Dia tidak sadar, karena aku...." Hilman menggaruk kepalanya.


Tanpa di jelaskan dengan baik Adam sudah mengerti, apa lagi saat melihat tengkuk Risa yang sedikit terlihat. Dimana ada tanda macan yang mungkin baru menerkam nya, "Mmmmfffffpp....." Adam menahan tawa saat mendengar penjelasan Hilman.


"Puas!" geram Hilman, dengan mata yang menatap Adam begitu tajam, "Cepat buat dia sadar!" titah Hilman.

__ADS_1


"Baru kali ini aku menemukan pasien yang aneh seperti mu, seperti kau harus aku ajarkan teorinya," kata Adam sambil terkekeh geli.


"CK!" Hilman memijat dahinya dan tidak menyangka ini bisa terjadi, hanya karena ia pikir Risa sudah terbiasa lalu memperlakukan Risa layaknya wanita handal dan sudah hebat karena terbiasa.


Setelah Adam menangani Risa, kini Risa mulai sadar. Ia perlahan membuka mata dan melihat Hilman yang berada di hadapannya.


"Aku pamit, dan coba dengan cara lembut. Dan jangan lupa berguru pada ku," celetuk Adam.


"Dokter sialan!" kesal Hilman.


"Ahahahhaha......" Adam keluar sambil tertawa terbahak-bahak, sebab ia berhasil membuat Hilman menjadi malu.


"Mas," suara lemah Risa mulai memanggil Hilman.


"Iya, maaf ya," kata Hilman dengan rasa bersalah.


Risa mengangguk, dan keduanya diam dalam keheningan. Risa melihat Hilman yang terus saja mengusap wajah, dan Risa sama sekali tidak mengerti mengapa malam sudah larut tapi Hilman belum juga bisa tidur.


"Kenapa Mas?"


Hilman mengusap tengkuknya, "Risa, bisakah kita selesaikan, aku semakin tidak karuan."


Risa mengangguk, "Tapi jangan kasar ya Mas," pinta Risa.


Hilman mengangguk dan dengan cepat ia melahap bibir Risa.


"Sssstttt....." Risa merintih saat merasa ada sesuatu menyentuh nya dengan manja, dan menyatu dengan pelan tanpa menyakiti.


"Sudah lebih tenang?" tanya Hilman takut Risa kesakitan.

__ADS_1


Risa menggigit bibir bawahnya, dan menutup mata karena pemainan ini membuatnya menjadi tidak karuan.


Semua seakan berubah seketika, dengan perasaan yang hati-hati dan tanpa cinta keduanya melalui malam dengan begitu indah.


__ADS_2