Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Pengen


__ADS_3

Hanna mengambil tas kecil miliknya, kemudian ia memasukan ponsel dan dompet kedalam nya. Hanna menggantungkan tas kecil pada bahunya, dengan gamis panjang dan hijab yang terpasang di kepalanya ia keluar dari rumah. Mata Hanna langsung melihat Derren yang tengah asik bermain mobil-mobilan bersama dengan Devan, tanpaknya Devan kini lebih memilih bermain bersama dengan Derren dari pada bekerja.


"Derren, Mama keluar dulu ya," pamit Hanna.


Derren meletakan remote control mobil-mobilan miliknya, ia berjalan cepat mengejar Hanna, "Derren eskim ya Ma," pinta Derren sambil memeluk kaki Hanna, dengan wajahnya yang lucu itu menatap Hanna.


Hanna tersenyum dan mengacak rambut Derren, "Iya, Derren mau eskrim rasa apa?" tanya Hanna.


"Lasa cokyat aja deh," jawab Derren.


"Ok, jangan nakal ya. Nanti Mama bawa 5," kata Hanna, dan Derren mulai menjauh darinya.


"Mau di antar?" tanya Devan yang tiba-tiba bertanya.


Hanna menatap Devan dengan jenuh, kemudian ia menatap Derren tanpa perduli pada Devan, "Daaa,,,sayang nya Mama," kata Hanna tersenyum, lalu pergi begitu saja.


Devan tersenyum, tapi tidak lagi di lihat oleh Hanna. Karena Hanna sudah berjalan kaki untuk berjalan ke sisi jalanan, sambil matanya melihat kanan dan kiri menunggu angkot yang lewat. Karena tidak ada angkot yang juga lewat, akhirnya Hanna memutuskan untuk jalan kaki ke perempatan jalan di depan sana, dan akan ada ojek di depan sana.


Devan yang melihat Hanna mulai berjalan semakin tersenyum, karena ia sepertinya punya ide yang cukup baik sekali menurutnya, "Dulu pertama bertemu Hanna tidak begini, dia yang cengar-cengir tidak jelas. Dan sekarang? Ok, tidak masalah. Cinta butuh perjuangan, berjuang lebih cepat akan mendapatkan hasil yang lebih cepat pula," gumam Devan.


"Papa bicala?" tanya Derren bingung.


Devan menatap Derren, ia langsung menggendong Derren dan memasukan nya kedalam mobil.


"Tuan Devan," Risa yang melihat Devan memasukkan Derren kedalam mobil merasa panik, takut jika malah Devan membawa dan tidak lagi mengembalikan Derren.


Devan menutup pintu mobil setelah memasukkan Derren, dan ia beralih menatap Risa di depannya, "Em?" tanya Devan.


"Derren mau di bawa kemana?" tanya Risa panik.


"Tidak usah takut, aku tidak akan membawa nya kabur. Kami cuman mau jalan-jalan!" jawab Devan.


"Apa anda tidak menipu saya tuan?" tanya Risa yang masih ragu, karena Hanna bisa gila. Bila Devan membawa Derren.


"Ini anak saya! Kami cuman mau jalan-jalan," kata Devan lagi dengan tegas, agar Risa tidak lagi panik.


"O, maaf tuan. Saya cuman takut saja," kata Risa yang mulai merasa tenang


Devan masuk kedalam mobil, dan ia mulai menyalakan mesin mobilnya, "Kau pikir aku akan membawa Derren? Tentu saja tidak. Kalau aku membawa Derren, aku tidak ada alasan lagi kemari bertemu Hanna," kata Devan berbicara sendiri.


"Pa," Derren duduk manis di kursi, dan melihat Devan.


"Apa?" jawab Devan sambil mulai menjalankan mobilnya, dan hanya sekilas melirik Derren.


"Tita talan-talan?" tanya Derren masih dengan cadelnya.


"Iya Nak," jawab Devan, dan ia mengambil ponselnya. Kemudian menghubungi Farhan.


Hanna yang tengah berjalan tiba-tiba di hadang segerombolan pria bertubuh tegap, ia menatap Hanna dengan pandangan tidak sopan.

__ADS_1


"Cantik," kata Pria itu sambil berusaha mendekati Hanna.


"Jangan sentuh aku!" geram Hanna.


"Galak sekali, tapi dia cantik," kata pria satunya lagi.


Hanna mulai panik, ia melihat sekitarnya yang cukup sepi. Rasa takut kian terasa hingga tiba-tiba mobil hitam terparkir di sisi jalanan. Dan siapa lagi itu kalau bukan Devan. Devan tidak turun, ia hanya membuka kaca mobilnya saja.


"Mas tolong aku," kata Hanna ketakutan, sambil melihat Devan.


"Mama tenapa Pa?" tanya Derren yang tidak mengerti.


