Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Caramu gila


__ADS_3

Malam sudah larut, bahkan jam pun menunjukkan pukul 01:00 wib. Bulan yang bersinar hanya menampakan sebagiannya saja seakan menggambarkan bagaimana perasaan Hanna saat ini. Resah, bercampur gelisah beradu menjadi satu.


Dinginnya malam seakan tidak terasa lagi saat ini, padahal ia masih berdiri di balkon kamarnya dengan angin malam yang berhembus kencang. Pikiran yang jauh melayang mengingat wajah Hilman yang sangat bahagia saat akan menikah dengan nya seakan menjadi racun tersendiri, lantas bagaimana Hanna akan menjelaskan nya nanti. Apa yang akan dikatakan Hilman saat tahu jika ia sudah menikah lagi dengan Devan, tangan Hanna perlahan bergerak mengusap wajahnya dengan kasar. Saat ini ia benar-benar dilanda kecemasan yang luar biasa.


Devan yang baru saja menyusul Hanna masuk ke kamar melihat Hanna masih berdiri di balkon, tangannya perlahan melepaskan jaket kulit dari tubuhnya dan melempar dengan asal. Tinggal baju kaos berpadu celana jeans yang melekat pada tubuhnya. Hingga kaki Devan mulai melangkah menuju balkon.


"Kenapa belum tidur?" tanya Devan.


Hanna mulai tersadar ada Devan di dekatnya, dengan kesal Hanna langsung berbalik dan ingin pergi tanpa berbicara pada Devan.


"Tidak sopan!!" kesal Devan sambil memegang lengan Hanna dan tatapan mata yang tajam.


"Sama saja, tidak ada bedanya!" jawab Hanna sambil menghempaskan tangan Devan.


"Pantas kita berjodoh!!" celetuk Devan.


Hanna tersenyum miring, "Egois!!" jawab Hanna lagi dan ia naik ke atas ranjang.


Tidak lama kemudian Devan juga ikut naik ke atas ranjang, namun tanpa di duga Hanna langsung turun dari atas ranjang lalu memilih tidur di atas sofa.


"Kenapa kau tidur di sana?!" Devan duduk dan menatap Hanna.


"Bukan urusan mu!!" ketus Hanna.


"Hanna, jangan menguji kesabaran ku!!!" gerak Devan.


Hanna langsung bangun dan mendudukkan tubuhnya, matanya menatap Devan dengan tajam, "Sejak kapan kau punya kesabaran!!" kata Hanna.


"Hanna aku ini suami mu!!!"


"Cara mu gila!!" jawab Hanna.


"Hanna!" panggil Devan.


"Aku sudah tidur!!" jawab Hanna mulai kembali membaringkan tubuhnya.

__ADS_1


Devan mengangkat sebelah alisnya mendengar jawaban Hanna, bahkan ia tidak bisa marah lagi.


"Kau pilih aku yang tidur di sana juga atau kau yang pindah ke sini?"


"Tidak ada lain selain mengancam!!!" kata Hanna, "Sekarang apa yang harus ku lakukan, bagaimana dengan Mas Hilman?" tanya Hanna.


"Suami mu aku, kenapa kau pusing memikirkan dia?" geram Devan.


"Seharusnya dia yang menjadi suami ku!!" jawab Hanna yang tidak mau mengalah.


"Dia masih belum pernah menikah Hanna, apa kau tidak takut jika nantinya pernikahan mu hanya seumur jagung saja. Dia belum tahu rasanya asmara seperti apa, lalu apakah kau pikir nanti dia tidak terganggu dengan anak-anak kita. Biarkan dia mendapat wanita yang masih single, gadis yang belum pernah menikah juga," jelas Devan lagi.


Hanna terdiam dan menimbang kata-kata Devan barusan, tapi Hanna merasa tidak sepenuhnya kata-kata Devan barusan salah. Mungkin sebagian besar nya benar, karena memang Hilman pantas mendapatkan wanita suci yang masih muda agar ia bisa bahagia. Hanna akan berbicara dan berusaha menjelaskan nya nanti, berharap Hilman juga mengerti.


"Hanna!" suara Devan yang berat dan tertahan seakan menandakan ia sedang tidak ingin di bantah.


Dengan kesal Hanna bangun dari sofa, dan membawa bantal juga selimut kembali pada ranjang.


