
Malam harinya Devan tetap berada di depan teras rumah kontrakan milik Hanna, ia masih ingin berada di sana karena ingin tahu tentang keadaan Hanna.
Risa membuka kaca gorden, dan melihat Devan masih duduk di teras, "Han, Tuan Devan masih di depan," kata Risa, yang tengah menyuapi Derren.
Hanna melihat kearah luar, dan benar ada Devan di sana, "Aku sedang tidak ingin membahas itu," kata Hanna. Karena sakit setelah melahirkan beberapa jam yang lalu saja masih sangat terasa, jadi Hanna ingin fokus pada kesehatan tubuhnya agar bisa membesarkan kedua anaknya.
"Tapi aku kasihan Han," kata Risa lagi.
"Kalau gitu kamu temanin gih...." jawab Hanna tanpa beban.
"Ish....kami kalau ngomong jangan ngaur dong," kata Risa yang merasa ane dengan jawaban Hanna.
"Risa, tolong ambilkan air hangat. Si Adek pup, besok aku minta tolong ya, kamu belanja buat kebutuhan kita," pinta Hanna.
"Siap bos, itu gampang. Masalah belanja aku mah.....jagonya, tenang," kata Risa dengan tersenyum dan bersemangat.
"Aku bersyukur deh Risa, karena kamu datang aku jadi terbantu banget," kata Hanna terharu.
"Tidak masalah, aku juga bahagia kok. Dan aku ikhlas," jawab Risa.
Keesokan harinya hal yang tidak terduga terjadi, saat ini keadaan Hanna sudah lebih baik. Akan tetapi ia masih sedikit sulit untuk bergerak, wajar saja begitu karena semua wanita setengah melahirkan tidak ada yang langsung bergerak bebas.
"Assalamualaikum," terdengar seseorang yang mengucapkan salam di luar sana, rumah sederhana dengan satu kamar tidur. Dapur dan ruang tamu, dan satu kamar mandi di samping dapur membuat Risa langsung bisa mendengar suara itu.
"Waalaikumusalam," jawab Risa, ia menghentikan sejenak pekerjaan nya yang tengah mencuci piring. Kemudian berjalan menuju ruang tamu dan membuka kan pintu untuk tamu.
Clek.
Pintu terbuka dan Risa terkejut melihat Sarah dan Agatha yang ternyata bertamu sepagi ini.
"Apa ada Hanna?" tanya Sarah. Karena Risa masih terlalu terkejut dan ia hanya diam dalam kebingungannya.
__ADS_1
Risa tersadar setelah Sarah bertanya, "A....ada Nyonya," jawab Risa dengan terbata-bata.
"Siapa Sa?" tanya Hanna yang baru keluar dari kamar mandi, dan Hanna ingin masuk ke kamar. Tapi ia melihat ada tamu.
"Ini ada Nyonya Sarah," jawab Risa.
Deg.
Jantung Hanna kembali terpacu, saat ia melahirkan Derren satu tahun dulu juga sama. Sarah datang dan langsung membawa pergi anaknya. Hanna segera menuju ruang tamu dan melihat Sarah yang masih berdiri di depan pintu. Hanna memang takut jika kedatangan Sarah dan Agatha hanya untuk mengambil anak-anak nya, tapi Hanna tetap berusaha tenang seolah ia tidak takut sama sekali.
"Apa kalian kesini hanya untuk mengambil Derren?" tanya Hanna, " Pergi dari sini, aku tidak akan pernah memberikan anak ku!" tegas Hanna.
Sarah terdiam ia mengerti dengan perasaan Hanna, tapi untuk kali ini ia tidak akan melakukan itu, "Boleh kami masuk?" tanya Sarah.
"Tidak!" Hanna sebenarnya tidak sekejam itu, tapi karena terlalu takut anak-anaknya di ambil paksa ia lebih memilih bicara sedikit kasar.
"Kami datang ke sini tidak untuk mengambil cucu-cucu kami, tapi kedatangan kami hanya untuk melihat cucu kami saja. Terutama cucu kami yang baru lahir," kata Agatha yang dari tadi diam saja kini memilih untuk berbicara.
"Kalau saya mau mengambilnya sudah dari jauh sebelum nya, tapi tidak. Kami hanya ingin menjenguk cucu kami, katakanlah kau dan Devan sudah bercerai. Kau adalah mantan istri Devan, tapi anak-anak Devan tetap cucu kami. Kami bukan mantan keluarga, mereka tetap cucu kami. Kami hanya menjenguk nya percayalah," kata Agatha lagi yang berusaha meyakinkan Hanna.
