
Malam harinya keluarga Arsielo Anderson mendatangi kediaman Agatha Sanjaya, karena Arsielo Anderson ingin bertemu langsung dengan Agatha Sanjaya. Orang yang dengan baik membesarkan putranya Devan, bahkan hingga memberikan pendidikan sampai jenjang S3.
"Thank you Mr. Agatha Sanjaya for raising my son," ujar Arsielo.
Agatha Sanjaya tersenyum, keduanya duduk saling berhadapan. Bahkan ia sendiri tidak menyangka bisa kedatangan tamu yang cukup mengejutkan, sebab Agatha tidak pernah membayangkan jika kedua orang tua kandung Devan datang menemuinya.
"He's like my own child," ujar Agatha sambil tersenyum kecil pada Arsielo Anderson.
Arsielo Anderson mengangguk, ia tidak percaya jika Devan di besarkan oleh orang yang sangat baik.
"Jeng, saya Citra, asli Indonesia. Saya Mom kandung dari anak saya Devan," timpal Citra, "Tapi, aku hanya mengandung serta melahirkan nya. So, he is your son," tambah Citra penuh haru.
Sarah mengusap air matanya penuh haru pula, "Dia anak kita, bahkan dia bagai malaikat dalam hidup kami," jawab Sarah lagi sambil menatap Devan.
"Iya, sekali lagi terima kasih," Citra langsung bangun dari duduknya, kemudian ia mendekati Sarah dan memeluk nya dengan hangat, "Aku ingin kita menjadi keluarga," pinta Citra.
"Tentu saja," ujar Sarah membalas pelukan Citra.
Semua mulai tersenyum, karena kini keluarga mereka lengkap dan terasa begitu hangat. Sampai akhirnya mata Sarah tertuju pada seorang wanita, "Kamu Risa bukan?" tanya Sarah yang hampir tidak mengenali Risa, sebab penampilan Risa sudah sangat berbeda. Dan dari tadi ia hanya fokus dengan Citra dan Arsielo Anderson.
Clarisa, atau Risa tersenyum. Ia mengangguk, membenarkan apa yang di katakan oleh Sarah.
Sarah menatap Citra penuh tanya, kemudian menatap Devan. Jika Risa adalah seorang Asisten, maka ia tidak akan duduk dengan manis di samping Citra. Namun siapa Risa, apakah Risa ada hubungannya dengan Devan. Atau mungkin Risa calon istri, atau bahkan sudah berstatus istri Devan. Sungguh Sarah butuh jawaban.
"Devan untuk kali ini tolong bicara, Mama tidak mau salah paham karena diam mu itu," ujar Sarah.
Devan menatap Risa, dan apa yang bisa ia jelaskan saat ini. Rasanya di sana ada Mommy Citra juga, "Apa harus Devan yang jelaskan Ma?" tanya Devan balik.
"Huuuufff....." Sarah menarik nafas, "Devan kau pilih pas bunga atau meja?!" geram Sarah.
"Tidak keduanya," jawab Devan terkekeh.
Sarah kembali menatap Citra, kemudian menatap Risa.
__ADS_1
"Dia ini putri ku Jeng, namanya Clarisa Anderson. Atau pun adik kandung dari anak kita Devan," jelas Citra.
Sarah dan Agatha cukup shock mendengar penjelasan Citra, bahkan ia masih dalam kebingungannya, "Maksudnya....?" tanya Sarah dengan gagu. Bahkan ia terus menatap Clarisa.
Arsielo Anderson tersenyum pada Agatha Sanjaya, "Jadi anak saya ini dua, Devan atau pun Alegra Anderson. Dan Clarisa Anderson, dan saat awal dulu kita pertama kali menjadi kerja sama, anda membawa Devan bukan?" tanya Arsielo Anderson, saat mengingat pertemuan pertama antara ia dan Agatha Sanjaya perihal bisnis.
"Lalu?" Agatha Sanjaya mengangguk dan ia menantikan penjelasan Arsielo Anderson, walaupun mereka pernah bertemu dalam urusan bisnis tapi mereka bukanlah teman dekat, bahkan Agatha Sanjaya tidak menyangka Arsielo Anderson pemilik perusahaan raksasa ataupun pengusaha sukses di Italia adalah Ayah kandung Devan.