"Mama kamu lagi uji nyali, karena sama Papa dia berani. Tapi sama preman itu Mama mu Kao," jawab Devan santai.


"O...." Derren mangguk-mangguk seolah ia mengerti.


"Mas tolong aku!!!" seru Hanna, sambil melihat Devan.


"Cantik, kita main bareng yuk," preman itu terus mendekati Hanna.


"Jangan kurang ajar," Hanna berlari mendekati Devan, "Mas tolong aku," pinta Hanna yang berdiri di luar mobil Devan.


"Ayo dong cantik," preman tersebut tertawa lepas, karena Devan pun hanya diam saja menatap Hanna.


"Mas," pinta Hanna, dan tanpa sengaja ia memegang pundak Devan, "Aku mohon," kata Hanna dengan ketakutan.


"Maaf," Hanna menyadari kesalahannya, "Tapi tolong aku," lirih Hanna dengan semakin takut.


"Gila ini cewek, wangi banget. Jadi pengen," batin Devan. Devan keluar dari mobil, sementara Derren masih di dalam mobil.


"Mas tolong," Hanna bersembunyi di belakang Devan, dan kembali memegang lengan Devan.


"Cantik ayo kemarin, kita bersenang-senang. Dia tidak akan menolong mu sayang," ujar preman itu menatap Hanna yang masih bersembunyi di belakang tubuh kekar Devan.


"Mas tolong aku," Hanna semakin ketakutan karena Devan terlihat biasa saja, padahal preman itu sudah menatapnya dengan haus.


"Aku dapat apa kalau nolongin kamu?" tanya Devan santai.


"Apa saja!" jawab Hanna karena ia sudah sangat ketakutan.


"Benarkah?" tanya Devan tersenyum.


"Tapi enggak aneh-aneh!" kata Hanna dengan kesal.


Devan menarik Hanna yang bersembunyi di belakangnya, dan ia seakan akan memberikan Hanna pada preman itu, "Kalian mau dia?" tanya Devan.


"Mas," Hanna menggeleng, karena ia benar-benar takut. Sebab kini ia yang berada di depan Devan, sedangkan kedua lengan bagian atasnya di pegang Devan.


"Cantik.... Ahahahhaha...." preman itu tersenyum dan mulai semakin dekat dengan Hanna, "Kita bersenang-senang bro," kata seorang preman pada temannya lagi.

__ADS_1


"Tendang," Devan mengangkat tubuh Hanna saat preman itu akan memegang nya.


"Mas!" Hanna panik, karena tubuhnya di angkat Devan.


"Aku bilang tendang yang dibawah pusarnya!" kata Devan.


Buk!


Hanna yang panik memilih menurut dengan Devan.


"Au....." seorang preman yang terkena tendangan Hanna meringis, "Aduh....sakit sekali."


Dan datang yang lainnya juga sama, Devan mengangkat tubuh Hanna dan menendang bagian utamanya. Sampai akhirnya empat preman itu berjongkok karena kesakitan, sambil tangannya memegang benda keramat nya.


"Aduh," kata Hanna yang merasa horor, melihat preman itu berlari pergi dengan tertunduk.


"Kau hebat sekali," kata Devan tersenyum, lalu ia masuk kedalam mobil.


"Mas, tunggu," kata Hanna, saat Devan akan melajukan mobilnya.


"Apa lagi?!" Devan seolah tidak perduli, padahal ia sangat perduli.


"Hanna ikut," pinta Hanna dengan suara kecilnya.


"Yakin?" tanya Devan.


"Iya," Hanna mengangguk.


"Naik," kata Devan.


Hanna bergegas membuka pintu mobil, tapi tidak bisa karena Devan menguncinya dari dalam.


"Di sini sana, pintu jok belakang rusak," kata Devan. Padahal tidak, karena mana ada mobil baru pintunya rusak.


Hanna mengangguk, dari pada nanti ada preman lagi lebih baik ia ikut bersama dengan Devan, dan Hanna duduk di samping Devan. Sementara Derren duduk di pangkuan Hanna.


"Adegan tidak untuk di tiru, Ahahahah....wangi banget, sabar ya Dik. Kakak lagi usaha biar kamu enggak mati suri terus," batin Devan, dan ia tersenyum samar. Setelah itu Devan melajukan mobilnya.


Ting.


Ponsel Devan bergetar, dan ada pesan yang masuk. Devan melihat nama Farhan di sana.


[Bos, premannya minta biaya tambahan, untuk mengobati benda keramatnya agar tetap hidup dengan baik,] Farhan.


Devan tersenyum, mengingat tadi Hanna menendang cukup kuat.


[Berikan saja, kasian istri mereka kalau benda itu tidak hidup lagi,] Bos Devan.


Pesan itu di baca Farhan, sementara Devan memasukan ponselnya pada saku kemejanya.

__ADS_1


__ADS_2