Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Cinta Lama Belom Kelar


__ADS_3

Setelah pekerjaan selesai, Hanna langsung pulang ke rumah. Sesuai dengan janji yang di ucapkan oleh Hanna sebelum nya, ia akan cepat pulang bekerja untuk merayakan ulang tahun Davina.


"Mama!!!!" seru Davina dengan bahagia saat melihat Hanna yang sudah pulang bekerja di waktu yang cukup cepat, sebab biasanya pukul 01:00 begini Hanna belum pulang. Ia baru pulang saat hampir waktu magrib tiba. Dan tentu saja ini membuat Davina sangat bahagia.


"Happy birthday sayang," Hanna mulai mencium kening Davina, kemudian ia mengecup kedua pipi Davina.


"Mama Davina pengen malam ini bobo pakek tenda di taman belakang rumah," pinta Davina.


"Iya, kalau Davi maunya begitu. Mama bakalan turutin," kata Hanna tersenyum.


"Kita bikin kue sama-sama ya Ma," pinta Davina lagi.


Hanna mengangguk, di usia Davina yang baru tempat tahun ia sepertinya sudah menunjukan bakatnya. Davina sangat suka melihat nya memasak, bahkan Davina juga sering kali melihat para Art memasak di dapur. Terkadang Davina sepertinya juga ingin, tapi Hanna belum mengijinkan nya sebab alat-alat dapur masih terlalu berbahaya bagi Davina yang masih begitu kecil.


Hanna yang jarangmemiliki waktu luang kini berusaha memberikan yang terbaik untuk Davina, apapun yang di pinta Davina ia berikan. Termasuk membuat kue dan tidur di tenda untuk malam ini.


"Assalamualaikum," ucap Devan.


Davina terkejut melihat kedatangan Devan, ia melihat Devan membawa banyak paperbag di tangannya. Davina yakin itu pasti hadiah untuk dirinya, semalam Adam sudah menjelaskan pada Davina bila Devan adalah Papa yang sebenarnya dan Davina bebas meminta apa saja pada Devan. Bahkan Adam juga mengatakan jika boleh menerima apapun yang di berikan oleh Devan.


Tidak sulit untuk membuat Davina maupun Derren untuk bisa berdekatan dengan Devan, mungkin kedua nya merasa jika Devan menang orang yang cukup spesial di hati mereka, bahkan ikatan batin di antara ketiganya sepertinya cukup kuat. Hingga Davina dan Derren tidak menganggap Devan orang asing.


"Papa!!!" seru Davina, ia menjauh dari Hanna dan kini berlari mengejar Devan.


Devan berjongkok, dan dengan cepat Davina langsung saja memeluk lehernya. Bahkan Hanna dan Mama Sarah saja sampai terkejut melihat Davina yang begitu bahagia.


"Papa bawa mainan buat kamu," kata Devan menunjuk paperbag di tangannya.


"Derren ada enggak Pa?" tanya Derren, sebab ia sedang tidak berulang tahun. Jadi ia pikir pasti dirinya akan di lupakan untuk hati ini.


"Ada, ini punya Derren," Devan memberikan satu buah paperbag untuk Derren, sedangkan tiga paperbag untuk Davina yang tengah berulang tahun.


"Makasih Pa," Derren sangat bahagia saat mendapat mainan baru dari Devan.


"Makasih Pa," Davina juga tersenyum bahagia setelah menerima hadiah dari Devan, "Pa bantuin Davi bikin kue," Davina langsung menarik tangan Devan menuju dapur.


"Papa enggak bisa bikin kue," Devan menggaruk kepalanya, sebab apa yang bisa ia lakukan di dapur. Sepertinya tidak ada.

__ADS_1


"Ayo Pa, Ayo Ma," Davina langsung menarik Devan dan juga Hanna menuju dapur.


Kini Hanna sibuk membuat kue, sedangkan Davina duduk di atas meja sambil memperhatikan Mama Hanna yang sibuk mengadon kue tart.


Sedangkan Devan juga hanya diam sampai akhir tanpa sengaja Davina menyenggol dua buah telur, pecah hingga berserakan di lantai. Hanna yang tengah sibuk mengambil coklat dari dalam kulkas tanpa sengaja menginjak lantai yang licin karena telur yang berserakan di lantai, "Aaaaaaa......" teriak Hanna.