"Jadi saat itu saya merasa memiliki ikatan dengan Devan, dan setelah saya cari tahu anda hanya memiliki dua orang anak. Anak pertama anda seorang perempuan, dan kedua anak laki-laki. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari tahu, dan Clarisa sengaja saya minta untuk masuk ke rumah anda. Dan saya mohon maaf karena sudah lancang, karena Clarisa mengambil banyak bukti sampai akhirnya terbukti jika Devan adalah putra saya," lanjut Arsielo Anderson, walaupun ia berbicara dengan logat bahasa Inggris tapi mereka yang mendengarkan bisa mengerti apa yang ia katakan.
"Aduh Risa, kamu itu pintar sekali ya," ujar Sarah sambil terkekeh, "Tapi saya tidak menyangka, kamu bisa masak, bisa urus bayi, bisa segalanya," kata Sarah melihat Risa dengan kagum.
"Hehehe Nyonya bisa saja," Risa mendadak malu, dan ia tersenyum.
"Aduh kok manggil Nyonya, panggil Mama seperti Devan. Kamu kan juga anak saya," pinta Sarah.
"Iya Ma," kata Risa.
"Uangnya Risa bagi-bagiin buat anak jalanan Ma."
"Ya ampun, kamu baik sekali. Semoga dapat jodoh yang baik," kata Sarah berdoa.
"Amin."
"Oma!!!!" seru Davina yang menghambur ke pelukan Sarah.
Arsielo Anderson dan Citra langsung menatap Davina, keduanya bertanya-tanya siapa anak kecil yang kini memeluk Sarah, "Dad ini wajahnya Devan waktu kecil, dan ini adalah wajah anak yang berada di meja kerja Devan," kata Citra pada Arsielo.
Sarah tersenyum dan langsung memeluk Davina, "Davina itu Grandmother, dan yang di sebelah nya Grandpa," jelas Sarah.
"Ya ampun my grandson," Citra langsung memeluk Davina, bahkan ia sampai menitihkan air mata haru. Karena kini sudah memiliki cucu, sampai berulang kali Citra terus menciumi pipi gembul Davina bergantian.
"Ya ampun, Davi udah cantik. Kan makeup Davi luntur," seru Davina, "Oma!!!! Papa!!!! hiks....hiks...." tangis Davina pecah seketika, karena di cium oleh Citra.
__ADS_1
"Ahahahhaha....." tawa yang lainnya pecah saat melihat kelucuan Davina.
"Derren," seru Risa saat ia melihat Derren, "Kamu sudah besar sekali, Tante Risa kangen," Risa langsung memeluk Derren dengan erat.
"Enggak!!!" Derren langsung menjauh, "Derren udah wangi, mau ketemu doi," kata Derren pada Risa.
Risa tersenyum mendengar jawaban Derren, bahkan anggota keluarga pun sampai tertawa dengan terpikal-pikal melihat kelucuan dia bocah yang sudah dewasa sebelum waktunya.
"Apa setiap hari mereka selucu ini?" tanya Citra, "Kamu sih Dev, selalu enggak ijinin Mom ketemu sama mereka. Padahal mereka tampan dan cantik, lucu lagi," kesal Mommy Citra mengingat Devan melarang tanpa alasan yang jelas.
"Kamu melarang nya?" tanya Sarah terkejut.
Devan mengangguk, "Devan cuman mau Hanna bahagia, mungkin dengan Devan pergi Hanna bisa bahagia," jelas Devan.
Sarah menatap wajah Agatha, kemudian ia kembali memutar leher menatap Devan.
"Di mana Ibu mereka, aku juga ingin berkenalan langsung," tanya Citra.
"Kamu mau Hanna bahagia?" tanya Sarah mencoba memberanikan diri.
"Iya," jawab Devan.
Sejenak Sarah diam, tapi kemudian ia kembali menatap Devan, "Tanpa kamu?"
"Iya," jawab Devan lagi.
Sarah mengangguk mengerti, "4 hari lagi Hanna akan menikah dengan Hilman," ujar Sarah, "Semoga kamu yakin dengan kata-kata mu barusan," tambah Sarah lagi.
Deg.
Bagai di sambar petir bersamaan hujan yang turun semakin derasnya, Devan benar-benar terkejut bahkan bagai bom yang di ledakan hingga membuatnya menjadi diam seribu bahasa.
"Mama harap kata-kata mu tadi bukan hanya sekedar kata," tambah Sarah lagi.
__ADS_1