Hanna diam dan merasa Agatha tidak berbohong, "Ayo masuk," kata Hanna dan menunjukan kursi sederhana yang ada di ruang tamu.
"Terima kasih," jawab Agatha.
Sarah dan Agatha masuk, keduanya duduk di kursi dan beberapa saat kemudian Derren keluar di gendong oleh Risa.
"Cucu Oma," Sarah langsung berdiri dan mengambil alih Derren dari Risa, "Derren udah besar," Sarah terlihat bahagia melihat Derren.
"Dimana cucu ku satu lagi?" tanya Agatha, karena ia tidak melihat bayi yang baru di lahirkan Hanna ikut di bawa keluar.
"Tapi dia bukan cucu anda tuan, cucu anda hanya Derren," jawan Hanna.
__ADS_1
Agatha bersandar dan melihat Hanna, "Kenapa kau bicara begitu?" tanya Agatha.
"Memang begitu adanya tuan," kata Hanna lagi, hati Hanna masih terlalu sakit mengingat saat Devan bertanya tentang anak yang saat itu ia kandung, apalagi Hanna belum yakin jika Agatha tidak mengambil anaknya.
Agatha tersenyum, "Tidak baik bicara begitu, aku tahu itu juga cucu ku."
"Tapi tuan Devan sendiri yang tidak mengakuinya," jawab Hanna lagi, jangan tanyakan perasaan nya saat ini. Butir-butir air mata yang ia tahan jatuh kembali, apakah Hanna terlalu membesar-besarkan masalah? Katakanlah begitu. Tapi Hanna memang sangat terluka saat pertanyaan itu keluar dari bibir Devan, bukan hanya pertanyaan tapi juga tangan Devan ikut berbicara. Yang lebih sakitnya semua itu terjadi saat ia tengah mengandung.
"Hanna, tolong maafkan kami. Ini bukan salah Devan, ini salah Mama. Dan Mama kesini benar-benar hanya ingin melihat cucu Mama, tidak lebih. Tolong bawa dia kemari, Mama ingin sekali memeluknya," pinta Sarah. Sarah juga menitihkan air mata, ia sangat ingin memeluk cucunya. Saat Adam memberitahu tentang Hanna yang sudah melahirkan, ia tidak bisa tenang sebelum melihat nya dengan langsung, "Mama mohon Hanna, terserah kau dan Devan mau seperti apa. Mama cuman minta kamu jangan batasi Mama untuk bertemu cucu Mama," lirih Sarah lagi.
Hanna masuk kedalam kamar, ia mengambil bayi perempuan yang baru kemarin sore ia lahirkan. Kemudian perlahan Hanna memberikan nya pada Sarah, sementara Derren kini di pangkuan Agatha.
"Kamu cantik sekali, wajahnya mirip seperti Devan ya Pa?" tanya Sarah, karena bentuk wajah bayi itu terlihat mirip sekali dengan Devan.
"Biar ayahnya malu, karena sempat meragukan anaknya sendiri itu!" jawab Agatha.
"Namanya siapa Hanna?" tanya Sarah.
"Davina Nyonya," jawab Hanna.
"Kamu panggil saya Mama ya, duduk sini," kata Sarah menepuk kursi sinsampi nya yang kosong.
Hanna duduk di kursi dengan perlahan, dan ia juga baru menyadari jika putrinya mirip sekali dengan Devan.
"Risa buatkan minum," kata Hanna.
"Iya," Risa ke dapur dan membuatkan tiga cangkir teh hangat, "Silahkan Tuan, Nyonya."
"Terimakasih," kata Sarah.
Setelah puas melihat kedua cucunya, Sarah dan Agatha berpamitan pulang. Walaupun hati kecil keduanya menginginkan kedua cucunya tinggal bersama mereka, bahkan Hanna juga ikut bersama mereka tidak masalah. Tapi Sarah tidak ingin mengatakan itu, sebab untuk Hanna yang susah mengijinkannya untuk bertemu dengan Derren dan Davina saja susah sangat bersyukur sekali.
__ADS_1
"Kami pamit ya Hanna, tapi kami akan datang lagi. Untuk melihat Derren dan Davina, tolong ijinkan kami," pinta Sarah.