"Aku sudah lelah ribut Mas, tolong aku ingin istirahat!!" Hanna langsung menutup wajahnya dan memejamkan mata karena ia ingin tidur dengan lelap. Bahkan ia tidur miring dengan membelakangi Devan, daster panjang berpadu jilbab kurung masih melekat dengan sempurna. Bahkan ia tidak ingin melepaskan.


Suara ponsel Hanna terdengar, dengan malas Hanna mengambil nya di atas meja nakas. Dan tertulis nama Hilman di sana, tanpa pikir panjang Hanna menjawab panggilan itu.


"Assalamualaikum," kata Hanna saat panggilan sudah terhubung.


"Waalaikumusalam," jawab Hilman di sebrang sana.


"Ada apa Mas?" tanya Hanna, sambil meletakan ponselnya pada telinganya agar lebih dekat.


"Kau sedang apa, entah mengapa aku tidak bisa tidur, gelisah tanpa alasan," kata Hilman lagi.


Hanna terdiam sejenak, ingin sekali ia mengatakan nya saat ini. Tapi menurutnya tidak sopan sama sekali, dan tiba-tiba ponselnya di rebut oleh Devan. Dengan cepat Devan memutuskan panggilan telepon tersebut, dan memasukkan ponselnya kedalam laci.


"Mas!!" kesal Hanna.


"Aku ini suami mu Hanna, tidak kah kau hargai aku!!!" tegas Devan.

__ADS_1


"Huuuufff...." Hanna menarik nafas dengan panjang, "Tapi itu barusan yang menghubungi aku Mas Hilman, orang yang seharusnya menikah dengan ku. Dan aku ingin berbicara sedikit saja dengan nya Mas," jawab Hanna tidak mau mengalah juga.


"Tapi kau istri ku!" kata Devan lagi berulangkali.


"Tapi dia tidak tahu, dan karena yang dia tahu aku ini masih calon istrinya. Jadi dia harus di beritahu dulu, agar dia mengerti dan semoga saja dia tidak sakit hati!!" jelas Hanna.


"Terserah kau saja! Tapi aku tidak suka. Kau istri ku, dan kau tidak boleh berdekatan dengan laki-laki kecuali aku!" Devan kembali menarik selimut, ia tidur berbaring terlentang. Dan menatap langit-langit kamar.


"Dasar gila, kau pikir Derren itu bukan laki-laki," gerutu Hanna.


"Papa dan Adam juga laki-laki, tapi mereka itu orang atau bukan?" tanya Devan.


"Menurut mu!!!" tantang Hanna.


Berdebat dengan Hanna tidak akan menghasilkan apa-apa, hingga akhirnya Devan memilih diam dan mencoba mulai tidur dengan lelap.


Sudah terbiasa tidur sendiri, membuat Hanna tidak nyaman tidur bersama. Bahkan dengan Devan sekali pun, hingga membuatnya dari tadi menahan rasa canggung. Bahkan sampai saat ini matanya belum bisa tertidur dengan pulas, padahal waktu kini menunjukkan pukul 02:00 dini hari.


Devan sesekali menatap Hanna yang tidur memunggungi dirinya, rasanya Devan ingin sekali memeluk tubuh Hanna. Tapi ia takut nantinya ada pertengkaran lagi, malam yang semakin larut membuatnya merasa kasihan pada Hanna yang dari tadi terus saja menangis.


Begitu pula dengan Hanna, ia yang tidak bisa tidur dengan hijab dan daster panjangnya seakan membuat nya semakin sulit terlelap. Di tambah lagi pikiran kacau yang kini menerpa dirinya, bayang-bayang wajah Ibu Hilman benar-benar membayanginya.


Namun tiba-tiba tangan Devan melingkar di pinggang nya, dengan tubuh Devan juga yang semakin Devan.


"Mas!" Hanna berusaha melepaskan tangan Devan.


"Tapi sekarang kau milikku!"


"Maaf Mas, aku belum siap!!" Hanna turun dari ranjang dan keluar dari kamar.


Kakinya melangkah menuju kamar Davina, dan ia melihat putrinya yang tengah tertidur pulas. Perlahan Hanna ikut naik ke atas ranjang dan tidur di samping putrinya.


*


Lantas bagaimana dengan Hilman, apakah semua akan baik-baik saja. Atau harus ada yang menggantikan Hanna sebagai calon pengantin wanita untuk Hilman nantinya.

__ADS_1


Jangan lupa like dan Vote.


__ADS_2