Devan yang berdiri tidak jauh dari Hanna langsung menangkap Hanna, hingga dengan refleks Devan memegang pinggang Hanna. Dan Hanna dengan cepat menarik kerah jas Devan, hingga tubuh Devan begitu condong pada Hanna.


Deg.


Entah apa yang terjadi, tapi rasanya jantung kedua berdebar tanpa bisa di tahan. Bahkan pandangan keduanya terus saja bertemu tanpa ada yang ingin memutuskannya.


"Ehem-ehem....." Adam yang dari tadi melihat dari kejauhan mulai berdehem.


"Maaf," Devan cepat-cepat menarik Hanna agar berdiri dengan baik, setelah tersadar karena deheman Adam.


"Iya," Hanna juga merasa canggung, karena tidak langsung bangun saat Devan sudah menangkapnya.


"Ahahahhaha......Cinta Lama Belom Kelar!!!!" seloroh Adam. Kemudian ia pergi begitu saja, sambil terus tertawa tanpa henti.


"Itu," Devan menunjukan wajah Hanna, ada sedikit noda di sana. Sebab tangan Hanna memang sedikit kotor dan saat mengusap wajahnya ikut menempel.


"Apa?" tanya Hanna bingungnya.


"Maaf," Devan mengusap wajah Hanna dengan tangannya.


Deg.


Hanna kembali terdiam dan menatap Devan dalam beberapa detik.


"Maaf ya, ada kotoran sedikit," kata Devan, entah mengapa jantung nya terus saja berdebar saat di dekat Hanna.


"Em....." Hanna mengangguk, dan ia baru sadar tadi Devan menyentuh nya. Dan kenapa ia tidak marah? Hanna sendiri bingung dengan dirinya.


"Mama!!!! Papa!!! Kalau liat-liatan mulu kapan kue Davina selesai!!!" seru Davina karena ia sudah tidak sabar ingin meniup lilin.


"Ahahahhaha...." Adam kembali melewati keduanya, "Itu kamar yang lama masih kosong, masuk sana!!!" seloroh Adam.

__ADS_1


Plak.


Devan langsung melempar satu butir telur pada Adam, tapi sayang lemparkan itu meleset. Hingga Devan mendesus kesal.


"Enggak kena!!! Ahahahhaha....." Adam kembali pergi, sambil membawa tawanya.


"Mas bisa minta tolong?" tanya Hanna.


"Apa?" jangan lagi tanyakan hati, sebab jantung sudah tidak karuan saat berdekatan dengan Hanna.


"Tolong tangan aku di lepas," kata Hanna, sebab dari tadi sebelah tangannya terus di pegang Devan.


"Maaf," entah sudah yang ke berapa, kalinya kata maaf keluar dari bibir Devan. Tapi saat berdekatan dengan Hanna membuat jantung Devan turus berdetak, dan tubuh yang semakin memanas.


Hanna mengangguk, "Kuenya udah jadi, sekarang kita ke taman belakang, ada Oma sama Opa udah nungguin tuh," ujar Hanna tersenyum.


"Yeeeee.....Davi di gendong Papa," pinta Davina dengan bahagia sambil merentangkan kedua tangannya.


Hanna perlahan meletakan kue tart di tangannya pada meja, makanan yang lainnya juga sudah tersusun rapi di sana. Bahkan tenda juga sudah di pasang, sebab sesuai keinginan Davina.


"Mama ganti baju dulu ya, abis itu baru deh kita tiup lili," kata Hanna sebab bajunya sudah cukup tidak nyaman untuk di pakai.


"Ya udah, abis magrib kita baru tiup lilin ya. Terus kita lanjut barbaqiu ok?" tanya Oma Sarah pada Davina.


"Oke!!!!" Davina terlihat sangat bahagia.


"Davi minta bantuin Mbak Kinan buat ganti bajunya," kata Oma Sarah.


"Mbak Kinan!!!!" teriak Davina.


"Iya Non," jawab Mbak Kinan seorang pengasuh Davina dan Derren.


"Ayah Adam kirim salam!!!" seru Davina. Padahal tidak begitu, tapi bocah itu malah mengatakan itu.


"Dasar suntulkenyut!!!" geram Adam.


"Ahahahhaha......" Davina tertawa kencang, sebab Davina mengejeknya.

__ADS_1


__ADS_2